Jauh dari kehidupan manusia yang bising dalam keramaian kota, terdapat bukit dengan tanah yang subur. Bukit hijau yang menyimpan banyak kejadian dalam sebuah gua yang tersembunyi. Seseorang yang mengasingkan diri adalah orang yang menempati gua tersebut. Orang itu adalah kakek tua berjubah putih yang senantiasa di temani oleh kera pintar berbulu coklat. Setiap pagi kera itu selalu menemani kakek pergi ke hutan sekedar mencari makanan dan bambu kering untuk dibuat api unggun dalam dinginnya malam. Keadaan sepi yang teramat dalam sudah dilewati kakek tua itu dalam puluhan tahun. Hidup sendiri tak membuatnya putus harapan, dia terus menjalani hari-harinya dengan senyuman, tidak pernah menyesal dan mengharapkan kehidupan seperti dulu dapat terulang kembali. Dia telah mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Mengingat dahulu dia adalah keturunan saudagar kaya raya yang mempunyai kekuasaan. Dia sangat disayang oleh ayahnya karena kedermawanan dan kebaikan hatinya. Namun saudaranya selalu salah mengartikan kasih sayang ayahnya kepada dia. Padahal semuanya sama saja, tidak ada yang dibeda-bedakan.
Suatu hari saat sedang diadakan pesta laut yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat sekitar pantai, dalam kerumunan orang-orang dan terlepas dari pantauan sang ayah, dia dibawa pergi oleh kedua saudaranya, ke suatu tempat yang sangat jauh dari tempat kediamannya. Sebuah hutan belantara tanpa penghuni. Saat tersadar, ia sudah ada sendirian di hutan yang hanya bertemankan hewan-hewan dan keadaan yang selalu sepi. “ Tuhan memang adil ” ucap dia saat ia mendapati ada jalan keluar dari hutan. Saat itu usia dia masih sekitar 25 tahunan. Dia masih kuat berjalan seharian, dengan sedikit waktu beristirahat untuk sekedar minum dan berteduh. Akhirnya sampai juga ia di sebuah bukit hijau yang terdapat gua tertutupi batu. Dengan begitu berakhir sudah perjalanan selama berhari-hari untuk menemukan tempat tinggal, karena di tempat itu ia merasa damai. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat tinggalnya dan berteman dengan hewan-hewan kecil yang beterbangan, dengan pohon maupun tanah disekitar yang senantiasa diolah sehingga dapat ditanam beberapa tumbuhan.
Waktu terus bergulir, kehidupan dia selalu saja seperti itu, kesepiaan namun merasa damai sekali. Hingga pada saat itu ia kedatangan tamu yang tidak diundang. Saat diluar hujan lebat dan cuacanya sangat buruk. Didalam gua itu, ia sendiri ditemani api unggun yang senantiasa menghangatkan tubuhnya. Dengan cahaya api itu, terlihat ada bayangan yang sedang terdiam di pintu gua. Ia kemudian menghampirinya dengan perasaan penuh waspada. Tapi semuanya baik-baik saja karena yang ia temui ialah seekor kera kecil yang kedinginan. Seekor kera yang mempunyai bayangan manusia. Namun keanehan itu tidak menjadikan ia merasa takut untuk menolong kera itu. Dengan perasaan hangat ia membawa kera tersebut ke dalam dan bersama-sama menghangatkan tubuh mereka di depan api unggun. Awalnya kera itu hanya bisa bicara bahasa kera, namun seiring berjalannya waktu kera itu bisa bicara seperti manusia dan hanya akan bicara seperti itu kepada dia. Iya, Dia yang sekarang sudah menjadi kakek-kakek. Dia yang menjadikan kera itu sebagai kera yang pintar, baik dan sopan.
*
Disisi lain, keberadaan bukit itu kini sedang terancam. Dengan keberadaan manusia yang mulai bermunculan. Bukit dengan tanah yang subur itu akhirnya menjadi bahan rebutan antara satu manusia dengan manusia yang lainnya. Kakek tua itu pun kini mulai merasa resah dengan keberadaan manusia yang mulai memperebutkan bukit itu. Kakek tua dan kera itu tetap menyembunyikan diri di gua yang belum diketahui keberadaannya. Didalam gua mereka memperhatikan gerak-gerik semua tingkah laku manusia itu. Sering juga mereka mendengar pertengkaran antara dua pemikiran yang berbeda. Semuanya mau menang sendiri dengan pemikiran sendirinya, egois dan tidak mementingkan keberadaan orang sekelilingnya. Yang satu ingin meratakan bukit itu untuk dijadikan perumahan. Dan yang satu lagi ingin mengolah bukit itu menjadi perkebunan teh.
Tiba-tiba kera itu menarik jubah kakek tua dan berkata “ ternyata manusia itu adalah makhluk yang rakus, dengki, dan melampaui batas. Mereka egois, begitu melihat dan mengetahui tempat ini, hal pertama yang mereka pikirkan adalah keuntungan yang didapat untuk mereka dengan ajang bisnis ala orang kota. Sungguh tidak mempunyai keadilan ”.
“ Kera yang pintar… kamu tidak boleh menilai semua manusia sama seperti mereka. Masih ada di luar sana yang bisa menegakan keadilan. Suatu saat nanti kamu juga akan menjadi bagian dari orang-orang yang menegakan keadilan di muka bumi ini. Saat kamu jadi manusia seutuhnya, carilah dan temukan orang-orang berhati mulia yang mempunyai jiwa keadilan yang besar untuk perdamaian semua manusia. Kakek sudah semakin tua dan hanya hal kecil seperti itu yang selama ini bisa aku berikan kepadamu”, ucap kakek tua dengan suara khas orang yang sedang batuk.
Sang kera menunduk dan meneteskan air matanya.” Aku tidak ingin berpisah denganmu, aku ingin selalu bersama-sama dengan kamu, aku tidak ingin jadi manusia, aku benar-benar takut dengan dunia manusia yang selalu mengabaikan keadilan yang sebenarnya. Aku… benar-benar tidak sanggup”. Kakek tua itu tersenyum dan terbaring lemas. “ kera yang pintar dan cerdik pasti mampu. Berjanjilah kalau kamu akan jadi manusia dengan penuh rasa keadilan. Ber… jan… jilah……”, suara kakek itu telah habis. Sang kera terus membangunkannya, namun tetap tidak bisa karena kakek tua itu sudah pada batasnya. Hal terakhir yang diinginkannya adalah janji kera pintar untuk menjadi manusia dengan rasa keadilan yang sangat besar.
“ selama ini kakek yang telah mengajari semua tentang kehidupan , sampai pada akhirnya aku juga bisa bicara seperti manusia. Dan aku janji aku akan penuhi permintaan terakhir kakek. Oleh karena itu pergilah dengan penuh ketenangan. ”
Selang beberapa menit janjinya telah diucapkan, kakek tua itu akhirnya menghilang dengan cahaya yang menyilaukan mata. Silaunya cahaya itu membuat sang kera harus menutup mata, dan saat matanya terbuka sang kera telah mendapati tubuhnya menjadi sosok manusia pemberani yang tampan dan berwibawa.
Kakek tua itu sudah tidak ada, bukit hijau dengan tanah subur yang dulu menjadi tempat tinggal mereka kini menjadi rebutan bagi orang-orang munafik yang egois. Sang kera yang telah menjelma menjadi manusia, kini kebingungan. Ia terus menyusuri jalanan yang ada. Sampai pada akhirnya ia sampai di kerumunan banyak orang. Ya… ia telah memasuki daerah kota. Ia tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu. Namun demi menegakan keadilan ia harus terbiasa melihat dunia yang sebenarnya.
Di suatu tempat yang tidak jauh dari kota itu, ia mampir di sebuah pondok kecil yang tidak berpenghuni. Saat itu, ia lihat ada dua anak kecil yang sedang bermain-main. Kemudian ada segerombolan anak-anak yang usianya tidak jauh dari mereka yang mengganggunya. Kedua anak kecil itu menangis dan ketakutan, sedangkan segerombolan anak yang mengganggunya malah tertawa senang melihat orang lain menderita. Tiba- tiba dibelakang mereka muncul suara bak pahlawan yang sedang bertugas. Ia menghajar semua anggota gerombolan yang mengganggu anak tidak bersalah itu. Suara itu berasal dari anak yang telah menghajar gerombolan anak nakal, anak yang bekerja di keluarga salah satu gerombolan anak nakal itu. Anak yang terlihat bodoh dengan mengabaikan pekerjaannya hanya untuk menolong kedua anak itu. Sekarang anak itu kehilangan pekerjaannya hanya karena membela kedua anak yang tidak bersalah dengan terpaksa menghajar anak majikannya. Tapi, hal seperti itu tidak membuat dia kecewa dan sedih. Ia masih bisa tersenyum “ masih banyak pekerjaan lain yang bisa dicari”, begitu katanya sambil meninggalkan tempat pekerjaan yang dulu.
**
Dengan berbekal uang seadanya anak itu kini menuju warung terdekat untuk menghilangkan rasa laparnya. Ia membeli satu piring nasi, lauk pauk dan segelas air teh hangat. Kemudian laki-laki jelmaan kera yang pintar dan kini telah menjadi manusia seutuhnya itu menghampirinya.
“ siapa nama mu nak..? ” ucapnya sambil tersenyum manis pada anak yang sedang terlihat lapar.
“ maaf paman, aku sedang makan. Habisnya lapar baget. Nama saya panji paman. Senang bisa berkenalan. Paman sendiri siapa, rasanya baru pertama kali aku melihatnya? ”
“ oh nama mu panji. Anak baik, panggil saja saya paman Inu. Maukah kamu ikut saya untuk memberikan perubahan yang baru bagi kehidupan di bumi ini. Kehidupan yang penuh dengan keadilan dan kedamaian. Mohon bantuannya, kamu pasti bisa. ”
“ baik Paman inu ”, ucapnya semangat dan tersenyum senang.
Ternyata benar yang diucapkan oleh kakek tua itu. Dan orang yang selama ini dicari untuk menemani laki-laki gagah berani itu adalah seorang anak kecil yang bernama panji. Anak yang mempunyai jiwa keadilan sangat besar yang akan mempengaruhi kehidupan baru di masa mendatang untuk bumi pertiwi ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar