Malam silih berganti dengan kegelapan yang memberikan keindahan dan manfaat tersendiri, memberikan ketenangan disela-sela waktu istirahat semua makhluk yang tengah beraktivitas di siang hari. Indahnya malam adalah yang bertabur bintang bersama rembulan yang menampakan diri dibalik ibu awan. Seperti itulah kegelapan malam yang selalu dinanti oleh setiap insan. Bukan kegelapan malam karena kabut hitam dan mendung yang menyelimuti bumi pertiwi .
Lamanya waktu bergulir dan tidak terhitung juga malam yang tengah memberikan kesan tersendiri buat gadis yang senantiasa menanti cinta sejatinya. Bagi dia cinta sejatinya itu ada namun masih tersembunyi di balik ibu awan bersama cahaya bintang yang selalu hadir di setiap malam. Dua tahun lamanya dia menanti dan terus percaya serta menyebut cinta sejati yang tersembunyi itu dengan sebutan ksatria langit. Dia percaya bahwa ksatrianya masih mempunyai misi di langit yang belum terselesaikan, sehingga belum menampakan diri di bumi.
Jendela kamarnya selalu saja terbuka jika melihat suasana malam yang indah yaitu saat langit cerah diikuti taburan bintang dan awanan putih yang menampakan semburat sinar rembulan yang akan datang perlahan.
“ weey…, suara kerasnya zero membangunkan Lintang dari lamunannya. Lintang yang tengah asyik dengan lamunan dan tatapan matanya yang selalu terfokus ke langit merasa kaget dan menjerit.
“ apaan sich kamu ganggu orang saja.. kenapa kamu bisa ada disini, malam-malam lagi. Trus siapa yang mengijinkan kamu masuk..?!”
“ Lintang… lintang kamu tu ya, dari tadi aku ketok-ketok pintu kamar kamu tapi kamu nya gak nyaut, lagian kata tante juga aku suruh masuk saja., eh ternyata benar kamu sibuk dengan dunia sendiri sich…” autis”.. hehe..”
“ iya, aku memang autis. Puas kamu…”
“ bercanda ko, jangan marah ya…”
“ eh iya zero, kita kesana yu..” Lintang menunjukan tempat buat melihat bintang dengan jelas. Yaitu di dekat jendela dan arahnya di luar bukan di dalam.
“ apa.. disana, gak mau ach itu kan tinggi lagian kalau di luar tuh lantai bawah dan jalanan kelihatan, aku takut, nanti jatuh”.
“ aduh… dasar anak mami, ya sudah aku kesana dulu, kamu diam saja disini. Ngobrolnya jarak jauh saja..”
Sambil membawa mp4, Lintang keluar dari kamarnya lewat jendela dan berdiam diri di teras kecil yang katanya sangat jelas jika melihat bintang disana.
“ zero, kamu dengar aku tidak..?”
“ iya aku dengar ko!” zero berteriak seolah-olah takut kalau suaranya tidak terdengar oleh Lintang.
“ Zero, kenapa kamu takut ketinggian ?”
“ Hmmm… itu ya, dulu aku pernah jatuh dari pohon, sampai-sampai aku tidak bisa jalan dalam waktu sebulan. Eh iya Lintang kenapa kamu sendiri suka banget pada yang namanya ketinggian ?”
“ oh jadi itu sebabnya ya. Aku juga mempunyai alasan tersendiri mengapa aku suka banget pada ketinggian. Di tempat yang tinggi aku bisa melihat suasana langit di malam yang indah, terutama jika malam itu membawakan taburan bintang dan rembulan.
“ Sekarang kamu lihat ya disana bintang yang paling bersinar terang”. Lintang menunjukan letak bintang tersebut berusaha menjelaskan kepada zero.
“ iya, disini aku dapat melihatnya. Mangnya apa hubungannya ?”
“ bintang itu adalah petunjuk bahwa cinta sejati itu ada, dan cahaya terang yang terpancar dari bintang tersebut adalah jalan bagiku kalau suatu saat nanti hati aku juga akan sama seperti bintang dan tidak kesepian lagi.”
“ oh… bagus kalau kamu sudah mempercayai adanya cinta sejati, aku kan jadi tidak khawatir lagi. Kenapa kamu tidak mencoba untuk pacaran dan berusaha membuka hati buat orang yang mencintai kamu, ucap zero sambil membuka album SMA dulu.
“ Zero, kamu tuch ngerti tidak sech dengan yang namanya cinta sejati, laganya saja pacaran sudah 2 tahun. Eh mengartikan cinta sejati itu sempit banget. Dengan raut muka yang ketus, Lintang menjelaskan sesuatu kepada Zero.
“ sudah ah jangan marah, maksud aku tidak begitu, aku hanya ingin melihat kamu bahagia. Barangkali jika kamu pacaran dan punya pacar kamu bisa bahagia.”
“ makasih ya Zero, kamu memang sahabat yang terbaik, kamu jangan khawatir aku pasti bahagia. Ucap lintang seraya menatap tajam bintang yang selalu dilihatnya tiap malam.
“ zero, apa aku salah kalau mempercayai bahwa cinta sejati aku itu ada di balik cahaya bintang tersebut? Karena aku merasa damai jika aku melihatnya. Bintang itu berbeda dengan yang lainnya, selalu hadir di setiap malam dan sangat nampak jelas.
“ kamu tidak salah Lintang, yakinilah apa yang kamu percaya dan dapat dijangkau oleh akal sehat. Jadi maksudnya jika kamu mempercayai cinta sejati kamu ada di balik cahaya bintang itu, kamu harus mempunyai alasan dan argument yang kuat untuk membuktikan kebenaran yang kamu yakini itu sehingga terkesan benar.
“ jadi begini Zero, maksud aku adalah perumpamaan.”
“ maksudnya apa aku tidak mengerti..!”
“ suatu saat nanti kamu juga pasti akan mengerti ucapan perumpamaan aku itu, sambil tersenyum dengan menatap bintang, yang kemudian dia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dan menutup jendelanya.
Lampu di kamar Lintang masih menyala dengan terang, Zero juga masih ada di dalamnya. Percakapan mereka akhirnya dilanjutkan kembali.
“ eh Zero, kalau tidak salah besok kamu kan mau tunangan. Kenapa kamu malah main ke rumah aku?”
“ aku sengaja ingin bertemu dan mengetahui kabar kamu, lagian sudah lama tidak ketemu kan. Ya barangkali ini adalah yang terakhir kalinya, he..” btw besok datang ya.,,?
“ siap boz.. besok aku pasti datang, tapi tidak apa-apa ya tidak bawa pasangan. Aku kan belum punya pacar..”
“ iya tidak apa-apa, ucap zero sambil memakai jaketnya kembali dan berusaha meledek Lintang dengan perkataan kalau tidak ada yang mau pada Lintangnya.. Hee.. becanda ko”!
“ baiklah Lintang jangan lupa besok datang dan aku pamit pulang. Bye…”
“ ya sudah sana pulang, hati-hati… jangan lupa pamitan dulu pada ibu ”
“ iya bawel..!”
Seperti itulah percakapan sepasang sahabat di malam hari yang cerah, malam yang mendukung mereka buat saling curhat dengan kemungkinan untuk yang terakhir kalinya. Yang satunya mau tunangan dan yang satunya lagi akan selalu berusaha mencari cinta sejatinya yang mempunyai aura cahaya bintang yang senantiasa dilihat dalam menjelang tidurnya.
Waktu di kamar Lintang menunjukan tepat pukul 10 malam. Setelah keluar dari kamar mandi Lintang langsung tidur di pembaringan seraya melantunkan doa agar Allah selalu melindungi dan menjaga setiap tidurnya.
“ Lintang… Lintang… Lintang, salamun’alaikum.. suaranya terasa menyejukan jiwa, semakin jauh dan hilang tertelan kegelapan.
“ Lintang… tetaplah bersabar dengan keyakinanmu, suatu saat aku akan hadir di kehidupanmu. Bersamamu, selamanya…Dan ingatlah akan takdir Tuhan karena manusia tidak akan pernah bisa untuk merubahnya!” suara itu hadir lagi, tapi siapa disana… sosoknya tidak jelas, mengapa dia tidak menunjukan wajahnya. Dia terus tertunduk dan mulai membelakangiku untuk pergi entah kemana. Semakin jauh dan akhirnya menghilang, namun memberikan sesuatu hal yang dapat membuat aku teguh dengan keyakinan ku selama ini.
Kring… kring… suara alarm membangunkan Lintang dari tidurnya.
“ Astagfirullah’ aladzim…. Ternyata aku bermimpi.., eh tunggu, kenapa mata aku berair. Ah jangan-jangan aku menangis. Ya Allah ada apa ini sebenarnya.
