Selasa, 01 Maret 2011

Dimensi Lain Sang Pelukis

Ini adalah desa Impian dimana semua orang yang hidup disini akan merasakan kebahagiaan dan senantiasa hidup damai. Setiap kepala keluarga bertanggung jawab atas keluarganya. Lingkungan yang bersih dan terawat menjadikan desa ini sebagai desa yang diakui oleh Negara dan patut di contoh. Desa ini juga mendapatkan penghargaan dari kepala Negara sebagai desa terbersih dan terkreatif pada tahun ini. Lukisan yang menggambarkan keadaan desa adalah salah satu karya desa ini yang dilukis oleh pelukis yang selalu menjaga perasaan orang lain dan baik hati. Ia bernama “ Sasaki Qudo ”. Lukisan itu merupakan peninggalan yang bersejarah bagi desa ini, dikarenakan sejak saat itu Sasaki mulai menghilang dan tidak pernah muncul lagi di desa. Ditanyakan kepada keluarganya pun mereka tidak tahu apa yang telah terjadi pada ayah yang meninggalkan istri dan dua orang anak ini, namun yang mereka yakini bahwasannya suatu hari nanti, ayahnya akan kembali ke rumah dengan selamat dan baik-baik saja. Ia akan tersenyum dengan senyuman penuh makna untuk semua orang yang menantikan kepulangannya.
Hari itu cuaca sangat cerah, indah dan hangat. Liburan musim panas telah tiba. Semuanya menikmati musim liburan sekarang ini. Ada yang pergi ke pantai atau piknik bersama keluarga, ada juga yang menghabiskan waktu seharian dengan bermain-main di taman bermain Toygatsu. Menyenangkan bila bisa piknik dengan semua anggota keluarga seperti teman-teman yang lain, namun tidak untuk Tsuchi maupun Sai. Sejak kasus hilangnya pelukis itu, mereka menikmati liburannya tanpa kehadiran seorang ayah. Sebenarnya dari hati kecilnya, mereka sangat sedih dengan hilangnya ayah yang tidak jelas itu. Namun mereka tetap terlihat ceria jika sedang bersama teman-teman yang lain, tidak pernah menunjukan wajah yang sedih. Dan Tsuchi maupun Sai tetap mempunyai banyak teman, apalagi mereka mempunyai bakat menggambar yang membuat teman-temannya semakin tertarik dengan gambar yang selalu di buat mereka.
“ Kakak… Lukisan yang dibuat Chi tidak sebagus dan seindah punya kakak, sedangkan lukisan kakak begitu indah melebihi yang dibuat ayah ”. Begitulah ucapan yang selalu dilontarkan oleh anak yang baru duduk di kelas 2 SD itu, jika dia melihat Sai sedang mencoba menggambar sesuatu yang ingin digambarnya. Terkadang segelincir pertanyaan muncul, masa anak-anak yang rentan terhadap rasa ingin tahu yang besar itu ada pada diri Tsuchi. Dengan penuh kasih sayang, kakak seorang adik itu menjelaskan satu per satu pertanyaan yang diajukan adik tersayangnya. Malam semakin larut, Ibu telah memanggil Tsuchi untuk segera tidur. Dengan ditemani Ibu yang selalu membacakan cerita sebelum tidur, selang beberapa jam akhirnya adik kecil yang lucu itu bisa tertidur pulas.
Paginya di hari minggu pada musim panas , Sai memutuskan untuk mengahabiskan waktu seharian ini di taman bermain Toygatsu. Kali ini dia pergi sendiri tanpa adiknya Tsuchi. Berbekal uang dan peralatan gambar, dia pun pergi menuju ke tempat itu.
“ ternyata benar dugaanku, tempat ini selalu ramai dan penuh suasana hangat. Aku tidak boleh iri ”. Hmmm… gumamnya dalam hati seraya menuju tempat yang teduh dan cocok untuk membuat lukisan. Sejenak dia berdiam diri sambil menatap langit dalam birunya yang cerah. Dia duduk dan membuka makanan yang sempat di beli dekat gerbang depan. Matanya menerawang jauh seolah ada beban besar dalam benaknya, apa itu ada hubungannya dengan ayah yang hilang ? (n’tahlah). Makanannya mulai dimakan dan anehnya tampak lahap saja. Mungkin itulah yang namanya Sai.
Saat Sai mau menggambar dan mulai berkonsentrasi, tiba-tiba bayangan ayahnya muncul dalam kanpas dan terdengar suara anak kecil yang meminta tolong. Sai pun mencari-cari arah suara itu, namun situasinya seperti biasa-biasa saja.
“ toloooong… toloooong….” Suara itu nampak jelas sekali. Sai terlihat panik, dan mencoba menanyakan kepada orang-orang terdekat yang ada di sekitanya. Namun mereka tidak mendengar apa-apa, sedangkan suara itu nampak jelas di telinganya. Ia pun kembali ke tempat semula, kemudian suara itu tampak dekat sekali. Akhirnya Sai menutup mata dan meraba kanpasnya, tiba-tiba tangannya tertarik ke dalam kanpas itu. Sai pun menghilang bersama kanpas dan peralatan lukis lainnya.
Sesaat kemudian keadaan menjadi gelap tak ada siapa-siapa hanya terdengar suara angin yang lewat seakan menyapa, matanya masih tertutup, namun telinga yang mendengar keadaan sekeliling menjadikan Sai ingin sekali membuka matanya dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Akhirnya ia tersadar dan secara perlahan-lahan matanya terbuka.
“ makasih tuan Sai kamu telah sudi menolongku ”, suara yang mengusik kesadaran Sai itu selalu memberikan senyuman yang tulus yang hanya dimengerti oleh orang-orang baik hati dan selalu menjaga perasaan.
“ suara itu, siapa dia ?” ucap Sai sambil tertatih-tatih untuk bangun dari tidurnya.
“ hati-hati tuan, maaf ini aku Ling-ling?”
“ Hah… bukannya kamu bonekanya Tsuchi, kenapa bisa bicara dan ada di tempat seperti ini. Aku juga kenapa ada di tempat aneh seperti ini?”
Ling-ling pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sai telah berada di suatu ruang Dimensi lain, tepatnya sekarang ia berada di dimensi waktu masa lalu, melalui kanpas itu dimensi ini terbuka. Terdapat tiga dimensi dalam kehidupan, yakni dimensi masa lalu, masa kini dan masa yang akan mendatang. Untuk kembali ke masa kini, ia harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu yakni memenuhi ruang yang ia tempati dengan lukisan. Dan objek gambar juga harus dari masa lalu. Melalui layar yang ada di depan, ia akan melihat masa lalu. Mengenai ayahnya, tuan Sasaki juga ada di tempat ini, mungkin dalam ruang yang berbeda. Semuanya ada 100 ruangan yang mempunyai objek dan bentuk berbeda-beda. Misi ini harus selesai selama satu tahun. Dan satu tahun di dimensi ini artinya satu bulan di dimensi masa kini. Tujuan sebenarnya misi ini adalah untuk membuat kehidupan di dimensi masa lalu. Suatu saat setelah 100 ruang itu di penuhi dengan lukisan, maka dengan sendirinya lukisan itu akan menjadi hidup dan mulai melaksanakan kehidupannya di dimensi tersebut.
“ ayah…… aku ingin bertemu dengan dia. Aku harus membawa ayah pulang secepatnya ! baiklah aku tidak mengerti dengan semua ini tapi yang jelas akan aku kerjakan dan bisa bertemu dengan ayah ”.
Suara jarum jam terus berdetik dan memutarkan waktu. 12 jam telah dilalui Sai dengan terus duduk di depan kanpas seraya berkonsentrasi memandangi layar yang menyimpan banyak objek yang akan di gambarnya. Sudah banyak lukisan yang jadi, dia tetap semangat dan berharap cepat selesai. 10 bulan telah berlalu, tugasnya semakin sedikit saja, dan selang beberapa minggu dia sudah menyelesaikan semuanya.
“ Anda telah menyelesaikan semua tugasnya, terima kasih. Masih ada waktu 1 bulan 2 minggu 2 hari untuk ganjil satu tahun dan menuju dimensi masa kini. Anda dapat keluar dari ruang ini dan menikmati sisa waktu dengan berjalan-jalan di dimensi ini.” Ucap seseorang berjubah yang nampak di Layar objek lukisan.
“ Aku…. Aku hanya ingin bertemu dengan ayah dan pulang bersamanya? Dimana Ayahkuuuu.., suara Sai mengusik keheningan ruangan itu.
“ Oh… maksudnya Sasaki ya, tenang saja dia sudah selesai melaksanakan tugasnya. Dia selalu mengulur waktu kembali ke dimensi masa kini hanya karena ingin membantu ruangan lain yang kesulitan melukis masa lalunya. Dia benar-benar pelukis baik hati dan selalu mencoba meluruskan masa lalu setiap ruangan yang mengalami kesulitan”.
Setelah laki-laki berjubah itu selesai berbicara pada Sai, maka layarnya menghilang seketika. Dengan sendirinya Sai sudah ada di luar ruangan itu, namun masih tetap dalam dimensi masa lalu. Dalam pikirannya dia selalu ingat ayahnya dan ingin pulang bersamanya. Dia sendirian dan terus berjalan tanpa arah di tempat yang tidak ia kenal. Di bawah pohon besar yang rindang itu ia duduk dan bersandar. Ia merasa cape dan masih belum bisa mengerti dengan semua yang terjadi, ” kenapa aku ada di tempat semacam ini, kenapa harus aku, ayah juga. Kasihan Ibu dan Tsuchi pasti khawatir di rumah hanya berdua ”. Besok harus sudah pulang tapi kenapa aku belum bertemu dengannya (Kenapaaaaa). Suaranya keras sekali.
“ Maaf membuat kamu menunggu terlalu lama Sai ”, laki-laki itu mendekati Sai yang sedang emosi. Sai menangis dan memeluk ayahnya yang berdiri tegak di depannya. Pertemuan itu akhirnya terwujud juga, keyakinan bahwa ayahnya masih hidup ternyata benar. Hari ini adalah hari terakhir mereka ada di dimensi masa lalu, dengan sedikit waktu menunggu besok, sang ayah menjelaskan semua yang telah terjadi. Akhirnya Sai juga mengerti dan memahaminya. Keesokan harinya, semua orang yang ada di dimensi itu berkumpul dan laki-laki berjubah yang nampak di layar objek lukis akhirnya menampakan wujud sebenarnya. Ia berkata “ terima kasih atas kerja samanya, mohon maaf caranya yang salah. Disini masa lalu kalian semua akan kami jaga sebaik-baiknya. Sekarang kalian pulanglah, gerbangnya akan segera terbuka. Selamat tinggal dan damailah selalu dalam kehidupan yang dijalani”. Setelah itu mereka kembali ke kehidupan normalnya. Sai pun pulang ke rumah di dampingi oleh ayahnya, ketika itu Ibu dan Tsuchi telah menunggu di teras luar. Kini keluarga Sasaki telah lengkap kembali, kehidupan damai dan bahagia bersama keluarga yang seakan terlahir kembali.
***
By Rika itu Ika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar