Senin, 08 Oktober 2012
Kasur Empuk
Rabu, 02 Maret 2011
Pagi Hari Bersama Tuhan
Cicit burung terdengar riang diatap rumah,menyambut anak-anak matahari yang mulai menampakkan diri,di balik ibu awan.Kokok tuan ayam,terdengar menggema gagah sekali,dan suara itu muncul di balik telinga.Kokok tuan ayam itu sebagai doa,untuk memulai hari dengan sebuah kekuatan dalam din.Sisa angin malam,yang terlambat pulang, masih terasa mengecup semua pori di tubuh, sehingga menjadikan mereka tampak nyata. Titik-titik lampu di atap rumah,satu per satu mulai redup dan kemudian tertidur lelap,untuk kembali hidup saat kegelapan menyergap.
Setetes embun mengajak kawan-kawannya untuk datang, memandikan rerumputan yang tidak bergoyang tetapi meliuk-liukan tubuhnya,juga memberikan minum kepada helaian daun dan patahan ranting,yang masih setia pada induk pohonnya.Ratu penguasa kesegaran menari-nari di tengah pengawal udara,menyebarkan kesegaran di seluruh sudut dunia. Sisa kord jangkrik masih terdengar,mereka masih belum mau tidur, mereka masih ingin menikmati indahnya dunia,saat terbangun di awal hari. Dan katak pejantan sudah berhenti memanggil betina-betina mereka,kini mereka berlarian, beradu lompat satu sama lain. Riak air sungai,tampak gembira melihat bebatuan menjelma kembali menjadi wujudnya sendiri,setelah semalaman bebatuan itu hanya tampak seperti bayangan hitam,yang mendengkur di tengah sungai. Dan kelopak-kelopak bunga, sudah mulai membukakan mata,mengeluarkan sari yang dia punya,karena sesaat lagi, pemilik sayap-sayap indah akan bertandang ke rumahnya..Ibu-ibu awan,tampak enggan pulang,mereka menyisakan selembar semburat merah di dadanya.Dan pangeran angin malam,sudah mulai pulang ke peraduan kegelapan,karena sekarang,anak-anak pagi sedang asyik-asyiknya, menumpahkan semua sinar hangat yang dimilikinya. Cit… cit… cit Dengkuran burung hantu berubah menjadi orkestra cicit burung pipit,yang berdzikir dan bermain bersama diatap genting.Membuat tikus-tikus tertidur,dan para cecak terlelap,tetapi membangunkan sekumpulan ibu-ibu sapi,untuk siap mensedekahkan susu yang ada dalam perutnya…”
“Oh seperti itukah pagi hari itu Tuhan ?”
Pagi hari yang kau ciptakan bersama langit dan bumihanya dalam enam masa 1). Pagi hari yang datang dengan silih berganti dengan siang,yang memberikan kehangatan dan malam yang menawarkan kedamaian 2),sungguh segala puji bagi Engkau Tuhan,yang telah menciptakan dan mengatur segalanya. 3) Tanpa ada keluhan dan rintangan. Tuhan….hadirkan pagi ini kembali besok hari.
Dan aku berharap aku dapat menemukan pagi seperti yang diceritakan-Mu. Tapi ..
Ijinkan aku berlari bersama para katak itu,tanpa penyangga tubuh, yang melilit semua urt urat di tubuhku. Ijinkan aku memandikan bebatuan dengan riak air yang turun dari 7 lapis langit ciptaan-Mu 4) ,sehingga dengan air itu Engkau menghidupkan bumi beserta isinya 5) Aku ingin memandikan bebatuan itu tanpa diikuti rasa sakit di kepala ini. Aku juga ingin melihat tamu nona-nona bunga ,yang kata mereka memiliki sayap-sayap indah, oh ya Tuhan seperti apa lebah-lebah itu, yang Engkau perintahkan agar membuat sarang di Bukit dan dahan pohon 6) oh ya Tuhan , satu lagi aku sangat penasaran, secanti apakah ibu-ibu sapi yang di dalam perutnya Engkau simpankan susu yang bersih,yang selalu ku minum setiap pagi 7) . Aku penasaran sekali Tuhan, aku ingin melihat mereka smua, tetapi semuanya ingin aku lihat tanpa kabut dan titik putih ,yang melingkar di mataku…,sehingga menutup arah pandang retinaku. Satu lagi Tuhan .. aku ingin mendengar kord burung pipit yang berdzikir di atap rumah,sebelum burung-burung itu Engkau terbangkan di angkasa dengan mudahnya 8) .,dan aku juga ingin mendengar gagahnya suara tuan ayam. Dan semuanya ingin kudengar,tanpa harus ku kenakan lilitan kabel di telingaku. Oh iya Tuhan .. Bolehkah aku merasakan kecupan dari sang ratu kesegaran ? tapi kau harus mengijinkank,melepaskan kain tebal yang menutupi wujudku ini,karena dengan begitu,aku bisa dengan bebas merasakannya.
Maaf ya Tuhan , aku banyak permintaan , aku tahu kau tak pernah keberatan akan semua yang ku pinta,karena aku yakin kau mendengar semua permintaanku,dan aku sangat yakin kau akan mengabulkannya,karena Engkau Raja Maha Kaya,yang sanggup menjadikan segalanya nyata.Karena aku tahu pada setiap kali seruanku,maka Engkau akan menjawabnya dengan seratus kali jawaban 9).
Engkau kan pernah bilang “Hambaku ,aku disini…Mintalah ,Karena aku teramat malu meninggalkan kedua belah tanganmu yang terbuka, meminta kepa-Ku 10) .
Tapi kalau engkau tidak mengijinkanku ya tidak apa-apa Tuhan.. Karena aku tahu Kau tidak ingin melihatku sakit,Karena aku sangat tahu, Kau menciptakan tubuhku ini dengan anugerah-Mu,dan bukan karena main-main 11)
Aku tahu kau sangat sayag pada diriku ini..12a)
Aku rela tidak dapat melihat dan mendengar,indahnya pagi hari yang diceritakan-Mu. Aku rela Tuhan, karena penglihatan dan pendengaran yang kau berikan kepadaku , telah kau ambil kembali, dan itu bukan karena virus yang menyerang darahku, sehingga tuan-tuan dokter , harus menyuntikan jarum-jarum tajamnya ditubuhku,dan mengeluarkan darah merahku untuk dicucinya. Aku yakin virus-virus yang bersemayam dalam darahku,sedang melaksanakan amanah-Mu, 12b) .
Aku jadi iri Tuhan,aku ingin seperti virus itu,yang sangat taat kepada-Mu.Tapi hilangnya penglihatan dan pendengaranku, bukan karena virus taat itu,tapi karena Engkau mau mengambilnya kembali. Dan aku rela Tuhanku,karena penglihatan dan pendengaran itu kan milik-Mu. Tapi aku mohon Tuhanku jangan kau ambil penglihatan,pendengaran hati ini,karena aku termasuk orang yang berpaling dari-Mu,yang Kau berikan kepadaku,Dan aku sangat yakin aku bisa melaluinya,karena Engkau tidak akan memberikan beban itu, kalau aku tidak bisa memikulnya 14)
Aku hanya bisa berdoa kepada-Mu Tuhan,jadikan aku orang yang pandai bersabar dengan semua kekuranganku,jadikan akuorang yang pintar bersyukur atas pendengaran,penglihatan dan hati , yang Engkau berikan padaku,karena sudah seharusnya aku begitukan Tuhan 15) . Dan aku berharap kesabaran dan syukurkudapat mengundang keridhoan-Mu,sehingga aku dapat memperoleh Adn-Mu 16), yaitu tempat dimana aku dapat mencelupkan tanganku , diatas air yang mengalir di sungai-sungai indah, sehingga air suci itu membasahi gelang-gelang emas yang bertaburan mutiara indah, yang menghiasi tangan ini. 17)
Sekali lagi semua yang ada dalam diriku, boleh Engkau ambil Tuhan, jangankan retina dan rumah siput yang ada di tubuhku yang mau Engkau ambil,Jiwa, Raga, Nyawa dan Ruh ku, boleh Engkau ambil Tuhan ,karena semua itu kan milik-Mu. Asalkan semua itu Engkau ambil saat percikan suci air wudhu menyelimuti ragaku,saat alunan dzikirmenghiasi bibirku, sehingga menentramkan hatiku 18) .
Saat mukena putih yang disulam ibuku,menemani sholat-sholat ditengah malamku. Tengah malam yang selalu memberikan kekhusuanUntuk melantunkan doa, bagi Bunda dan Ayahandaku.Sehingga doa yang terlahir dari kekhusuan itu mengundang jentik air mata , menerobos mata butaku, dan saat hati ini benar-benar Ridho atas semua pemberian-Mu,ketika cinta serta kerinduan yang kupunya untuk-Mu, benar-benar menyelimuti jiwaku. Sehingga aku bisa bertemu dengan-Mu , ditemani Husnul Khotimah-Mu.
Sekali lagi aku rela, tidak dapat melihat dan mendengar indahnya pagi,karena Engkau selalu menceritakannya setiaphari,lewat kitab bertuliskan hurup indah, tetapi memapu menggoncangkan gunung dan membelah bumi 20) .
Kitab tersuci yang engkau turunkan kepada kekasih-Mu yang menjadi Rosul pujaanku,sang Muhammad manusia yang menjadi suri tauladan seluruh umat 21)
Ceritakan setiap hari … ya Tuhanku,Rabb Tercintaku ,,..Maukan Tuhan ?
Tuhan…
Tuhan … sepertinya ada yang salah dengan mataku !!
Aku melihat barisan rapi didepanku . Mereka sekumpulan makhluk yang tidak aku kenal..
Mereka seperti terbuat dari kaca, dan..Oh Tuhan mereka bersayap..!Indah sekali .. ohh
Subhanallah
Ada yang memiliki satu sayap….dua sayap…tiga sayap… empat sayap, bahkan ada yang memiliki beratus dan dan beribu sayap,aku tidak dapat menghitungnya Tuhan ! Indah sekali sayap mereka Tuhan. Ada yang bening , ada yang berwarna keemasan,keperakan, oh ada juga yang bertaburan pennata dengan seribu warna.
Tuhan siapa mereka ??
Apakah mereka mau mengunjungi bunga-bunga itu ?Oh Tuhan , Ada apa dengan telingaku aku mendengar suara nyanyian …Merdu sekali,tapi…itu bukan nyanyian Tuhan , itu alunan ayat Qur’an-Mu Subhanallah, siapa yang melantunkan ayat suci itu Tuhan ?
Salamun’alaikum….
Salamun’alaikum….
Salamun’alaikum…. 22)
Oh .. alunan itu berasal dari makhluk bersayap itu,mereka kini terbang mengelilingiku,
Mereka membawa pakaian sutera berwarna hijau…oh…sutera hijau itu, dipakaikannya kepadaku , halus sekali sutera ini Tuhan..23)
Tuhan siapa mereka ??
Oh… Tuhan kemana rangka besi yang menopang tubuhku,aku bisa ambruk tanpa alat itu.. Tuhan,aku tidak mau tubuhku rusak,karena ini titipan dari-Mu.. Oh..aku bisa melompat,aku bisa berlari bersama kaatak-katak itu, aku diajaknya menyusuri riak air,agar aku bisa membantunya memandikan bebatuan yang tertutup lumut-lumut hijau. Tuhan….makhluk bersayap itu mendekatiku , mereka tersenyum kepadaku,kulihat jelas sayap indahnya,Aku merabanya Tuhan .. oh… dia memelukku dan menerbangkanku , aku punya sayap Tuhan , aku terbang…bersama mereka,bersama burung-burung itu,bersama katak-katak itu. Aku terbang
Tuhan…..Tetapi …... siapa itu Tuhan ?
Siapa yang terbaring lemah dikasur itu ?
Kenapa tubuhnya rapuh sekali Tuhan ?
Siapa … ?dia tertidur, Tuhan, tetapi dia tersenyum , dan senyumnya indah sekali , sehingga membuyarkan kepucatan di wajahnya .
Tapi…kenapa orang-orang mengelilinginya menangis,apakah mereka tidak senang melihat senyum indah gadis itu ?
Tunggu Tuhan , sepertinya aku kenal siapa gadis berkerudung itu…oh,, oh,, itu aku..Itu aku Tuhan !!!!
Tunggu Tuhan aku harus mengajaknya pergi bersamaku, kan kuberikan satu sayap untuknya.
Oh Tuhan ada yang menyembunyikan senyum itu, dia menutup wajahku dengan kain putih. Dia ayahku… Dia Abiku.. !!
Abi, kenapa abi menutup wajahku.. aku ingin melihat senyum-senyumnya ?
Kenapa Abi menangis , Tuhan ??
Kenapa dia berkata Innalillahi wainnailaihirojiun !!!****
by Rika Oktavia
Selasa, 01 Maret 2011
Musashi yoshi
“Tidak bu… aku, kesiangan.. !!!”
“ Ibu… aku pergi… !!”
“Iya Bu… Dah ibu… !”
Hos.. hos… hos..., aduh cape banget.. !! Tapi, sebentar lagi aku sampai ke sekolah.. Mudah-mudahan saja Pak Guru belum datang..
“Yoshi…kenapa kamu,, sudah mendaki gunung ya… ??? Haa..” Sebagian anak-anak mengejeknya… !!!
“Yoshi…, kamu ini selalu saja sama.. !!, tidak pernah berubah, dan selalu terburu-buru”
“ Hime… ternyata kamu ya,, ? Bukannya kamu ada di Tokyo ? “ Senang bisa jumpa dengan kamu lagi ”
“ Untung saja aku tidak kesiangan,,he…kalau aku kesiangan, bisa-bisa aku di suruh keluar dan tidak bisa mengikuti ulangan ini ” Bisiknya dalam hati.. !!
Pagi anak-anak… !!!
Pagi pak guru….
Hari ini kita akan kedatangan murid baru, pindahan dari Tokyo.. !! “ Ayo nak… perkenalkan diri kamu ” ??
“Pagi teman-teman,,,??
“ Perkenalkan , nama saya Hime… “ Yatsuka Hime” Lengkapnya !! “ Senang bisa kenalan dengan kalian semua ”
“ Ayo Hime, kamu duduk disana… di dekat Yoshi”
“ Baik pa Guru.” !!! terima kasih Pak.. !!
“ Yoshi.. ternyata kita bisa bertemu lagi, Tidak keberatan kan, jika aku duduk disini ? ”
“ Tidak sama sekali ko, malahan aku senang, Lama ya tidak berjumpa ?”
“ Sudah anak-anak, tenang ya… ?” “ sekarang keluarkan kertas selembar, hari ini kita ulangan matematika seperti yang sudah di janjikan minggu kemarin”!!
Pak guru membagikan soal ulangannya kepada anak-anak.., dengan suasana tenang akhirnya anak-anak memulai mengerjakan soal yang sudah di berikan.
Satu jam telah berlalu, akhirnya semua murid harus sudah selesai mengerjakan soal tersebut dan hasil pekerjaannya mulai di kumpulkan di meja Pa Guru yang berada di depan.
“ Baik anak-anak … semuanya sudah terkumpul, Bapak bagikan hasilnya minggu depan ya…, mudah-mudahan nilai kalian baik semua . Dan sekarang kalian boleh istirahat ”
Hore… hore,, sahut anak-anak sambil keluar meninggalkan kelasnya.
Semua anak berpencar dan beristirahat. Ada yang pergi ke kantin untuk makan, ada yang pergi ke perpustakaan, ada yang ngobrol-ngobrol di taman halaman sekolah, ada yang bermain futsal di lapangan basket, dan banyak lagi kegiatan yang lainnya.
“ Yoshi… kamu mau kemana ??”
“ Aku mau ke lapangan basket dulu, aku lupa sekarang kan ada pertandingan futsal,!! Ayo, kamu ikut saja. Nonton dan dukung aku ya.. ??he,”
“ Ya udah, aku ikut !!”
Mereka berdua berjalan menuju lapangan tersebut, ternyata teman-teman Yoshi yang lainnya sudah pada kumpul.
“ Ayo Yoshi,, buruan… , kami sudah menunggumu dari tadi”!!
“ Ya maaf teman-teman, aku terlambat ”
Akhirnya pertandingannya pun dimulai. Seperti biasanya, Team Yoshi yaitu Team Fugo memenangkan pertandingan tersebut.
“ Hime, akhirnya Team kami bisa memenangkan pertandingan ini, tidak sia-sia aku mengajakmu untuk menonton dan menyemangati aku. Terima kasih ya hime…”
“ Terima kasih buat apa,, ? aku tidak melakukan apa-apa, itukan berkat usaha keras kamu dan kekompakan team kamu, serta kepercayaan satu sama lainnya. Pertahankanlah cara bertanding seperti itu. usaha keras, kekompakkan, dan kepercayaan… !!”J
“ Hime…, Ternyata kamu memperhatikannya..!!”
“ Apa… memangnya barusan aku bicara apa, ?”
Ah tidak… ucap Yoshi sambil tersenyum… !!!
Kamu pasti haus ya, yoshi… !!!? “ i..i..iya, he…
Ya udah kita ke kantin saja, mumpung masih ada waktu istirahatnya.
Ya…
Tidak lama kemudian, loncengpun berbunyi. Itu tandanya anak-anak harus sudah masuk kelas lagi. Keadaan kelas mulai kembali tenang, karena sudah ada pak guru yang akan mulai memberikan materi pelajarannya. Saat pak guru menerangkan tidak ada satu anak pun yang tidak memperhatikannya, karena guru itu killer dan anak-anak juga takut. Namun dengan begitu anak-anak bisa hidup disiplin. Dan selalu mematuhi tata tertib yang ada. Beberapa jam telah berlalu, akhirnya merekapun mengakhiri kegiatan pembelajaran di sekolah. Dan waktu juga sudah menunjukkan jam setengah satu. Itu artinya mereka sudah harus pulang, dan setelah jam segitu di larang ada murid yang berkeliaran di arena sekolah. Pintu gerbang pun akan segera di kunci.
“ Hime, kamu pulang bareng aku saja.. kebetulan arahnya sama bukan ?”
“ Ah… Tidak, aku sudah ada yang menjemput. Yoshi, kamu saja yang ikut bareng aku?”
“ Ah… Tidak, terima kasih, lagian aku juga bawa sepeda”
“ kalau begitu aku duluan ya Yoshi ?,.. Yoshi,, kamu hati-hati ya ?”
“ Ya… , Kamu juga”
Yoshi melanjutkan perjalannya dengan mengayuh sepeda sendirian. Ia tidak pernah mengenal cape, dan selalu riang gembira. Dia anak yang baik dan selalu membantu. Namun penyakit buruknya adalah selalu bangun kesiangan dan selalu terburu-buru, karena dia selalu begadang, apalagi kalau ada acara pertandingan futsal. Maklum dia sangat suka pada olahraga futsal. Akhirnya Yoshi pun tiba di rumahnya.
“ Siang Bu…. Aku pulang…!!!”
“ Eh Yoshi, tenyata kamu sudah pulang nak !! ” Bagaimana sekolahnya ? Baik-baik saja, trus tadi kesiangan tidak.? ”
“ ah Ibu sampai segitunya, biasa saja kok… Untung tadi aku tidak kesiangan dan bisa mengikuti ulangan matematika. Trus tadi juga Hime ada di sekolahan Yoshi, dia sudah pulang dari Tokyo. Dan kembali sekolah disini, kebetulan kami sekelas dan duduknya juga dekat dengan aku ! ”
“ Oh… Hime teman kamu yang waktu kecil itu ya ? ”
“ iya …., sahut Yoshi sambil membereskan pakaian sekolahnya dan menggantinya dengan pakaian buat bermain “
“ Yoshi… makan dulu, ibu sudah siapkan di meja makan”
“ makasih Bu… Aku makan… ”
“ Setelah makan, jangan lupa kerjakan PR nya dan setelah itu baru pergi ke Toko bantu ayahmu. Nanti ibu nyusul ”
“ Baik Bu…”
“ Ibu… aku sudah selesai mengerjakan PR nya, aku berangkat ke toko duluan ya ”
“ Iya nak, hati-hati di jalan ya..! Nanti Ibu nyusul ! ”
Goes…. Goes… goes…. Yoshi mengayuh sepedanya menuju ke toko.
“ Siang ayah… gimana Tokonya, ramai ? ”
“ Iya ni Yoshi Tokonya lagi ramai, dari tadi ayah sendirian. Ibu kamu tadi kesini sebentar kemudian pulang lagi mau menyiapkan makan siang buat kamu. Karena tadi pagi kamu tidak sempat sarapan dulu”
“ Oh tadi pagi, aku bangun kesiangan. Tapi beruntung tidak telat masuk kelas, he…”
“ Ya udah, sekarang kamu antarkan pesanannya Bu Sukine yang ada di jalan sebrang sana ”
“ Baik yah…”
Hari sudah semakin sore, tokonya Pa Musashi juga akan segera tutup, Yoshi juga segera membantu ayah dan ibunya membereskan toko.
“ Ayah… Ibu…. Aku pulang duluan ya, hari ini ada jadwal latihan futsal di lapangan dekat jalan raya”
“ Pulangnya jangan larut malam ya… kan kamu harus belajar buat besok ? ”
“ Siap Bos…..”
Yoshipun kembali mengayuh sepedanya menuju lapangan futsal tersebut. Dan kemudian Yoshi juga sampai di tempat yang di tuju.
“ Lagi-lagi kamu telat Yoshi…”
“ Hime ko kamu ada di sini ? tapi aku senang ko, jadi ada yang menyemangati.. he”
“ iya.. tadi aku lihat banyak orang, jadi aku kesini saja. Ternyata ada jadwal latihan futsal ya.., tapi aku tidak bisa lama-lama di sini, sebentar lagi ayah pulang. Dan sekarang juga aku mau pulang. Oh iya Yoshi… semangat ya…” Dah Yoshi… !
“ Dah Hime…”
“ Yoshi… ayo buruan kesini, sahut semua teman-temannya yang sudah menunggunya”
Akhirnya merekapun memulai latihannya. Mereka sangat bersemangat, dan saling mempercayai, serta mereka juga kompak.
“ Teman-teman, bagaimana kalau kita ikut kejuaraan nasional dalam turnamen Futsal seasia”
“ Ah kamu ini Yoshi, mimpinya yang bukan-bukan saja ”
“ Ih tidak ada yang tidak mungkin kan, selama kita terus berusaha dan selalu memberikan yang terbaik kepada supporter kita”
“ iya juga ya Yoshi,.. kalau begitu , jika ada kesempatan acara tersebut jangan sampai kita lewatkan dan kita harus ikut dan selalu siap.”setuju teman-teman…?
“ ya,… kami setuju”
“ Baiklah hari semakin gelap, lebih baik kita pulang saja ”
Akhirnya merekapun bergegas pulang ke rumahnya masing-masing.
“ aku pulang.. , sambil membuka pintu dan menyimpan sepedanya…”
“ Segera mandi dan jangan lupa belajar, sahut ibunya Yoshi… !
“ Baik Bu….,,”
“ Ah aku mau mandi dulu, gerah nich…. Pasti segar kalau sudah mandi ”
Setelah mandi, Yoshipun langsung makan dan beres-beres kamar, kemudian dia mulai serius untuk belajar. Dan tidak bisa di ganggu. Saking seriusnya, dia tidak tahu waktu. Dan saat dia lihat jam dinding di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“ Aduh… sudah malam, aku tidur dulu ah, biar besok tidak kesiangan, dan bisa menjalankan sepedanya dengan tenang dan tidak terburu-buru ”
Akhirnya… tepat jam sebelas malam, Yoshipun tidur. Dan lampu kamar juga mulai di padamkan. Beberapa jam kemudian, terdengar suara…. Kringg… kringg… suara beker kembali membangunkan Yoshi. Dan untuk yang sekarang ini, Yoshi langsung bangun dan segera bergegas pergi ke kamar mandi.
Hidupnya penuh dengan semangat . Seperti halnya dia semangat kalau sudah berhadapan dengan yang namanya Futsal.
“ Pagi Bu….,? Yoshi menyapa ibunya yang sedang masak di dapur.
“ Pagi juga,,, Tumben pagi-pagi kamu sudah bangun Yoshi..”
Yoshi pun tersenyum… !! kemudian dia juga sarapan bareng ayahnya yang akan pergi ke Toko. Setelah selesai sarapan, Yoshipun berangkat ke sekolah.
“ Ibu… aku pergi..”
Hari ini, Yoshi mengayuh sepedanya dengan santai dan tidak terburu-buru.
“ Pagi teman-teman…?” Yoshi sudah sampai di sekolahnya.
“ Pagi Yoshi…, katanya hari sabtu bakalan ada acara seleksi futsal untuk di bawa ke liga Futsal se asia yang akan diadakan di Tokyo ?”
“ Bagus itu, sahut Yoshi, pokoknya kita jangan sampai ketinggalan ”
“ Baiklah teman-teman, kita semangat ya.. , o ia… semua anggota Team kita sudah tahu berita ini, Hatori.. minato…shiroi.. matsuka , dan yang lainnya ?”
“ sepertinya sudah..”
“ Kalau begitu.. baguslah ”
Teng….teng… teng… suara lonceng berbunyi dan murid-murid juga semuanya masuk kelas.
“ Pagi Hime…”
“ Pagi juga yoshi… , o ia Yoshi Team kamu akan ikut seleksi itu ya.. ? ”
“ iya Hime…, doa kan team aku selalu ya..? ”
“ Tentunya, aku akan memberikan yang terbaik. Dan kamu juga harus berusaha untuk memberikan yang terbaik juga.”
“ Aduh… rasanya ingin cepat-cepat hari sabtu, tapi… sebelumnya kami harus menyiapkannya semaksimal mungkin”
Beberapa jam kemudian, waktu menunjukan pukul setengah satu. Dan itu tandanya sudah waktunya anak-anak mengakhiri pembelajarannya di sekolah. Merekapun bergegas pulang .
“ Yoshi… berikan yang terbaik ya kepada kami semua, ucap Hime teman baiknya Yoshi
“ Tentu Hime…”!! Hime… duluan ya…?!!
“ Aku pulang…”
Seperti biasanya, Ibu Yoshi sudah menyiapkan makan siang buat Yoshi. Dan juga selalu memberikan sapaan yang hangat kepada Yoshi.
“ Bu… aku dan team futsal akan mengikuti seleksi Futsal se asia, mohon dukungan dan doanya ya Bu…”
“ Tentu Yoshi… Ibu pasti akan memberikan yang terbaik buat kamu nak…”
“ Baiklah Bu… Yoshi ke Toko dulu ya ”
“ Ayah… ayah, dimana sech ayah itu ?”
“ Ada apa sich Yoshi teriak-teriak… !!”
“ Yah… beberapa hari ini mungkin Yoshi hanya sebentar bantu-bantu ayah, karena Yoshi harus rajin latihan Futsal, kan Team Yoshi akan ikut seleksi Futsal se asia ”
“ Ya udah… tidak apa-apa kok, yang penting Yoshi berikan yang terbaik kepada kami semua ”
“ Terima kasih ayah…”
Beberapa hari telah berlalu, akhirnya hari itupun tiba. Yoshi dan teman-temannya mengikuti seleksi itu. Dan ternyata hasilnya langsung di beritahukan… kemudian,, Deg…deg…deg… semua jantung pemain berdebar kencang. Akhirnya team Fugo di sebutkan sebagai posisi yang ke tiga dari sepuluh besar. Bukan main senangnya para pemain itu. Mereka pulang dengan memberikan kabar yang membahagiakan kepada keluarganya.
“ Ibu… Ayah… Team kami berhasil dalam seleksi itu, dan bisa bertanding di Liga Asia”
“ Syukurlah Yoshi, kalian semua telah memberikan hasil yang membahagiakan, dan teruslah seperti itu, dan disana lawan kamu akan semakin kuat. Jadi berusaha lebih keras lagi ”
“ oh iya, ayah … ibu … minggu depan aku sudah harus berangkat, aku akan meninggalkan kalian berdua. Rasanya rumah ini nantinya akan sepi ”
“ Tidak apa-apa kok Yoshi, kami mengerti impian kamu. Dan kami juga akan memberikan yang terbaik buat kamu. ”
Hari itu telah tiba, Yoshi dan Teamnya akan segera berangkat ke Tokyo, mereka saling berpamitan kepada keluarganya.
“ Yoshi… hati-hati ya…, Ucap Hime sambil sedih merelakan kepergian temannya ”
“ iya Hime…., jaga dirimu juga ya… di sana aku akan selalu merindukanmu ” Yoshi juga tampak sedih.
“ Dulu aku yang meninggalkan mu, sekarang kamu yang pergi meninggalkan aku.”
“ Tapi ini kan buat sementara waktu, aku juga pasti akan kembali ”
“ Iya aku tahu…”
“ kamu harus yakin hime…?”
Yoshi…. Cepat,,!!! Teman-teman yang lainnya sudah menunggunya di dalam Bus .!!
“ Baiklah semuanya,aku pergi ya…!!” Dah ayah, ibu, hime… semuanya jaga diri kalian baik-baik?
“ jaga dirimu juga”
Akhirnya Yoshipun pergi meninggalkan semuanya. Untuk meraih impiannya, dia akan berjuang bersama teman-temannya disana. Berjuanglah Yoshi… Semangat dan jangan menyerah…!!!
Karashimori
Dahulu kala ada sebuah kerajaan yang megah dan luas. Tepat di pertengahan kota letaknya. Kerajaan itu bernama karashimori. Kerajaan itu di pimpin oleh raja yang bijaksana dan baik hati tentunya. Ia mempunyai dua orang anak. Anak yang pertama adalah seorang pangeran yang gagah berani, mewarisi sifat ayahnya. Sedangkan anak yang bungsu adalah seorang puteri cantik yang lugu, mewarisi sifat ibunya. Mereka hidup rukun dan saling menghormati satu sama lainnya. Mereka juga sangat dekat dengan rakyat biasa. Walaupun mempunyai tahta, namun tidak menjadikan mereka tinggi hati dan besar kepala. Sampai suatu saat terdengar berita bahwa ada orang yang iri atas kemakmuran desa tersebut, dan mereka mengajak perang, dimana yang kalah harus menyerahkan kerajaannya kepada pihak yang menang. Raja tidak setuju, namun tanpa kesepakatan apapun tiba-tiba musuh menyerang kerajaan itu. Dan perangpun akhirnya dimulai.
Serbu…… Ucap musuh yang hendak menyerang itu,, Akhirnya perangpun dimulai. Dengan dipimpin oleh Raja dan pangerannya. Raja itu bernama Shiroyka dan pangeran itu sendiri bernama Itsuka.
Pangeran Itsuka sangat lihai sekali memainkan pedangnya, apalagi ayahnya karena dia sendiri yang mengajari pangeran untuk bermain pedang. Dengan simpati dari rakyat dan partisipasinya juga begitu banyak. Raja dan Pangeran serta rakyatnya berjuang keras dalam peperangan ini, demi mempertahankan kerajaan yang selama ini telah dia bangun dan untuk kelangsungan rakyat yang ada. Maka usaha keraspun membuahkan hasil yang begitu baik. Kelompok musuh dapat dikalahkan oleh kerajaan Karashimori dan rakyatnya. Dengan begitu kerajaan itu juga bisa hidup dengan damai dan sejahtera.
When the Miracle has Came
Jauh dari keramaian kota dan kebisingan orang-orang, tinggalah seorang gadis yang baik hati dan lugu, bersama seorang bibi yang detia menemani dan selalu membantu gadis itu setiap harinya. Kesetiaan dan kesabaran bibi itu, mampu menjadikan sang gadis bertahan di rumah yang mungil, indah dan cantik itu. Terlepas dari keluarganya yang jauh disana. Walau demikian, sesekalli gadis itu juga suka pergi ke rumah orang tuanya.
Gadis itu bernama Miyuki Hachika, bersama seorang bibi yang bernama Matsuko. Tinggal berdua di rumah yang sederhana dan indah, disekitar pegunungan yang jauh dari kota. Rumah itu dirawatnya bersama-sama. Disana tanaman tumbuh dengan suburnya. Miyuki dan bibi Matsuko juga menanam sayur-sayuran di halaman belakang rumah. Kemudian di halaman depan, tumbuhlah berbagai jenis bunga dengan beralaskan rumput yang menghijau. Setiap pagi dan sore mereka selalu menyramnya dengan penuh kasih sayang. Sehingga bunga-bungapun seolah tampak riang gembira dan selalu tersenyum. Tidak jauh dari rumah, terdapat sungai yang bersih dengan bebatuan yang besar-besar dan ada juga ikan-ikan cantik yang bermain dibalik bebatuan tersebut. Sungguh suasana yang indah dan menenangkan hati.
“non Yuki bangun sudah siang, bukannya hari ini adlah hari pertama non mengajar di SD Kajo? Tu bibi sudah siapkan air panasnya . saat non mandi, bibi masak buat sarapannya. Cepaan bangun ya non?” Ucap bibi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya non Yuki.
“terima kasih bi, aku segera bangun. Bibi sudah mandi belum?” non Yuki bertanya kepada bibi sambil membereskan tempat tidurnya.
“ dari tadi juga bibi sudah mandi ”
Sambil menuju ke kamar mandi non Yuki berkata kepada bibi “ ya sudah kalau begitu nanti kita sarapan bareng”
Tidak lama kemudian dari percakapan itu, nona Miyuki pun mandi dan bibi Matsuko mulai memasak. Setelah beberapa menit, Miyuki juga selesai mandi dan langsung bergegas ke kamarnya untuk menata diri dan berpenampilan layaknya seorang guru SD.
Sambil sarapan, non yuki pun berbincang-bincang dengan bibi yang setia menemaninya. “ Bi, tidak terasa ya sudah lama kita tinggal di tempat ini. Sampai akhirnya aku juga mempunyai pekerjaan. Padahal rasanya aku baru saja ujian siding. Kemudian terakhir merasakan kebersamaan dengan keluarga adalah saat di wisuda dulu ya?, dulu aku tidak mau jauh dari orang tua. Sampai kuliahpun aku tidak berani ngekost dan memilih pulang pergi sendiri saja, dengan mengendarai motor. Tapi sekarang aku sudah berani tinggal di tempat yang bukan sekedar jauh dari keluarga. Terima kasih ya bi, bibi selalu menemani aku.” Ucap Yuki sambil membayangkan masa-masa kuliah dan bersama keluarga dulu.
Bibi juga mulai pembicaraannya dengan penuh harap dan meyakinkan agar non Yuki selalu bertahan untuk mencari kebahagiannya sendiri. “iya non, sama-sama. Bibi juga senang bisa mengurus dan selalu menemani non. Non juga jadi terlihat lebih dewasa. Oh iya non, pesan bibi dari mamah non adalah jangan sedih, dan harus selalu sabar dalam mendidik anak-anak di sekolahan nanti. Jangan cepat marah, he…”
“iya bi, aku juga masih ingat selalu perkataan dan pesandarimamah itu. Aku pasti berusaha. Bi, nanti pas aku menerima gaji pertama, kita main ke rumah mereka ya ? sudah lama tidak main kesana !” ajak non Yuki kepada Bibi dengan wajah berseri-seri dan senyuman yang tulus.
“ Dengan senang hati bibi pasti ikut dengan non. Oh iya non, mau bawa bekal tidak buat istirahat di sekolah nanti ?”
“Boleh, roti yang special ya…?? Bi, habiskan dulu sarapannya?”
“baik non,,”
“ oh iya bi, bunga-bunga dan sayuran yang di belakang sudah disiram belum ?. mungkin sekarang ini aku belum sempat menyiram bunga-bunga dan halaman, tapi kalau sore aku pasti bisa. Kan hanya sampai siang saja, kecuali ada jam tambahan untuk anak-anak tertentu. Maaf ya bi, jadi merepotkan bibi. Padahal waktu kemarin-kemarinkita selalu mengurusnya bersama-sama” Dengan sedikit menyesal, non Yuki menyerahkan pekerjaan menyiram bunga-bunga kepada Bibi Matsuko.
“ Tidak apa-apa non, jangan Memikirkan hal tersebut. Sekarang focus saja pada pekerjaannya. Biar bibi yang mengerjakannya.”
“ okee… bibi memang yang terhebat. Ini rotinya sudah kan ? aku bawa ya ?.. pasti enak, dan nanti wajah bibi pasti hadir… hehe. Kalau begitu aku berangkat ya? Dah bibi…”
“iya, hati-hati di jalannya. Semoga sukses, jangan lupa berdoa”
Non yuki kembali lagi ke rumah dan mengajak bibi untuk menemaninya “ eh bi, antar yu… aku kan tidak berani jalan sendiri. Sampai ke jalan raya saja, dari sana aku pasti bisa sendiri “
“ iya non, tunggu sebentar bibi mau kunci rumahnya dulu.”
“ ayo bi, kita berangkat ?”, seperti yang tergesa-gesa.
“makannya, cepat-cepat punya pacar dong ?, biar nanti bisa di jemput dan pergi bareng dia. Dan dapat terlihat lebih dewasa benaran. Kalau dengan bibi terus, terlihatnya seperti anak kecil kan ?” munuju jalan raya.
Non Yuki juga menjawabnya dengan penuh harap.” Iya juga sih bi, tapi ya itu… aku tidak tahu dengan perasaan aku. Seandainya saja cerita dalam komik itu bisa terjadi pada aku juga, pasti aku akan bahagia. Dicintai oleh orang yang kita sukai. Tapi bi, aku belum pernah merasakan indahnya yang demikian. Aku memang pernah menyukai seseorang, tapi aku tidak pernah disukai oleh dia. Begitulah seterusnya, sampai akhirnya aku juga membuang perasaan seperti itu. Dan aku juga tidak menyadari kalau usia aku sudah menginjak usia yang dewasa, dan harusnya bisa bertanggung jawab, termasuk bertanggung awab pada persaan sendiri.”
Untuk meyakinkan non Yuki, bibi pun menasehati dan menjelaskan sesuatu kepada non Yuki.” Non, bibi yakin suatu saat nanti, non akan menyukai seorang pemuda yang kemudian pemuda tersebut menyukai non juga, bahkan dia akan mampu menjaga non dan mencintai serta sayang pada non dan keluarga non”
“begitu ya bi.. seperti di komik saja !1, bi itu ada ojeg, aku berangkat ya ?”
“iya non, hati-hati… sambil menyelam minum air..hehe…”
“ apaan sih si bibi itu, tidak mengerti.”
“ Begini non, sambil mengajar bisa mendapatkan seorang pacar, sahut tukang ojeg menyambung pembicaraan non yuki dengan bibi matsuko”
“ dasar orang-orang senang ya mengejek aku. Ke SD Kajo ya pa ?”
“ siap non.. !!” non, sudah sampai nih”
“ terima kasih ya pa.. ni uangnya”
Sejenak Yuki terdiam, melihat suasana SD yang berbeda dengan kehidupannya yang sekarang. Kebiasaan Yuki hidup berdua dengan bibi Matsuko juga berpengaruh. Disini, Yuki harus terbiasa mendengarkan dan melihat keramaian. Karena dia sudah menjadi ibu guru Miyuki, yang pekerjaannya adalah mendidik anak-anak lebih dari satu, dengan sikap dan sifat yang berbeda-beda. Memahami tingkat perkembangan anak adalah hal yang diajarkan waktu kuliah dulu.
“ Ramai sekali ya, pasti menunggu bel berbunyi. Orang tua murid juga ada, mngkin mereka menemani anaknya yang baru masuk kelas satu. Waah yang jualan juga banyak, pasti karena anak-anak suka jajan.. hehee. Aduh, ngomong-ngomong aku belum tahu ruang kepala sekolah. Dimana ya.. ?” ucap Yuki dalam hati.
“ Pagi Bu guru… ?” anak-anak menyapa Yuki
“ Pagi juga…” anak-anak mulai mengetahui aku uru ya, berarti penampilan aku sudah seperti seorang guru… hehehee.. “syukurlah”, ucapan dalam hati
Terlihat ada pemuda yang umurnya tidak jauh dari Miyuki dan mulai menyapa sambil bertanya. “Pagi… Bu Miyuki ya ?”
Dengan terharu Yuki menjawab. “iya, anda siapa ya ?, maaf baru pertama datang kesini”
“saya, Akio guru kelas 5a.? saya tahu saat rapat kemarin kalau hari ini akan kedatangan guru baru. Saya fikir karena baru lihat anda, jadi saya beranggapan anda yang namanya Miyuki, ternyata benar. Salam kenal ?” ucap Akio sambil tersenyum ramah.
Dengan malu-malu Yuki menjawab dan mulai bertanya kepada Akio,” salam kenal juga… maaf, boleh bertanya ?”kalau ruang kepala sekolah itu sebelah mana ?. saya bingung mencarinya”>
“oh kalau begitu, biar saya antar saja ya ?”
“iya, maaf jadi merepotkan anda”. ucap Yuki sambil melangkahkan menuju ruang kepala sekolah.
“tidak apa-apa, itu sudah menjadi kewajiban saya “. “nah itu dia ruangannya, kita sudah sampai, silahkan ke dalam”
“terima kasih pa Akio, senang berkenalan dengan anda”
“sama-sama senang juga bisa kenaldengan anda “. Akio mulai melanjutkan langkahnya ke ruang guru.
Percakapan Miyuki dengan Akio, menjadikan harapan yang besar untuk membukakan perasaan hati Miyuki akan hadirnya kembali kehidupan yang penuh dengan cinta. Namun tidak semudah itu, siapa tahu itu hanya kebetulan saja. Dan khayalan dicintai oleh orang yang kita sayang kita sukai hanya ada dalam cerita komik.
“tok…tok…tok.. permisi pa ?” ucap Yuki sambil membuka pintu dan menyapa Bapak Kepala Sekolah.
“silahkan masuk, silahkan duduk “
“terima kasih …”
Bapak Kepala Sekolah langsung memulaipembicaraannya. “ Bu Miyuki ya, selamat bergabung dengan sekolahan kami. Saya harap, ibu betah mengajar disini. Dengan ketidaksempurnaan fasilitas yang ada. Saya menempatkan ibu Miyuki di kelas 5a, lebih lanjutnya anda bisa berkonsultasi dengan Pa Akio guru yang sama mengajar di kelas 5”
“baik pa, saya akan mengabdi di sekolahan ini. Sekali lagi terima kasih banyak”
Sambil bersalaman, Bapak Kepala Sekolah berkata.” Sama-sama, terima kasih juga atas kerja samanya”
“baik pa, saya permisi dulu ?”
Mengakhiri pembicaraannya dengan Yuki pak Kepala Sekolah mempersilahkan Yuki untuk keluar dari ruangan Kepala Sekolah.
Miyuki berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah, sambil melihat-lihat lokasi sekolahan disekelilingnya. Situasinya sudah mulai tenang. dikarenakan bel sudah berbunyi. Miyuki meneruskan langkajnya untuk mencari kelas 5a. berhubung Miyuki belum tahu kelas 5a itu berada di sebelah mana, maka Miyuki memutuskan untuk ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru, miyuki baru sadar kal dia belum mengetahui mejanya berada di sebelah mana. Akhirnya Miyuki juga keluar lagi dan mulai mencari kelas 5a.
“bu… ibu Miyuki, tunggu sebentar..!!” ucap Akio sambil mengejar Yuki
“Ef, pa Akio, Kebetulan, saya dari tadi mencari kelas 5a itu sebelah mana ya ?”. yuki bertanya lagi kepada akio.
Mereka mulai berbincang-bincang sambil melangkahkan kakinya menuju ke kelas. “oh, ibu Miyuki juga mengajar kelas 5a ya, kebetulan kelasnya bersebelahan dengan kelas yang di ajar oleh saya. Kita kesana bareng-bareng saja ya ?”
“iya, terima kasih banget ya,,,, dari tadi saya selalu merepotkan anda. Anda baik ya?”. Yuki memuji Akio dengan polos dan ketulusannya.
“ah biasa saja, itukan sudah menjadi kewajiban kita kepada sesama rekan kerja”
“iya sih, tapi anda beda !!”, ucap Yuki meyakini Akio.
“Masa sih, jadi malu…” “nah Bu, ni sudah sampai. Tu kelas anda”, sambil menunjuk kelas 5a.
“oh iya, jangan panggil Miyuki, panggil saja Yuki”
Dengan senyumannya, Akio berkata. “siap Bu guru…”
Miyuki mulai memasuki kelas, dan bertemu dengan anak-anak yang menjadi muridnya. Terlihat dalam raut wajah Yuki yang memancarkan aura kebahagiaan berada di sekolah itu.
“pagi…. Anak-anak “. Yuki mulai mnyapa muridnya
“pagi Bu….”, teriakan anak-anak yang terlihat senang dengan kedatangan Bu Miyuki.
Sambil perkenalan. Yuki memulai pembelajarannya. “anak-anak sudah tahu bekum siapa nama ibu, perkenalkan nama ibu adalah Bu Miyuki. panggil saja Bu Yuki. Mulai hari ini, ibu akan mengajar disini. Bersama-sama kalian, kita belajar dengan baik ya?” “Nah anak-anak, pelajaran pertama kita adalah bahasa Indonesia, kita mulai dengan menulis dan mencertakan sebuah cerita. Anak-anak pasti senang dengan yang namanya cerita, dan mungkin di kelas-kelas sebelumnya telah belajar tentang cerita. Sekaang kalian keluarkan peralatan tulisnya. Pelajaran akan segera dimulai”
“baik bu….” Ucap anak-anak.
“Baik anak-anak, cerita itu banyak jenisnya. Ada yang berasal dari pengalaman kita sendiri, ada juga hasil rekayasa dan khayalan saja, ada juga yang mencertakan tentang hewan, dan banyak lagi, tadi ibu sudah menjelaskan sekilas. Sekarang tugas kalian adalah menulis sebuah cerita dengan tema bebas, kalu ada yang mau di tanyakan acungkan tangannya”
“bu… ceritanya tentang apa.?”. Tanya salah satu murid yang ada.
Dengan penuh kebahagiaan. Yuki memjawab pertanyaan muridnya.”terserah kalian, tapi lbih baik adalah yang menurut kalian mudah. Dan menurut ibu lebih mudah itu adalah cerita tentang pengalaman pribadi”
“baik bu..”
Teng…. Teng…. Teng…. suara lonceng berbunyi membangunkan pikiran anak-anak untuk segera beristirahat.
“bu… sudah bel?”, anak-anak mulai rebut ingin keluar.
“baiklah kalau begitu, pelajaran hari ini cukup sekian dan untuk tugasnya, di PR kan saja. selamat istirahat ya anak-anak”
“Bu yuki, sudah makan belum ? kita makan bareng yu di kantin sana”, ucap Pa Akio yang mulai menghampiri Bu Yuki.
“Baiklah, terima kasih banyak. Oh iya Pa akio..
Memotong pembicaraannya Akio menyanggah.” Ach jangan panggil Pa Akio, panggil saja Akio.. lagian seperti umur kita tidak jauh beda kan?”
Iya pa, maksud saya Akio…”. Tapi Akio saya belum tahu dimana meja saya. Tadi juga saja mau ke ruang guru, tapi berhubung mejanya tidak tahu jadi saya keluar lagi dan untungnya bertemu dengan anda, sehingga saya datang ke kelas dengan tepat waktu. Saya berhutang banyak kepada anda.”
“oh itu hal yang mudah, kalau tidak salah meja anda ada di sebelah saya. Untuk lebih jelasnya nanti kita cari. Sekarang kita ke kantin saja dulu”
“Akio, tadi saya membawa bekal dari rumah. Bibi yang membuatkannya. Kira-kira sekarang bibi sedang apa ya ?”. (uca yuki dalam hati)
Dengan hangat Akio bertanya sesuatu kepada Yuki. “Yuki sangat sayang ya pada bibi, selain bibi ada siapa lagi di rumah? Dan kalau boleh tahu alamatnya dimana?”.
Keyakinan Yuki, kalau Akio itu adalah pemuda yang baik dan selalu membantunya. Sehingga dia memberitahukan alamatnya kepada Akio. “ Saya tinggal berdua, di daerah yang terjauh dari kebisingan dan keramaian. Saya juga tidk tahu sih alamatnya, yang jelas hanya ada rumah saya dan tempatnya juga sepi dan damai. Sebenarnya saya merahasiakan keberadaan rumah itu, karena takut ada orang jahat yang datang kesana. Berhubung saya percaya kepada anda, oleh karena itu saya beritahukan ini kepada anda.”
“Yuki, bagaimana kalau pulangnya saya antar”. Ajak Akio, dengan tatapan ketulusan.
“ah jangan, itu merepotkan. Dari tadi saya sudah banyak merepotkan anda”
Untuk meyakinkan Yuki. Akio berkata “tidak apa-apa, lagi pula jalurnya sama kan?”
“iya juga, kalau begitu baiklah”. Ucap Yuki sambil tersenyum menyiakan tawaran Akio.
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Kembali meributkan suasana anak-anak yang sudah kangen kepada rumah dan orang tuanya, anak-anak yang sudah mulai bosan. karena seharian mereka berfikir dan belajar. Bel yang kembali membuat anak-anak tertawa gembira, karena sbentar lagi mereka akan makan masakan ibunya.
Sesuai dengan janjinya, Akio juga mengantarkan Yuki pulang.
“Akio, apa tidak merepotkan dari tadi membantu saya?, tapi kalau bukan Akio, saya dibantu oleh siapa ya, kan belum ada yang kenal. Beruntung sekali bisa kenal dengan Akio. Seperti di komik saja, tapi kalau akhirnya mungkin tidak sama seperti yang di komik. Indah ya, cerita di komik itu. Saya juga suka iri, dengan kisah-kisah cintanya. Komik, ataupun dongeng, semuanya selalu berakhiran dengan kebahagiaan.”Ucap Yuki, dengan tidak sadar kalau dia sudah bercerita tentang hati yang selama ini selalu kesepian.
“oh jadi begitu ya…? “. Akio menghentikan kendaraannya dan menatap tajam mata Yuki.
“Tidak, ini tidak mungkin. Ini hanya mimpi. Tolong jangan sakiti aku..!1”. yuki gugup dan mau menangis.
“Hai… kenapa takut?, jangan takut..! Aku tidak akan menyakitimu, aku akan melindungi kamu.” Ucap Akio sambil memeluk Yuki dengan penuh kasih sayang dan meyakinkan Yuki untuk percaya kepadanya.
Sekitar setengah jam perjalan, akhirnya merekapun sampai juga ke rumah Yuki, dan seperti biasanya bibi Mitsuko sudah siap menyiapkan makan siang buat non Yuki.
“Ayo Akio, masuk… kita makan siang dulu ya ?”
“iya, baik. Terima kasih banyak “ucap Akio sambil menuju ke dalam.
“maaf ya, ruangannya tidak luas dan tidak megah. Sederhana…” Akio merendah tentang keadaannya.
“ah tidak.. kita harus bersyukur tentang apa yang kita miliki, jangan pernah membanding-bandingkannya dengan orang yang lebih dari kita. Kita harus selalu melihat orang lain yang kelaparan, yang tidak mempunyai rumah. Mereka gelandangan, mereka kepanasan, dan mereka juga akan kedinginan dan kehujanan, karena mereka tidak mempunyai tempat berteduh. Dengan begitu kita tidak akan mengeluh dan selalu beruntung serta bersyukur kepada yang Maha Kuasa. Kamu mengertikan Yuki ?” Akio sedikit menasehati Yuki.
Bibi juga memberikan pendapat.” Iya non, apa yang di bilang oleh pemuda itu sangat benar.”
“iya…iya aku salah.. terima kasih ya semuanya…?” jawab Yuki sambil tersenyum.
Beberapa jam telah berlalu, Akio juga sudah pulang. Dan seperti biasanya di rumah hanya ada Yuki dan Bibi Matsuko. Hari-hari Miyuki sudah mulai membaik. Tidak terasa sudah satu bulan Yuki mengajar. Di sekolah juga Yuki sudah akrab dengan rekan guru yang lainnya. Sesuai dengan janjinya. Yuki juga pergi ke rumah orang tuanya. Namun, bukan hanya berdua saja dengan Bibi Matsuko, Akio juga ikut. Karena setelah seminggu mereka bertemu, mereka pun akhirnya jadian. Jadi kira-kira mereka hubugan baru sekitar 3 minggu. Mituki senang, karena dia bisa merasakan indahnya cerita dalam komik yang bisa menjadi kenyataan. Akio cinta mereka tulus. Ketulusannya menjadikan mereka selalu bahagia. Dan sekitar 8 bulan pacaran, mereka juga melangsungkan ke jenjang pernikahan. Rumah tangga mereka sangat rukun. Sekarang rumah yang ada di sekitar pegunungan itu dihuni oleh 4 orang, yaitu Akio, Miyuki, Bibi Matsuko yang masih setia menemani mereka dan Ami, anak laki-laki mereka. Nama yang diambil dari awalan nama ayah dan ibunya.
Sekian lama memendam perasaan tentang hatinya. Kebiasaan membaca komik, dan selalu senang dengan yang namanya cerita. Miyuki sangat mencintai Akio, begitu pula sebaliknya. Dari awal bertemu, Yuki sudah suka kepada Akio. Namun semuanya disembunyikan saja dan berusaha untuk tidak dimunculkan. Karena takut dia sudah salah menyukai Akio. Tapi ternyata Akio juga menyukai yuki dan dia ingin melindunginya. Ketika saat itu tiba, Miyuki menjadi bahagia dan percaya akan adanya cinta sejati dan percaya juga bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Sungguh indah dicintai dan disayangi oleh orang yang kita sukai. Sekarang Miyuki tidak iri lagi dengan kisah-kisah cinta yang terdapat di komik, dongeng ataupun cerita sinetron. Karena dia bisa merasakannya . selamat ya, buat Miyuki karena sudah mendapatkan mimpinya menjadi kenyataan. Tidak sia-sia selama ini Miyuki sendirian, kalau akhirnya bisa hidup berdampinhan dengan orang yang mencintainya dan dicintainya. Itu tiada lain adalah Akio.
“ Memang indah ya cerita itu. Pangeran dan puteri, sebutan dan pasangan yang cocok. Menyukai dan disukai, dicintai dan mencintai, dilindungi dan melindungi adlah makna yang sempurna. Aku bahagiaaaa….”
Terima kasih Akio,
Engkaulah yang terbaik.
Dimensi Lain Sang Pelukis
Hari itu cuaca sangat cerah, indah dan hangat. Liburan musim panas telah tiba. Semuanya menikmati musim liburan sekarang ini. Ada yang pergi ke pantai atau piknik bersama keluarga, ada juga yang menghabiskan waktu seharian dengan bermain-main di taman bermain Toygatsu. Menyenangkan bila bisa piknik dengan semua anggota keluarga seperti teman-teman yang lain, namun tidak untuk Tsuchi maupun Sai. Sejak kasus hilangnya pelukis itu, mereka menikmati liburannya tanpa kehadiran seorang ayah. Sebenarnya dari hati kecilnya, mereka sangat sedih dengan hilangnya ayah yang tidak jelas itu. Namun mereka tetap terlihat ceria jika sedang bersama teman-teman yang lain, tidak pernah menunjukan wajah yang sedih. Dan Tsuchi maupun Sai tetap mempunyai banyak teman, apalagi mereka mempunyai bakat menggambar yang membuat teman-temannya semakin tertarik dengan gambar yang selalu di buat mereka.
“ Kakak… Lukisan yang dibuat Chi tidak sebagus dan seindah punya kakak, sedangkan lukisan kakak begitu indah melebihi yang dibuat ayah ”. Begitulah ucapan yang selalu dilontarkan oleh anak yang baru duduk di kelas 2 SD itu, jika dia melihat Sai sedang mencoba menggambar sesuatu yang ingin digambarnya. Terkadang segelincir pertanyaan muncul, masa anak-anak yang rentan terhadap rasa ingin tahu yang besar itu ada pada diri Tsuchi. Dengan penuh kasih sayang, kakak seorang adik itu menjelaskan satu per satu pertanyaan yang diajukan adik tersayangnya. Malam semakin larut, Ibu telah memanggil Tsuchi untuk segera tidur. Dengan ditemani Ibu yang selalu membacakan cerita sebelum tidur, selang beberapa jam akhirnya adik kecil yang lucu itu bisa tertidur pulas.
Paginya di hari minggu pada musim panas , Sai memutuskan untuk mengahabiskan waktu seharian ini di taman bermain Toygatsu. Kali ini dia pergi sendiri tanpa adiknya Tsuchi. Berbekal uang dan peralatan gambar, dia pun pergi menuju ke tempat itu.
“ ternyata benar dugaanku, tempat ini selalu ramai dan penuh suasana hangat. Aku tidak boleh iri ”. Hmmm… gumamnya dalam hati seraya menuju tempat yang teduh dan cocok untuk membuat lukisan. Sejenak dia berdiam diri sambil menatap langit dalam birunya yang cerah. Dia duduk dan membuka makanan yang sempat di beli dekat gerbang depan. Matanya menerawang jauh seolah ada beban besar dalam benaknya, apa itu ada hubungannya dengan ayah yang hilang ? (n’tahlah). Makanannya mulai dimakan dan anehnya tampak lahap saja. Mungkin itulah yang namanya Sai.
Saat Sai mau menggambar dan mulai berkonsentrasi, tiba-tiba bayangan ayahnya muncul dalam kanpas dan terdengar suara anak kecil yang meminta tolong. Sai pun mencari-cari arah suara itu, namun situasinya seperti biasa-biasa saja.
“ toloooong… toloooong….” Suara itu nampak jelas sekali. Sai terlihat panik, dan mencoba menanyakan kepada orang-orang terdekat yang ada di sekitanya. Namun mereka tidak mendengar apa-apa, sedangkan suara itu nampak jelas di telinganya. Ia pun kembali ke tempat semula, kemudian suara itu tampak dekat sekali. Akhirnya Sai menutup mata dan meraba kanpasnya, tiba-tiba tangannya tertarik ke dalam kanpas itu. Sai pun menghilang bersama kanpas dan peralatan lukis lainnya.
Sesaat kemudian keadaan menjadi gelap tak ada siapa-siapa hanya terdengar suara angin yang lewat seakan menyapa, matanya masih tertutup, namun telinga yang mendengar keadaan sekeliling menjadikan Sai ingin sekali membuka matanya dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Akhirnya ia tersadar dan secara perlahan-lahan matanya terbuka.
“ makasih tuan Sai kamu telah sudi menolongku ”, suara yang mengusik kesadaran Sai itu selalu memberikan senyuman yang tulus yang hanya dimengerti oleh orang-orang baik hati dan selalu menjaga perasaan.
“ suara itu, siapa dia ?” ucap Sai sambil tertatih-tatih untuk bangun dari tidurnya.
“ hati-hati tuan, maaf ini aku Ling-ling?”
“ Hah… bukannya kamu bonekanya Tsuchi, kenapa bisa bicara dan ada di tempat seperti ini. Aku juga kenapa ada di tempat aneh seperti ini?”
Ling-ling pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sai telah berada di suatu ruang Dimensi lain, tepatnya sekarang ia berada di dimensi waktu masa lalu, melalui kanpas itu dimensi ini terbuka. Terdapat tiga dimensi dalam kehidupan, yakni dimensi masa lalu, masa kini dan masa yang akan mendatang. Untuk kembali ke masa kini, ia harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu yakni memenuhi ruang yang ia tempati dengan lukisan. Dan objek gambar juga harus dari masa lalu. Melalui layar yang ada di depan, ia akan melihat masa lalu. Mengenai ayahnya, tuan Sasaki juga ada di tempat ini, mungkin dalam ruang yang berbeda. Semuanya ada 100 ruangan yang mempunyai objek dan bentuk berbeda-beda. Misi ini harus selesai selama satu tahun. Dan satu tahun di dimensi ini artinya satu bulan di dimensi masa kini. Tujuan sebenarnya misi ini adalah untuk membuat kehidupan di dimensi masa lalu. Suatu saat setelah 100 ruang itu di penuhi dengan lukisan, maka dengan sendirinya lukisan itu akan menjadi hidup dan mulai melaksanakan kehidupannya di dimensi tersebut.
“ ayah…… aku ingin bertemu dengan dia. Aku harus membawa ayah pulang secepatnya ! baiklah aku tidak mengerti dengan semua ini tapi yang jelas akan aku kerjakan dan bisa bertemu dengan ayah ”.
Suara jarum jam terus berdetik dan memutarkan waktu. 12 jam telah dilalui Sai dengan terus duduk di depan kanpas seraya berkonsentrasi memandangi layar yang menyimpan banyak objek yang akan di gambarnya. Sudah banyak lukisan yang jadi, dia tetap semangat dan berharap cepat selesai. 10 bulan telah berlalu, tugasnya semakin sedikit saja, dan selang beberapa minggu dia sudah menyelesaikan semuanya.
“ Anda telah menyelesaikan semua tugasnya, terima kasih. Masih ada waktu 1 bulan 2 minggu 2 hari untuk ganjil satu tahun dan menuju dimensi masa kini. Anda dapat keluar dari ruang ini dan menikmati sisa waktu dengan berjalan-jalan di dimensi ini.” Ucap seseorang berjubah yang nampak di Layar objek lukisan.
“ Aku…. Aku hanya ingin bertemu dengan ayah dan pulang bersamanya? Dimana Ayahkuuuu.., suara Sai mengusik keheningan ruangan itu.
“ Oh… maksudnya Sasaki ya, tenang saja dia sudah selesai melaksanakan tugasnya. Dia selalu mengulur waktu kembali ke dimensi masa kini hanya karena ingin membantu ruangan lain yang kesulitan melukis masa lalunya. Dia benar-benar pelukis baik hati dan selalu mencoba meluruskan masa lalu setiap ruangan yang mengalami kesulitan”.
Setelah laki-laki berjubah itu selesai berbicara pada Sai, maka layarnya menghilang seketika. Dengan sendirinya Sai sudah ada di luar ruangan itu, namun masih tetap dalam dimensi masa lalu. Dalam pikirannya dia selalu ingat ayahnya dan ingin pulang bersamanya. Dia sendirian dan terus berjalan tanpa arah di tempat yang tidak ia kenal. Di bawah pohon besar yang rindang itu ia duduk dan bersandar. Ia merasa cape dan masih belum bisa mengerti dengan semua yang terjadi, ” kenapa aku ada di tempat semacam ini, kenapa harus aku, ayah juga. Kasihan Ibu dan Tsuchi pasti khawatir di rumah hanya berdua ”. Besok harus sudah pulang tapi kenapa aku belum bertemu dengannya (Kenapaaaaa). Suaranya keras sekali.
“ Maaf membuat kamu menunggu terlalu lama Sai ”, laki-laki itu mendekati Sai yang sedang emosi. Sai menangis dan memeluk ayahnya yang berdiri tegak di depannya. Pertemuan itu akhirnya terwujud juga, keyakinan bahwa ayahnya masih hidup ternyata benar. Hari ini adalah hari terakhir mereka ada di dimensi masa lalu, dengan sedikit waktu menunggu besok, sang ayah menjelaskan semua yang telah terjadi. Akhirnya Sai juga mengerti dan memahaminya. Keesokan harinya, semua orang yang ada di dimensi itu berkumpul dan laki-laki berjubah yang nampak di layar objek lukis akhirnya menampakan wujud sebenarnya. Ia berkata “ terima kasih atas kerja samanya, mohon maaf caranya yang salah. Disini masa lalu kalian semua akan kami jaga sebaik-baiknya. Sekarang kalian pulanglah, gerbangnya akan segera terbuka. Selamat tinggal dan damailah selalu dalam kehidupan yang dijalani”. Setelah itu mereka kembali ke kehidupan normalnya. Sai pun pulang ke rumah di dampingi oleh ayahnya, ketika itu Ibu dan Tsuchi telah menunggu di teras luar. Kini keluarga Sasaki telah lengkap kembali, kehidupan damai dan bahagia bersama keluarga yang seakan terlahir kembali.
***
By Rika itu Ika