Sesaat memikirkan tentang mimpinya, Lintangpun segera bergegas meninggalkan tempat tidurnya untuk kemudian menuju kamar mandi. Percikan air wudhu kian membasahi seluruh anggota tubuh, membukakan mata merah yang masih terasa mengantuk. Penenang jiwa dan penyejuk hati . Dinginnya menembus pori kulit dan menusuk tulang putih. Sehingga menjadikan Lintang focus akan niat itu. Dengan memakai mukena putih pemberian ibunya dia jalankan niat itu penuh kekhusuan dan suasana sepi, sunyi serta damai yang senantiasa menenangkan hati.
“ Alhamdulillah…. Ya Allah berikanlah selalu petunjuk-Mu dalam setiap keresahan dan kebimbangan hati ini, aku yakin dengan lantunan ayat suci-Mu aku bisa damai, ucap Lintang dalam hati seraya meneteskan air mata.
Tidak lama kemudian adzan shubuh kembali berkumandang membangunkan orang-orang untuk segera menjalankan ibadah kepada yang Kholik. Dengan mukena putih yang masih dipakainya, Lintang pun segera bergegas buat salat subuh.
“Bu… bangun, sudah subuh.. seraya mengetok pintu kamar orang tuanya.
“ iya… sahut ibunya sambil membukakan pintunya.
“ hari ini cuacanya cerah sekali, angin di pagi ini sangat terasa mengecup semua pori di tubuhku, meliuk-liukan rerumputan yang tengah di datangi oleh setetes embun dan semburat sinar nampak di balik ibu awan dengan perlahan akan membentuk cahaya siang yang menggantikan bintang di malam hari. Beruntungnya si zero itu, hari ini dia akan tunangan, aku harus menghadiri acara itu.
“ Baiklah aku harus semangat dan aku harus kuat. Baju apa ya yang cocok untuk pergi ke acara yang begituan, ya sudah aku pilih yang ini saja.” Lintang membawa baju putih bercorak bunga dengan celana jeans warna hitam dan kerudung warna putih.
Sesaat setelah itu akhirnya Lintang pun selesai berbenah diri dan sudah siap untuk pergi ke acara tunangan sahabatnya “Zero”.
“ Bismillahirrohmanirrohim.. ucap Lintang dalam hati sambil menjalankan kendaraan bermotornya”
Sepanjang perjalanan dia selalu Memikirkan mimpi anehnya, tentang bintang dan ksatria langitnya, namun masih tetap focus pada jalan. Sampai pada akhirnya Lintangpun sampai di rumah Dara, tunangannya Zero. Acaranya cukup meriah, banyak tamu yang hadir dan ikut merayakan kebahagiaan mereka dan semuanya berharap awal dari tunangan ini akan berakhir dengan pernikahan yang akan menjadikan keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
“ selamat ya Zero… selamat ya Dara, ucapnya sambil bersalaman. “ aku ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian berdua.”
“ iya terima kasih Lintang, percayalah kamu juga sebentar lagi akan menyusul kita, ucap zero., iya.. itu pasti kan Lintang ucap dara sambil menepuk bahunya.
Ulasan senyum terindah nampak di wajahnya seraya mengaminkan ucapan mereka.
“ ya sudah zero, dara, aku pulang dulu sudah terlalu sore”
Iya hati-hati ucap mereka.
“ ya Allah sekarang aku semakin yakin kalau soal milik, rizki, ajal dan jodoh adalah urusan-Mu. Semua orang telah di atur dengan jodohnya masing-masing. Aku percaya aku juga pasti mendapatkan jodoh tersebut, namun aku tidak tahu dengan pastinya. Apakah dia yang akan turun ke bumi untuk mencariku dan meninggalkan bintang ataukah aku yang akan pergi ke bintang untuk mencarinya. Apakah pertemuan dengan jodohku akan di takdirkan di bumi ataukah di langit sebagai alam yang lain. Itulah rahasia ilahi yang tidak mungkin aku ketahui. Namun selama aku masih ada di bumi, aku akan senantiasa menanti dan mencari cinta sejati untuk yang terakhir kalinya serta untuk selalu bersama-sama selamanya. Karena cinta sejatiku adalah ksatria langit yang teguh akan janji dan selalu meluruskan niat yang baik sedikitpun tidak akan pernah sanggup untuk berpaling. Ucap Lintang dalam hati seraya tersenyum manis meninggalkan acara tersebut.
---+Rika+---
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar