Rabu, 02 Maret 2011

Pagi Hari Bersama Tuhan

Cicit burung terdengar riang diatap rumah,menyambut anak-anak matahari yang mulai menampakkan diri,di balik ibu awan.Kokok tuan ayam,terdengar menggema gagah sekali,dan suara itu muncul di balik telinga.Kokok tuan ayam itu sebagai doa,untuk memulai hari dengan sebuah kekuatan dalam din.Sisa angin malam,yang terlambat pulang, masih terasa mengecup semua pori di tubuh, sehingga menjadikan mereka tampak nyata. Titik-titik lampu di atap rumah,satu per satu mulai redup dan kemudian tertidur lelap,untuk kembali hidup saat kegelapan menyergap.
Setetes embun mengajak kawan-kawannya untuk datang, memandikan rerumputan yang tidak bergoyang tetapi meliuk-liukan tubuhnya,juga memberikan minum kepada helaian daun dan patahan ranting,yang masih setia pada induk pohonnya.Ratu penguasa kesegaran menari-nari di tengah pengawal udara,menyebarkan kesegaran di seluruh sudut dunia. Sisa kord jangkrik masih terdengar,mereka masih belum mau tidur, mereka masih ingin menikmati indahnya dunia,saat terbangun di awal hari. Dan katak pejantan sudah berhenti memanggil betina-betina mereka,kini mereka berlarian, beradu lompat satu sama lain. Riak air sungai,tampak gembira melihat bebatuan menjelma kembali menjadi wujudnya sendiri,setelah semalaman bebatuan itu hanya tampak seperti bayangan hitam,yang mendengkur di tengah sungai. Dan kelopak-kelopak bunga, sudah mulai membukakan mata,mengeluarkan sari yang dia punya,karena sesaat lagi, pemilik sayap-sayap indah akan bertandang ke rumahnya..Ibu-ibu awan,tampak enggan pulang,mereka menyisakan selembar semburat merah di dadanya.Dan pangeran angin malam,sudah mulai pulang ke peraduan kegelapan,karena sekarang,anak-anak pagi sedang asyik-asyiknya, menumpahkan semua sinar hangat yang dimilikinya. Cit… cit… cit Dengkuran burung hantu berubah menjadi orkestra cicit burung pipit,yang berdzikir dan bermain bersama diatap genting.Membuat tikus-tikus tertidur,dan para cecak terlelap,tetapi membangunkan sekumpulan ibu-ibu sapi,untuk siap mensedekahkan susu yang ada dalam perutnya…”

“Oh seperti itukah pagi hari itu Tuhan ?”

Pagi hari yang kau ciptakan bersama langit dan bumihanya dalam enam masa 1). Pagi hari yang datang dengan silih berganti dengan siang,yang memberikan kehangatan dan malam yang menawarkan kedamaian 2),sungguh segala puji bagi Engkau Tuhan,yang telah menciptakan dan mengatur segalanya. 3) Tanpa ada keluhan dan rintangan. Tuhan….hadirkan pagi ini kembali besok hari.

Dan aku berharap aku dapat menemukan pagi seperti yang diceritakan-Mu. Tapi ..
Ijinkan aku berlari bersama para katak itu,tanpa penyangga tubuh, yang melilit semua urt urat di tubuhku. Ijinkan aku memandikan bebatuan dengan riak air yang turun dari 7 lapis langit ciptaan-Mu 4) ,sehingga dengan air itu Engkau menghidupkan bumi beserta isinya 5) Aku ingin memandikan bebatuan itu tanpa diikuti rasa sakit di kepala ini. Aku juga ingin melihat tamu nona-nona bunga ,yang kata mereka memiliki sayap-sayap indah, oh ya Tuhan seperti apa lebah-lebah itu, yang Engkau perintahkan agar membuat sarang di Bukit dan dahan pohon 6) oh ya Tuhan , satu lagi aku sangat penasaran, secanti apakah ibu-ibu sapi yang di dalam perutnya Engkau simpankan susu yang bersih,yang selalu ku minum setiap pagi 7) . Aku penasaran sekali Tuhan, aku ingin melihat mereka smua, tetapi semuanya ingin aku lihat tanpa kabut dan titik putih ,yang melingkar di mataku…,sehingga menutup arah pandang retinaku. Satu lagi Tuhan .. aku ingin mendengar kord burung pipit yang berdzikir di atap rumah,sebelum burung-burung itu Engkau terbangkan di angkasa dengan mudahnya 8) .,dan aku juga ingin mendengar gagahnya suara tuan ayam. Dan semuanya ingin kudengar,tanpa harus ku kenakan lilitan kabel di telingaku. Oh iya Tuhan .. Bolehkah aku merasakan kecupan dari sang ratu kesegaran ? tapi kau harus mengijinkank,melepaskan kain tebal yang menutupi wujudku ini,karena dengan begitu,aku bisa dengan bebas merasakannya.

Maaf ya Tuhan , aku banyak permintaan , aku tahu kau tak pernah keberatan akan semua yang ku pinta,karena aku yakin kau mendengar semua permintaanku,dan aku sangat yakin kau akan mengabulkannya,karena Engkau Raja Maha Kaya,yang sanggup menjadikan segalanya nyata.Karena aku tahu pada setiap kali seruanku,maka Engkau akan menjawabnya dengan seratus kali jawaban 9).

Engkau kan pernah bilang “Hambaku ,aku disini…Mintalah ,Karena aku teramat malu meninggalkan kedua belah tanganmu yang terbuka, meminta kepa-Ku 10) .
Tapi kalau engkau tidak mengijinkanku ya tidak apa-apa Tuhan.. Karena aku tahu Kau tidak ingin melihatku sakit,Karena aku sangat tahu, Kau menciptakan tubuhku ini dengan anugerah-Mu,dan bukan karena main-main 11)

Aku tahu kau sangat sayag pada diriku ini..12a)
Aku rela tidak dapat melihat dan mendengar,indahnya pagi hari yang diceritakan-Mu. Aku rela Tuhan, karena penglihatan dan pendengaran yang kau berikan kepadaku , telah kau ambil kembali, dan itu bukan karena virus yang menyerang darahku, sehingga tuan-tuan dokter , harus menyuntikan jarum-jarum tajamnya ditubuhku,dan mengeluarkan darah merahku untuk dicucinya. Aku yakin virus-virus yang bersemayam dalam darahku,sedang melaksanakan amanah-Mu, 12b) .

Aku jadi iri Tuhan,aku ingin seperti virus itu,yang sangat taat kepada-Mu.Tapi hilangnya penglihatan dan pendengaranku, bukan karena virus taat itu,tapi karena Engkau mau mengambilnya kembali. Dan aku rela Tuhanku,karena penglihatan dan pendengaran itu kan milik-Mu. Tapi aku mohon Tuhanku jangan kau ambil penglihatan,pendengaran hati ini,karena aku termasuk orang yang berpaling dari-Mu,yang Kau berikan kepadaku,Dan aku sangat yakin aku bisa melaluinya,karena Engkau tidak akan memberikan beban itu, kalau aku tidak bisa memikulnya 14)

Aku hanya bisa berdoa kepada-Mu Tuhan,jadikan aku orang yang pandai bersabar dengan semua kekuranganku,jadikan akuorang yang pintar bersyukur atas pendengaran,penglihatan dan hati , yang Engkau berikan padaku,karena sudah seharusnya aku begitukan Tuhan 15) . Dan aku berharap kesabaran dan syukurkudapat mengundang keridhoan-Mu,sehingga aku dapat memperoleh Adn-Mu 16), yaitu tempat dimana aku dapat mencelupkan tanganku , diatas air yang mengalir di sungai-sungai indah, sehingga air suci itu membasahi gelang-gelang emas yang bertaburan mutiara indah, yang menghiasi tangan ini. 17)
Sekali lagi semua yang ada dalam diriku, boleh Engkau ambil Tuhan, jangankan retina dan rumah siput yang ada di tubuhku yang mau Engkau ambil,Jiwa, Raga, Nyawa dan Ruh ku, boleh Engkau ambil Tuhan ,karena semua itu kan milik-Mu. Asalkan semua itu Engkau ambil saat percikan suci air wudhu menyelimuti ragaku,saat alunan dzikirmenghiasi bibirku, sehingga menentramkan hatiku 18) .

Saat mukena putih yang disulam ibuku,menemani sholat-sholat ditengah malamku. Tengah malam yang selalu memberikan kekhusuanUntuk melantunkan doa, bagi Bunda dan Ayahandaku.Sehingga doa yang terlahir dari kekhusuan itu mengundang jentik air mata , menerobos mata butaku, dan saat hati ini benar-benar Ridho atas semua pemberian-Mu,ketika cinta serta kerinduan yang kupunya untuk-Mu, benar-benar menyelimuti jiwaku. Sehingga aku bisa bertemu dengan-Mu , ditemani Husnul Khotimah-Mu.

Sekali lagi aku rela, tidak dapat melihat dan mendengar indahnya pagi,karena Engkau selalu menceritakannya setiaphari,lewat kitab bertuliskan hurup indah, tetapi memapu menggoncangkan gunung dan membelah bumi 20) .

Kitab tersuci yang engkau turunkan kepada kekasih-Mu yang menjadi Rosul pujaanku,sang Muhammad manusia yang menjadi suri tauladan seluruh umat 21)
Ceritakan setiap hari … ya Tuhanku,Rabb Tercintaku ,,..Maukan Tuhan ?

Tuhan…

Tuhan … sepertinya ada yang salah dengan mataku !!
Aku melihat barisan rapi didepanku . Mereka sekumpulan makhluk yang tidak aku kenal..
Mereka seperti terbuat dari kaca, dan..Oh Tuhan mereka bersayap..!Indah sekali .. ohh
Subhanallah

Ada yang memiliki satu sayap….dua sayap…tiga sayap… empat sayap, bahkan ada yang memiliki beratus dan dan beribu sayap,aku tidak dapat menghitungnya Tuhan ! Indah sekali sayap mereka Tuhan. Ada yang bening , ada yang berwarna keemasan,keperakan, oh ada juga yang bertaburan pennata dengan seribu warna.

Tuhan siapa mereka ??

Apakah mereka mau mengunjungi bunga-bunga itu ?Oh Tuhan , Ada apa dengan telingaku aku mendengar suara nyanyian …Merdu sekali,tapi…itu bukan nyanyian Tuhan , itu alunan ayat Qur’an-Mu Subhanallah, siapa yang melantunkan ayat suci itu Tuhan ?
Salamun’alaikum….
Salamun’alaikum….
Salamun’alaikum…. 22)

Oh .. alunan itu berasal dari makhluk bersayap itu,mereka kini terbang mengelilingiku,
Mereka membawa pakaian sutera berwarna hijau…oh…sutera hijau itu, dipakaikannya kepadaku , halus sekali sutera ini Tuhan..23)
Tuhan siapa mereka ??

Oh… Tuhan kemana rangka besi yang menopang tubuhku,aku bisa ambruk tanpa alat itu.. Tuhan,aku tidak mau tubuhku rusak,karena ini titipan dari-Mu.. Oh..aku bisa melompat,aku bisa berlari bersama kaatak-katak itu, aku diajaknya menyusuri riak air,agar aku bisa membantunya memandikan bebatuan yang tertutup lumut-lumut hijau. Tuhan….makhluk bersayap itu mendekatiku , mereka tersenyum kepadaku,kulihat jelas sayap indahnya,Aku merabanya Tuhan .. oh… dia memelukku dan menerbangkanku , aku punya sayap Tuhan , aku terbang…bersama mereka,bersama burung-burung itu,bersama katak-katak itu. Aku terbang

Tuhan…..Tetapi …... siapa itu Tuhan ?

Siapa yang terbaring lemah dikasur itu ?

Kenapa tubuhnya rapuh sekali Tuhan ?

Siapa … ?dia tertidur, Tuhan, tetapi dia tersenyum , dan senyumnya indah sekali , sehingga membuyarkan kepucatan di wajahnya .

Tapi…kenapa orang-orang mengelilinginya menangis,apakah mereka tidak senang melihat senyum indah gadis itu ?

Tunggu Tuhan , sepertinya aku kenal siapa gadis berkerudung itu…oh,, oh,, itu aku..Itu aku Tuhan !!!!

Tunggu Tuhan aku harus mengajaknya pergi bersamaku, kan kuberikan satu sayap untuknya.

Oh Tuhan ada yang menyembunyikan senyum itu, dia menutup wajahku dengan kain putih. Dia ayahku… Dia Abiku.. !!

Abi, kenapa abi menutup wajahku.. aku ingin melihat senyum-senyumnya ?

Kenapa Abi menangis , Tuhan ??

Kenapa dia berkata Innalillahi wainnailaihirojiun !!!****


by Rika Oktavia

Selasa, 01 Maret 2011

Musashi yoshi

Kriiiiiiinggg…. Kriiiiinggg…. Suara beker terdengar di sudut kamarnya Yoshi, … membuat dia terbangun dari mimpi indahnya. “ ah.. suara beker itu berisik banget” !!! kemudian dia berlanjut tidur lagi dengan selimut kesayangannya.. tak lama kemudian ibunya yoshi berteriak,, “ Yoshi… Yoshi… sudah siang, cepat bangun… !!, bukannya hari ini ada ulangan,, ???”..
“ Aduh… suara itu , ibu ya… cerewet banget “!! Jam bekerpun kembali bersuara,, akhirnya Yoshi pun bisa bangun… Dan saat Yoshi memegang jam tersebut, ia kaget… !! “ Ya ampun, sudah siang…. !! Hari ini kan ada ulangan matematika. Mana Gurunya killer lagi… Aduuh sial. Kemudian Yoshipun bergegas pergi ke kamar mandi. Dan kembali di baju dengan sangat terburu- buru.. !!
“Yoshi… sarapan dulu, ni ibu buatkan roti kesukaan kamu”
“Tidak bu… aku, kesiangan.. !!!”
“ Ibu… aku pergi… !!”
“Dasar anak nakal, di suruh bangun dari tadi, Ya Udah.. Hati-hati di Jalannya ya nak…?”
“Iya Bu… Dah ibu… !”
Hos.. hos… hos..., aduh cape banget.. !! Tapi, sebentar lagi aku sampai ke sekolah.. Mudah-mudahan saja Pak Guru belum datang..
Akhirnya Yoshi pun tiba di sekolah dengan keadaan yang tidak karuan. Rambutnya acak-acakan, bajunya masih keluar. Dan keringat bercucuran, saking terburu-burunya… !!!he,
“Yoshi…kenapa kamu,, sudah mendaki gunung ya… ??? Haa..” Sebagian anak-anak mengejeknya… !!!
“ Ah… Tidak juga, Tadi aku terburu-buru”!! Sambil merapikan baju dan rambutnya, ia menjawab dengan rendah dan tidak menghiraukan perkataan teman-temannya… !!
“Yoshi…, kamu ini selalu saja sama.. !!, tidak pernah berubah, dan selalu terburu-buru”
“ Hime… ternyata kamu ya,, ? Bukannya kamu ada di Tokyo ? “ Senang bisa jumpa dengan kamu lagi ”
Teng…. Teng…, suara lonceng berbunyi… !!! Tandanya anak-anak harus masuk sekolah.
“ Untung saja aku tidak kesiangan,,he…kalau aku kesiangan, bisa-bisa aku di suruh keluar dan tidak bisa mengikuti ulangan ini ” Bisiknya dalam hati.. !!
Pagi anak-anak… !!!
Pagi pak guru….
Hari ini kita akan kedatangan murid baru, pindahan dari Tokyo.. !! “ Ayo nak… perkenalkan diri kamu ” ??
“Pagi teman-teman,,,??
“ Perkenalkan , nama saya Hime… “ Yatsuka Hime” Lengkapnya !! “ Senang bisa kenalan dengan kalian semua ”
“ Ayo Hime, kamu duduk disana… di dekat Yoshi”
“ Baik pa Guru.” !!! terima kasih Pak.. !!
“ Yoshi.. ternyata kita bisa bertemu lagi, Tidak keberatan kan, jika aku duduk disini ? ”
“ Tidak sama sekali ko, malahan aku senang, Lama ya tidak berjumpa ?”
“ Sudah anak-anak, tenang ya… ?” “ sekarang keluarkan kertas selembar, hari ini kita ulangan matematika seperti yang sudah di janjikan minggu kemarin”!!
Pak guru membagikan soal ulangannya kepada anak-anak.., dengan suasana tenang akhirnya anak-anak memulai mengerjakan soal yang sudah di berikan.
Satu jam telah berlalu, akhirnya semua murid harus sudah selesai mengerjakan soal tersebut dan hasil pekerjaannya mulai di kumpulkan di meja Pa Guru yang berada di depan.
“ Baik anak-anak … semuanya sudah terkumpul, Bapak bagikan hasilnya minggu depan ya…, mudah-mudahan nilai kalian baik semua . Dan sekarang kalian boleh istirahat ”
Hore… hore,, sahut anak-anak sambil keluar meninggalkan kelasnya.
Semua anak berpencar dan beristirahat. Ada yang pergi ke kantin untuk makan, ada yang pergi ke perpustakaan, ada yang ngobrol-ngobrol di taman halaman sekolah, ada yang bermain futsal di lapangan basket, dan banyak lagi kegiatan yang lainnya.
“ Yoshi… kamu mau kemana ??”
“ Aku mau ke lapangan basket dulu, aku lupa sekarang kan ada pertandingan futsal,!! Ayo, kamu ikut saja. Nonton dan dukung aku ya.. ??he,”
“ Ya udah, aku ikut !!”
Mereka berdua berjalan menuju lapangan tersebut, ternyata teman-teman Yoshi yang lainnya sudah pada kumpul.
“ Ayo Yoshi,, buruan… , kami sudah menunggumu dari tadi”!!
“ Ya maaf teman-teman, aku terlambat ”
Akhirnya pertandingannya pun dimulai. Seperti biasanya, Team Yoshi yaitu Team Fugo memenangkan pertandingan tersebut.
“ Hime, akhirnya Team kami bisa memenangkan pertandingan ini, tidak sia-sia aku mengajakmu untuk menonton dan menyemangati aku. Terima kasih ya hime…”
“ Terima kasih buat apa,, ? aku tidak melakukan apa-apa, itukan berkat usaha keras kamu dan kekompakan team kamu, serta kepercayaan satu sama lainnya. Pertahankanlah cara bertanding seperti itu. usaha keras, kekompakkan, dan kepercayaan… !!”J
“ Hime…, Ternyata kamu memperhatikannya..!!”
“ Apa… memangnya barusan aku bicara apa, ?”
Ah tidak… ucap Yoshi sambil tersenyum… !!!
Kamu pasti haus ya, yoshi… !!!? “ i..i..iya, he…
Ya udah kita ke kantin saja, mumpung masih ada waktu istirahatnya.
Ya…
Tidak lama kemudian, loncengpun berbunyi. Itu tandanya anak-anak harus sudah masuk kelas lagi. Keadaan kelas mulai kembali tenang, karena sudah ada pak guru yang akan mulai memberikan materi pelajarannya. Saat pak guru menerangkan tidak ada satu anak pun yang tidak memperhatikannya, karena guru itu killer dan anak-anak juga takut. Namun dengan begitu anak-anak bisa hidup disiplin. Dan selalu mematuhi tata tertib yang ada. Beberapa jam telah berlalu, akhirnya merekapun mengakhiri kegiatan pembelajaran di sekolah. Dan waktu juga sudah menunjukkan jam setengah satu. Itu artinya mereka sudah harus pulang, dan setelah jam segitu di larang ada murid yang berkeliaran di arena sekolah. Pintu gerbang pun akan segera di kunci.
“ Hime, kamu pulang bareng aku saja.. kebetulan arahnya sama bukan ?”
“ Ah… Tidak, aku sudah ada yang menjemput. Yoshi, kamu saja yang ikut bareng aku?”
“ Ah… Tidak, terima kasih, lagian aku juga bawa sepeda”
“ kalau begitu aku duluan ya Yoshi ?,.. Yoshi,, kamu hati-hati ya ?”
“ Ya… , Kamu juga”
Yoshi melanjutkan perjalannya dengan mengayuh sepeda sendirian. Ia tidak pernah mengenal cape, dan selalu riang gembira. Dia anak yang baik dan selalu membantu. Namun penyakit buruknya adalah selalu bangun kesiangan dan selalu terburu-buru, karena dia selalu begadang, apalagi kalau ada acara pertandingan futsal. Maklum dia sangat suka pada olahraga futsal. Akhirnya Yoshi pun tiba di rumahnya.

“ Siang Bu…. Aku pulang…!!!”
“ Eh Yoshi, tenyata kamu sudah pulang nak !! ” Bagaimana sekolahnya ? Baik-baik saja, trus tadi kesiangan tidak.? ”
“ ah Ibu sampai segitunya, biasa saja kok… Untung tadi aku tidak kesiangan dan bisa mengikuti ulangan matematika. Trus tadi juga Hime ada di sekolahan Yoshi, dia sudah pulang dari Tokyo. Dan kembali sekolah disini, kebetulan kami sekelas dan duduknya juga dekat dengan aku ! ”
“ Oh… Hime teman kamu yang waktu kecil itu ya ? ”
“ iya …., sahut Yoshi sambil membereskan pakaian sekolahnya dan menggantinya dengan pakaian buat bermain “
“ Yoshi… makan dulu, ibu sudah siapkan di meja makan”
“ makasih Bu… Aku makan… ”
“ Setelah makan, jangan lupa kerjakan PR nya dan setelah itu baru pergi ke Toko bantu ayahmu. Nanti ibu nyusul ”
“ Baik Bu…”
“ Ibu… aku sudah selesai mengerjakan PR nya, aku berangkat ke toko duluan ya ”
“ Iya nak, hati-hati di jalan ya..! Nanti Ibu nyusul ! ”
Goes…. Goes… goes…. Yoshi mengayuh sepedanya menuju ke toko.
“ Siang ayah… gimana Tokonya, ramai ? ”
“ Iya ni Yoshi Tokonya lagi ramai, dari tadi ayah sendirian. Ibu kamu tadi kesini sebentar kemudian pulang lagi mau menyiapkan makan siang buat kamu. Karena tadi pagi kamu tidak sempat sarapan dulu”
“ Oh tadi pagi, aku bangun kesiangan. Tapi beruntung tidak telat masuk kelas, he…”
“ Ya udah, sekarang kamu antarkan pesanannya Bu Sukine yang ada di jalan sebrang sana ”
“ Baik yah…”
Hari sudah semakin sore, tokonya Pa Musashi juga akan segera tutup, Yoshi juga segera membantu ayah dan ibunya membereskan toko.
“ Ayah… Ibu…. Aku pulang duluan ya, hari ini ada jadwal latihan futsal di lapangan dekat jalan raya”
“ Pulangnya jangan larut malam ya… kan kamu harus belajar buat besok ? ”
“ Siap Bos…..”
Yoshipun kembali mengayuh sepedanya menuju lapangan futsal tersebut. Dan kemudian Yoshi juga sampai di tempat yang di tuju.
“ Lagi-lagi kamu telat Yoshi…”
“ Hime ko kamu ada di sini ? tapi aku senang ko, jadi ada yang menyemangati.. he”
“ iya.. tadi aku lihat banyak orang, jadi aku kesini saja. Ternyata ada jadwal latihan futsal ya.., tapi aku tidak bisa lama-lama di sini, sebentar lagi ayah pulang. Dan sekarang juga aku mau pulang. Oh iya Yoshi… semangat ya…” Dah Yoshi… !
“ Dah Hime…”
“ Yoshi… ayo buruan kesini, sahut semua teman-temannya yang sudah menunggunya”
Akhirnya merekapun memulai latihannya. Mereka sangat bersemangat, dan saling mempercayai, serta mereka juga kompak.
“ Teman-teman, bagaimana kalau kita ikut kejuaraan nasional dalam turnamen Futsal seasia”
“ Ah kamu ini Yoshi, mimpinya yang bukan-bukan saja ”
“ Ih tidak ada yang tidak mungkin kan, selama kita terus berusaha dan selalu memberikan yang terbaik kepada supporter kita”
“ iya juga ya Yoshi,.. kalau begitu , jika ada kesempatan acara tersebut jangan sampai kita lewatkan dan kita harus ikut dan selalu siap.”setuju teman-teman…?
“ ya,… kami setuju”
“ Baiklah hari semakin gelap, lebih baik kita pulang saja ”
Akhirnya merekapun bergegas pulang ke rumahnya masing-masing.
“ aku pulang.. , sambil membuka pintu dan menyimpan sepedanya…”
“ Segera mandi dan jangan lupa belajar, sahut ibunya Yoshi… !
“ Baik Bu….,,”
“ Ah aku mau mandi dulu, gerah nich…. Pasti segar kalau sudah mandi ”
Setelah mandi, Yoshipun langsung makan dan beres-beres kamar, kemudian dia mulai serius untuk belajar. Dan tidak bisa di ganggu. Saking seriusnya, dia tidak tahu waktu. Dan saat dia lihat jam dinding di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“ Aduh… sudah malam, aku tidur dulu ah, biar besok tidak kesiangan, dan bisa menjalankan sepedanya dengan tenang dan tidak terburu-buru ”
Akhirnya… tepat jam sebelas malam, Yoshipun tidur. Dan lampu kamar juga mulai di padamkan. Beberapa jam kemudian, terdengar suara…. Kringg… kringg… suara beker kembali membangunkan Yoshi. Dan untuk yang sekarang ini, Yoshi langsung bangun dan segera bergegas pergi ke kamar mandi.
Hidupnya penuh dengan semangat . Seperti halnya dia semangat kalau sudah berhadapan dengan yang namanya Futsal.
“ Pagi Bu….,? Yoshi menyapa ibunya yang sedang masak di dapur.
“ Pagi juga,,, Tumben pagi-pagi kamu sudah bangun Yoshi..”
Yoshi pun tersenyum… !! kemudian dia juga sarapan bareng ayahnya yang akan pergi ke Toko. Setelah selesai sarapan, Yoshipun berangkat ke sekolah.
“ Ibu… aku pergi..”
Hari ini, Yoshi mengayuh sepedanya dengan santai dan tidak terburu-buru.
“ Pagi teman-teman…?” Yoshi sudah sampai di sekolahnya.
“ Pagi Yoshi…, katanya hari sabtu bakalan ada acara seleksi futsal untuk di bawa ke liga Futsal se asia yang akan diadakan di Tokyo ?”
“ Bagus itu, sahut Yoshi, pokoknya kita jangan sampai ketinggalan ”
“ Baiklah teman-teman, kita semangat ya.. , o ia… semua anggota Team kita sudah tahu berita ini, Hatori.. minato…shiroi.. matsuka , dan yang lainnya ?”
“ sepertinya sudah..”
“ Kalau begitu.. baguslah ”
Teng….teng… teng… suara lonceng berbunyi dan murid-murid juga semuanya masuk kelas.
“ Pagi Hime…”
“ Pagi juga yoshi… , o ia Yoshi Team kamu akan ikut seleksi itu ya.. ? ”
“ iya Hime…, doa kan team aku selalu ya..? ”
“ Tentunya, aku akan memberikan yang terbaik. Dan kamu juga harus berusaha untuk memberikan yang terbaik juga.”
“ Aduh… rasanya ingin cepat-cepat hari sabtu, tapi… sebelumnya kami harus menyiapkannya semaksimal mungkin”
Beberapa jam kemudian, waktu menunjukan pukul setengah satu. Dan itu tandanya sudah waktunya anak-anak mengakhiri pembelajarannya di sekolah. Merekapun bergegas pulang .
“ Yoshi… berikan yang terbaik ya kepada kami semua, ucap Hime teman baiknya Yoshi
“ Tentu Hime…”!! Hime… duluan ya…?!!

“ Aku pulang…”
Seperti biasanya, Ibu Yoshi sudah menyiapkan makan siang buat Yoshi. Dan juga selalu memberikan sapaan yang hangat kepada Yoshi.
“ Bu… aku dan team futsal akan mengikuti seleksi Futsal se asia, mohon dukungan dan doanya ya Bu…”
“ Tentu Yoshi… Ibu pasti akan memberikan yang terbaik buat kamu nak…”
“ Baiklah Bu… Yoshi ke Toko dulu ya ”

“ Ayah… ayah, dimana sech ayah itu ?”
“ Ada apa sich Yoshi teriak-teriak… !!”
“ Yah… beberapa hari ini mungkin Yoshi hanya sebentar bantu-bantu ayah, karena Yoshi harus rajin latihan Futsal, kan Team Yoshi akan ikut seleksi Futsal se asia ”
“ Ya udah… tidak apa-apa kok, yang penting Yoshi berikan yang terbaik kepada kami semua ”
“ Terima kasih ayah…”
Beberapa hari telah berlalu, akhirnya hari itupun tiba. Yoshi dan teman-temannya mengikuti seleksi itu. Dan ternyata hasilnya langsung di beritahukan… kemudian,, Deg…deg…deg… semua jantung pemain berdebar kencang. Akhirnya team Fugo di sebutkan sebagai posisi yang ke tiga dari sepuluh besar. Bukan main senangnya para pemain itu. Mereka pulang dengan memberikan kabar yang membahagiakan kepada keluarganya.
“ Ibu… Ayah… Team kami berhasil dalam seleksi itu, dan bisa bertanding di Liga Asia”
“ Syukurlah Yoshi, kalian semua telah memberikan hasil yang membahagiakan, dan teruslah seperti itu, dan disana lawan kamu akan semakin kuat. Jadi berusaha lebih keras lagi ”
“ oh iya, ayah … ibu … minggu depan aku sudah harus berangkat, aku akan meninggalkan kalian berdua. Rasanya rumah ini nantinya akan sepi ”
“ Tidak apa-apa kok Yoshi, kami mengerti impian kamu. Dan kami juga akan memberikan yang terbaik buat kamu. ”
Hari itu telah tiba, Yoshi dan Teamnya akan segera berangkat ke Tokyo, mereka saling berpamitan kepada keluarganya.
“ Yoshi… hati-hati ya…, Ucap Hime sambil sedih merelakan kepergian temannya ”
“ iya Hime…., jaga dirimu juga ya… di sana aku akan selalu merindukanmu ” Yoshi juga tampak sedih.
“ Dulu aku yang meninggalkan mu, sekarang kamu yang pergi meninggalkan aku.”
“ Tapi ini kan buat sementara waktu, aku juga pasti akan kembali ”
“ Iya aku tahu…”
“ kamu harus yakin hime…?”
Yoshi…. Cepat,,!!! Teman-teman yang lainnya sudah menunggunya di dalam Bus .!!
“ Baiklah semuanya,aku pergi ya…!!” Dah ayah, ibu, hime… semuanya jaga diri kalian baik-baik?
“ jaga dirimu juga”
Akhirnya Yoshipun pergi meninggalkan semuanya. Untuk meraih impiannya, dia akan berjuang bersama teman-temannya disana. Berjuanglah Yoshi… Semangat dan jangan menyerah…!!!





Karashimori
Dahulu kala ada sebuah kerajaan yang megah dan luas. Tepat di pertengahan kota letaknya. Kerajaan itu bernama karashimori. Kerajaan itu di pimpin oleh raja yang bijaksana dan baik hati tentunya. Ia mempunyai dua orang anak. Anak yang pertama adalah seorang pangeran yang gagah berani, mewarisi sifat ayahnya. Sedangkan anak yang bungsu adalah seorang puteri cantik yang lugu, mewarisi sifat ibunya. Mereka hidup rukun dan saling menghormati satu sama lainnya. Mereka juga sangat dekat dengan rakyat biasa. Walaupun mempunyai tahta, namun tidak menjadikan mereka tinggi hati dan besar kepala. Sampai suatu saat terdengar berita bahwa ada orang yang iri atas kemakmuran desa tersebut, dan mereka mengajak perang, dimana yang kalah harus menyerahkan kerajaannya kepada pihak yang menang. Raja tidak setuju, namun tanpa kesepakatan apapun tiba-tiba musuh menyerang kerajaan itu. Dan perangpun akhirnya dimulai.
Serbu…… Ucap musuh yang hendak menyerang itu,, Akhirnya perangpun dimulai. Dengan dipimpin oleh Raja dan pangerannya. Raja itu bernama Shiroyka dan pangeran itu sendiri bernama Itsuka.
Pangeran Itsuka sangat lihai sekali memainkan pedangnya, apalagi ayahnya karena dia sendiri yang mengajari pangeran untuk bermain pedang. Dengan simpati dari rakyat dan partisipasinya juga begitu banyak. Raja dan Pangeran serta rakyatnya berjuang keras dalam peperangan ini, demi mempertahankan kerajaan yang selama ini telah dia bangun dan untuk kelangsungan rakyat yang ada. Maka usaha keraspun membuahkan hasil yang begitu baik. Kelompok musuh dapat dikalahkan oleh kerajaan Karashimori dan rakyatnya. Dengan begitu kerajaan itu juga bisa hidup dengan damai dan sejahtera.

When the Miracle has Came

Jauh dari keramaian kota dan kebisingan orang-orang, tinggalah seorang gadis yang baik hati dan lugu, bersama seorang bibi yang detia menemani dan selalu membantu gadis itu setiap harinya. Kesetiaan dan kesabaran bibi itu, mampu menjadikan sang gadis bertahan di rumah yang mungil, indah dan cantik itu. Terlepas dari keluarganya yang jauh disana. Walau demikian, sesekalli gadis itu juga suka pergi ke rumah orang tuanya.

Gadis itu bernama Miyuki Hachika, bersama seorang bibi yang bernama Matsuko. Tinggal berdua di rumah yang sederhana dan indah, disekitar pegunungan yang jauh dari kota. Rumah itu dirawatnya bersama-sama. Disana tanaman tumbuh dengan suburnya. Miyuki dan bibi Matsuko juga menanam sayur-sayuran di halaman belakang rumah. Kemudian di halaman depan, tumbuhlah berbagai jenis bunga dengan beralaskan rumput yang menghijau. Setiap pagi dan sore mereka selalu menyramnya dengan penuh kasih sayang. Sehingga bunga-bungapun seolah tampak riang gembira dan selalu tersenyum. Tidak jauh dari rumah, terdapat sungai yang bersih dengan bebatuan yang besar-besar dan ada juga ikan-ikan cantik yang bermain dibalik bebatuan tersebut. Sungguh suasana yang indah dan menenangkan hati.
“non Yuki bangun sudah siang, bukannya hari ini adlah hari pertama non mengajar di SD Kajo? Tu bibi sudah siapkan air panasnya . saat non mandi, bibi masak buat sarapannya. Cepaan bangun ya non?” Ucap bibi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya non Yuki.
“terima kasih bi, aku segera bangun. Bibi sudah mandi belum?” non Yuki bertanya kepada bibi sambil membereskan tempat tidurnya.
“ dari tadi juga bibi sudah mandi ”
Sambil menuju ke kamar mandi non Yuki berkata kepada bibi “ ya sudah kalau begitu nanti kita sarapan bareng”
Tidak lama kemudian dari percakapan itu, nona Miyuki pun mandi dan bibi Matsuko mulai memasak. Setelah beberapa menit, Miyuki juga selesai mandi dan langsung bergegas ke kamarnya untuk menata diri dan berpenampilan layaknya seorang guru SD.
Sambil sarapan, non yuki pun berbincang-bincang dengan bibi yang setia menemaninya. “ Bi, tidak terasa ya sudah lama kita tinggal di tempat ini. Sampai akhirnya aku juga mempunyai pekerjaan. Padahal rasanya aku baru saja ujian siding. Kemudian terakhir merasakan kebersamaan dengan keluarga adalah saat di wisuda dulu ya?, dulu aku tidak mau jauh dari orang tua. Sampai kuliahpun aku tidak berani ngekost dan memilih pulang pergi sendiri saja, dengan mengendarai motor. Tapi sekarang aku sudah berani tinggal di tempat yang bukan sekedar jauh dari keluarga. Terima kasih ya bi, bibi selalu menemani aku.” Ucap Yuki sambil membayangkan masa-masa kuliah dan bersama keluarga dulu.
Bibi juga mulai pembicaraannya dengan penuh harap dan meyakinkan agar non Yuki selalu bertahan untuk mencari kebahagiannya sendiri. “iya non, sama-sama. Bibi juga senang bisa mengurus dan selalu menemani non. Non juga jadi terlihat lebih dewasa. Oh iya non, pesan bibi dari mamah non adalah jangan sedih, dan harus selalu sabar dalam mendidik anak-anak di sekolahan nanti. Jangan cepat marah, he…”
“iya bi, aku juga masih ingat selalu perkataan dan pesandarimamah itu. Aku pasti berusaha. Bi, nanti pas aku menerima gaji pertama, kita main ke rumah mereka ya ? sudah lama tidak main kesana !” ajak non Yuki kepada Bibi dengan wajah berseri-seri dan senyuman yang tulus.
“ Dengan senang hati bibi pasti ikut dengan non. Oh iya non, mau bawa bekal tidak buat istirahat di sekolah nanti ?”
“Boleh, roti yang special ya…?? Bi, habiskan dulu sarapannya?”
“baik non,,”
“ oh iya bi, bunga-bunga dan sayuran yang di belakang sudah disiram belum ?. mungkin sekarang ini aku belum sempat menyiram bunga-bunga dan halaman, tapi kalau sore aku pasti bisa. Kan hanya sampai siang saja, kecuali ada jam tambahan untuk anak-anak tertentu. Maaf ya bi, jadi merepotkan bibi. Padahal waktu kemarin-kemarinkita selalu mengurusnya bersama-sama” Dengan sedikit menyesal, non Yuki menyerahkan pekerjaan menyiram bunga-bunga kepada Bibi Matsuko.
“ Tidak apa-apa non, jangan Memikirkan hal tersebut. Sekarang focus saja pada pekerjaannya. Biar bibi yang mengerjakannya.”
“ okee… bibi memang yang terhebat. Ini rotinya sudah kan ? aku bawa ya ?.. pasti enak, dan nanti wajah bibi pasti hadir… hehe. Kalau begitu aku berangkat ya? Dah bibi…”
“iya, hati-hati di jalannya. Semoga sukses, jangan lupa berdoa”
Non yuki kembali lagi ke rumah dan mengajak bibi untuk menemaninya “ eh bi, antar yu… aku kan tidak berani jalan sendiri. Sampai ke jalan raya saja, dari sana aku pasti bisa sendiri “
“ iya non, tunggu sebentar bibi mau kunci rumahnya dulu.”
“ ayo bi, kita berangkat ?”, seperti yang tergesa-gesa.
“makannya, cepat-cepat punya pacar dong ?, biar nanti bisa di jemput dan pergi bareng dia. Dan dapat terlihat lebih dewasa benaran. Kalau dengan bibi terus, terlihatnya seperti anak kecil kan ?” munuju jalan raya.
Non Yuki juga menjawabnya dengan penuh harap.” Iya juga sih bi, tapi ya itu… aku tidak tahu dengan perasaan aku. Seandainya saja cerita dalam komik itu bisa terjadi pada aku juga, pasti aku akan bahagia. Dicintai oleh orang yang kita sukai. Tapi bi, aku belum pernah merasakan indahnya yang demikian. Aku memang pernah menyukai seseorang, tapi aku tidak pernah disukai oleh dia. Begitulah seterusnya, sampai akhirnya aku juga membuang perasaan seperti itu. Dan aku juga tidak menyadari kalau usia aku sudah menginjak usia yang dewasa, dan harusnya bisa bertanggung jawab, termasuk bertanggung awab pada persaan sendiri.”
Untuk meyakinkan non Yuki, bibi pun menasehati dan menjelaskan sesuatu kepada non Yuki.” Non, bibi yakin suatu saat nanti, non akan menyukai seorang pemuda yang kemudian pemuda tersebut menyukai non juga, bahkan dia akan mampu menjaga non dan mencintai serta sayang pada non dan keluarga non”
“begitu ya bi.. seperti di komik saja !1, bi itu ada ojeg, aku berangkat ya ?”
“iya non, hati-hati… sambil menyelam minum air..hehe…”
“ apaan sih si bibi itu, tidak mengerti.”
“ Begini non, sambil mengajar bisa mendapatkan seorang pacar, sahut tukang ojeg menyambung pembicaraan non yuki dengan bibi matsuko”
“ dasar orang-orang senang ya mengejek aku. Ke SD Kajo ya pa ?”
“ siap non.. !!” non, sudah sampai nih”
“ terima kasih ya pa.. ni uangnya”
Sejenak Yuki terdiam, melihat suasana SD yang berbeda dengan kehidupannya yang sekarang. Kebiasaan Yuki hidup berdua dengan bibi Matsuko juga berpengaruh. Disini, Yuki harus terbiasa mendengarkan dan melihat keramaian. Karena dia sudah menjadi ibu guru Miyuki, yang pekerjaannya adalah mendidik anak-anak lebih dari satu, dengan sikap dan sifat yang berbeda-beda. Memahami tingkat perkembangan anak adalah hal yang diajarkan waktu kuliah dulu.
“ Ramai sekali ya, pasti menunggu bel berbunyi. Orang tua murid juga ada, mngkin mereka menemani anaknya yang baru masuk kelas satu. Waah yang jualan juga banyak, pasti karena anak-anak suka jajan.. hehee. Aduh, ngomong-ngomong aku belum tahu ruang kepala sekolah. Dimana ya.. ?” ucap Yuki dalam hati.
“ Pagi Bu guru… ?” anak-anak menyapa Yuki
“ Pagi juga…” anak-anak mulai mengetahui aku uru ya, berarti penampilan aku sudah seperti seorang guru… hehehee.. “syukurlah”, ucapan dalam hati
Terlihat ada pemuda yang umurnya tidak jauh dari Miyuki dan mulai menyapa sambil bertanya. “Pagi… Bu Miyuki ya ?”
Dengan terharu Yuki menjawab. “iya, anda siapa ya ?, maaf baru pertama datang kesini”
“saya, Akio guru kelas 5a.? saya tahu saat rapat kemarin kalau hari ini akan kedatangan guru baru. Saya fikir karena baru lihat anda, jadi saya beranggapan anda yang namanya Miyuki, ternyata benar. Salam kenal ?” ucap Akio sambil tersenyum ramah.
Dengan malu-malu Yuki menjawab dan mulai bertanya kepada Akio,” salam kenal juga… maaf, boleh bertanya ?”kalau ruang kepala sekolah itu sebelah mana ?. saya bingung mencarinya”>
“oh kalau begitu, biar saya antar saja ya ?”
“iya, maaf jadi merepotkan anda”. ucap Yuki sambil melangkahkan menuju ruang kepala sekolah.
“tidak apa-apa, itu sudah menjadi kewajiban saya “. “nah itu dia ruangannya, kita sudah sampai, silahkan ke dalam”
“terima kasih pa Akio, senang berkenalan dengan anda”
“sama-sama senang juga bisa kenaldengan anda “. Akio mulai melanjutkan langkahnya ke ruang guru.
Percakapan Miyuki dengan Akio, menjadikan harapan yang besar untuk membukakan perasaan hati Miyuki akan hadirnya kembali kehidupan yang penuh dengan cinta. Namun tidak semudah itu, siapa tahu itu hanya kebetulan saja. Dan khayalan dicintai oleh orang yang kita sayang kita sukai hanya ada dalam cerita komik.
“tok…tok…tok.. permisi pa ?” ucap Yuki sambil membuka pintu dan menyapa Bapak Kepala Sekolah.
“silahkan masuk, silahkan duduk “
“terima kasih …”
Bapak Kepala Sekolah langsung memulaipembicaraannya. “ Bu Miyuki ya, selamat bergabung dengan sekolahan kami. Saya harap, ibu betah mengajar disini. Dengan ketidaksempurnaan fasilitas yang ada. Saya menempatkan ibu Miyuki di kelas 5a, lebih lanjutnya anda bisa berkonsultasi dengan Pa Akio guru yang sama mengajar di kelas 5”
“baik pa, saya akan mengabdi di sekolahan ini. Sekali lagi terima kasih banyak”
Sambil bersalaman, Bapak Kepala Sekolah berkata.” Sama-sama, terima kasih juga atas kerja samanya”
“baik pa, saya permisi dulu ?”
Mengakhiri pembicaraannya dengan Yuki pak Kepala Sekolah mempersilahkan Yuki untuk keluar dari ruangan Kepala Sekolah.
Miyuki berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah, sambil melihat-lihat lokasi sekolahan disekelilingnya. Situasinya sudah mulai tenang. dikarenakan bel sudah berbunyi. Miyuki meneruskan langkajnya untuk mencari kelas 5a. berhubung Miyuki belum tahu kelas 5a itu berada di sebelah mana, maka Miyuki memutuskan untuk ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru, miyuki baru sadar kal dia belum mengetahui mejanya berada di sebelah mana. Akhirnya Miyuki juga keluar lagi dan mulai mencari kelas 5a.
“bu… ibu Miyuki, tunggu sebentar..!!” ucap Akio sambil mengejar Yuki
“Ef, pa Akio, Kebetulan, saya dari tadi mencari kelas 5a itu sebelah mana ya ?”. yuki bertanya lagi kepada akio.
Mereka mulai berbincang-bincang sambil melangkahkan kakinya menuju ke kelas. “oh, ibu Miyuki juga mengajar kelas 5a ya, kebetulan kelasnya bersebelahan dengan kelas yang di ajar oleh saya. Kita kesana bareng-bareng saja ya ?”
“iya, terima kasih banget ya,,,, dari tadi saya selalu merepotkan anda. Anda baik ya?”. Yuki memuji Akio dengan polos dan ketulusannya.
“ah biasa saja, itukan sudah menjadi kewajiban kita kepada sesama rekan kerja”
“iya sih, tapi anda beda !!”, ucap Yuki meyakini Akio.
“Masa sih, jadi malu…” “nah Bu, ni sudah sampai. Tu kelas anda”, sambil menunjuk kelas 5a.
“oh iya, jangan panggil Miyuki, panggil saja Yuki”
Dengan senyumannya, Akio berkata. “siap Bu guru…”
Miyuki mulai memasuki kelas, dan bertemu dengan anak-anak yang menjadi muridnya. Terlihat dalam raut wajah Yuki yang memancarkan aura kebahagiaan berada di sekolah itu.
“pagi…. Anak-anak “. Yuki mulai mnyapa muridnya
“pagi Bu….”, teriakan anak-anak yang terlihat senang dengan kedatangan Bu Miyuki.
Sambil perkenalan. Yuki memulai pembelajarannya. “anak-anak sudah tahu bekum siapa nama ibu, perkenalkan nama ibu adalah Bu Miyuki. panggil saja Bu Yuki. Mulai hari ini, ibu akan mengajar disini. Bersama-sama kalian, kita belajar dengan baik ya?” “Nah anak-anak, pelajaran pertama kita adalah bahasa Indonesia, kita mulai dengan menulis dan mencertakan sebuah cerita. Anak-anak pasti senang dengan yang namanya cerita, dan mungkin di kelas-kelas sebelumnya telah belajar tentang cerita. Sekaang kalian keluarkan peralatan tulisnya. Pelajaran akan segera dimulai”
“baik bu….” Ucap anak-anak.
“Baik anak-anak, cerita itu banyak jenisnya. Ada yang berasal dari pengalaman kita sendiri, ada juga hasil rekayasa dan khayalan saja, ada juga yang mencertakan tentang hewan, dan banyak lagi, tadi ibu sudah menjelaskan sekilas. Sekarang tugas kalian adalah menulis sebuah cerita dengan tema bebas, kalu ada yang mau di tanyakan acungkan tangannya”
“bu… ceritanya tentang apa.?”. Tanya salah satu murid yang ada.
Dengan penuh kebahagiaan. Yuki memjawab pertanyaan muridnya.”terserah kalian, tapi lbih baik adalah yang menurut kalian mudah. Dan menurut ibu lebih mudah itu adalah cerita tentang pengalaman pribadi”
“baik bu..”
Teng…. Teng…. Teng…. suara lonceng berbunyi membangunkan pikiran anak-anak untuk segera beristirahat.
“bu… sudah bel?”, anak-anak mulai rebut ingin keluar.
“baiklah kalau begitu, pelajaran hari ini cukup sekian dan untuk tugasnya, di PR kan saja. selamat istirahat ya anak-anak”
“Bu yuki, sudah makan belum ? kita makan bareng yu di kantin sana”, ucap Pa Akio yang mulai menghampiri Bu Yuki.
“Baiklah, terima kasih banyak. Oh iya Pa akio..
Memotong pembicaraannya Akio menyanggah.” Ach jangan panggil Pa Akio, panggil saja Akio.. lagian seperti umur kita tidak jauh beda kan?”
Iya pa, maksud saya Akio…”. Tapi Akio saya belum tahu dimana meja saya. Tadi juga saja mau ke ruang guru, tapi berhubung mejanya tidak tahu jadi saya keluar lagi dan untungnya bertemu dengan anda, sehingga saya datang ke kelas dengan tepat waktu. Saya berhutang banyak kepada anda.”
“oh itu hal yang mudah, kalau tidak salah meja anda ada di sebelah saya. Untuk lebih jelasnya nanti kita cari. Sekarang kita ke kantin saja dulu”
“Akio, tadi saya membawa bekal dari rumah. Bibi yang membuatkannya. Kira-kira sekarang bibi sedang apa ya ?”. (uca yuki dalam hati)
Dengan hangat Akio bertanya sesuatu kepada Yuki. “Yuki sangat sayang ya pada bibi, selain bibi ada siapa lagi di rumah? Dan kalau boleh tahu alamatnya dimana?”.
Keyakinan Yuki, kalau Akio itu adalah pemuda yang baik dan selalu membantunya. Sehingga dia memberitahukan alamatnya kepada Akio. “ Saya tinggal berdua, di daerah yang terjauh dari kebisingan dan keramaian. Saya juga tidk tahu sih alamatnya, yang jelas hanya ada rumah saya dan tempatnya juga sepi dan damai. Sebenarnya saya merahasiakan keberadaan rumah itu, karena takut ada orang jahat yang datang kesana. Berhubung saya percaya kepada anda, oleh karena itu saya beritahukan ini kepada anda.”
“Yuki, bagaimana kalau pulangnya saya antar”. Ajak Akio, dengan tatapan ketulusan.
“ah jangan, itu merepotkan. Dari tadi saya sudah banyak merepotkan anda”
Untuk meyakinkan Yuki. Akio berkata “tidak apa-apa, lagi pula jalurnya sama kan?”
“iya juga, kalau begitu baiklah”. Ucap Yuki sambil tersenyum menyiakan tawaran Akio.
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Kembali meributkan suasana anak-anak yang sudah kangen kepada rumah dan orang tuanya, anak-anak yang sudah mulai bosan. karena seharian mereka berfikir dan belajar. Bel yang kembali membuat anak-anak tertawa gembira, karena sbentar lagi mereka akan makan masakan ibunya.
Sesuai dengan janjinya, Akio juga mengantarkan Yuki pulang.
“Akio, apa tidak merepotkan dari tadi membantu saya?, tapi kalau bukan Akio, saya dibantu oleh siapa ya, kan belum ada yang kenal. Beruntung sekali bisa kenal dengan Akio. Seperti di komik saja, tapi kalau akhirnya mungkin tidak sama seperti yang di komik. Indah ya, cerita di komik itu. Saya juga suka iri, dengan kisah-kisah cintanya. Komik, ataupun dongeng, semuanya selalu berakhiran dengan kebahagiaan.”Ucap Yuki, dengan tidak sadar kalau dia sudah bercerita tentang hati yang selama ini selalu kesepian.
“oh jadi begitu ya…? “. Akio menghentikan kendaraannya dan menatap tajam mata Yuki.
“Tidak, ini tidak mungkin. Ini hanya mimpi. Tolong jangan sakiti aku..!1”. yuki gugup dan mau menangis.
“Hai… kenapa takut?, jangan takut..! Aku tidak akan menyakitimu, aku akan melindungi kamu.” Ucap Akio sambil memeluk Yuki dengan penuh kasih sayang dan meyakinkan Yuki untuk percaya kepadanya.
Sekitar setengah jam perjalan, akhirnya merekapun sampai juga ke rumah Yuki, dan seperti biasanya bibi Mitsuko sudah siap menyiapkan makan siang buat non Yuki.
“Ayo Akio, masuk… kita makan siang dulu ya ?”
“iya, baik. Terima kasih banyak “ucap Akio sambil menuju ke dalam.
“maaf ya, ruangannya tidak luas dan tidak megah. Sederhana…” Akio merendah tentang keadaannya.
“ah tidak.. kita harus bersyukur tentang apa yang kita miliki, jangan pernah membanding-bandingkannya dengan orang yang lebih dari kita. Kita harus selalu melihat orang lain yang kelaparan, yang tidak mempunyai rumah. Mereka gelandangan, mereka kepanasan, dan mereka juga akan kedinginan dan kehujanan, karena mereka tidak mempunyai tempat berteduh. Dengan begitu kita tidak akan mengeluh dan selalu beruntung serta bersyukur kepada yang Maha Kuasa. Kamu mengertikan Yuki ?” Akio sedikit menasehati Yuki.
Bibi juga memberikan pendapat.” Iya non, apa yang di bilang oleh pemuda itu sangat benar.”
“iya…iya aku salah.. terima kasih ya semuanya…?” jawab Yuki sambil tersenyum.
Beberapa jam telah berlalu, Akio juga sudah pulang. Dan seperti biasanya di rumah hanya ada Yuki dan Bibi Matsuko. Hari-hari Miyuki sudah mulai membaik. Tidak terasa sudah satu bulan Yuki mengajar. Di sekolah juga Yuki sudah akrab dengan rekan guru yang lainnya. Sesuai dengan janjinya. Yuki juga pergi ke rumah orang tuanya. Namun, bukan hanya berdua saja dengan Bibi Matsuko, Akio juga ikut. Karena setelah seminggu mereka bertemu, mereka pun akhirnya jadian. Jadi kira-kira mereka hubugan baru sekitar 3 minggu. Mituki senang, karena dia bisa merasakan indahnya cerita dalam komik yang bisa menjadi kenyataan. Akio cinta mereka tulus. Ketulusannya menjadikan mereka selalu bahagia. Dan sekitar 8 bulan pacaran, mereka juga melangsungkan ke jenjang pernikahan. Rumah tangga mereka sangat rukun. Sekarang rumah yang ada di sekitar pegunungan itu dihuni oleh 4 orang, yaitu Akio, Miyuki, Bibi Matsuko yang masih setia menemani mereka dan Ami, anak laki-laki mereka. Nama yang diambil dari awalan nama ayah dan ibunya.
Sekian lama memendam perasaan tentang hatinya. Kebiasaan membaca komik, dan selalu senang dengan yang namanya cerita. Miyuki sangat mencintai Akio, begitu pula sebaliknya. Dari awal bertemu, Yuki sudah suka kepada Akio. Namun semuanya disembunyikan saja dan berusaha untuk tidak dimunculkan. Karena takut dia sudah salah menyukai Akio. Tapi ternyata Akio juga menyukai yuki dan dia ingin melindunginya. Ketika saat itu tiba, Miyuki menjadi bahagia dan percaya akan adanya cinta sejati dan percaya juga bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Sungguh indah dicintai dan disayangi oleh orang yang kita sukai. Sekarang Miyuki tidak iri lagi dengan kisah-kisah cinta yang terdapat di komik, dongeng ataupun cerita sinetron. Karena dia bisa merasakannya . selamat ya, buat Miyuki karena sudah mendapatkan mimpinya menjadi kenyataan. Tidak sia-sia selama ini Miyuki sendirian, kalau akhirnya bisa hidup berdampinhan dengan orang yang mencintainya dan dicintainya. Itu tiada lain adalah Akio.
“ Memang indah ya cerita itu. Pangeran dan puteri, sebutan dan pasangan yang cocok. Menyukai dan disukai, dicintai dan mencintai, dilindungi dan melindungi adlah makna yang sempurna. Aku bahagiaaaa….”
Terima kasih Akio,
Engkaulah yang terbaik.
by Ika

Dimensi Lain Sang Pelukis

Ini adalah desa Impian dimana semua orang yang hidup disini akan merasakan kebahagiaan dan senantiasa hidup damai. Setiap kepala keluarga bertanggung jawab atas keluarganya. Lingkungan yang bersih dan terawat menjadikan desa ini sebagai desa yang diakui oleh Negara dan patut di contoh. Desa ini juga mendapatkan penghargaan dari kepala Negara sebagai desa terbersih dan terkreatif pada tahun ini. Lukisan yang menggambarkan keadaan desa adalah salah satu karya desa ini yang dilukis oleh pelukis yang selalu menjaga perasaan orang lain dan baik hati. Ia bernama “ Sasaki Qudo ”. Lukisan itu merupakan peninggalan yang bersejarah bagi desa ini, dikarenakan sejak saat itu Sasaki mulai menghilang dan tidak pernah muncul lagi di desa. Ditanyakan kepada keluarganya pun mereka tidak tahu apa yang telah terjadi pada ayah yang meninggalkan istri dan dua orang anak ini, namun yang mereka yakini bahwasannya suatu hari nanti, ayahnya akan kembali ke rumah dengan selamat dan baik-baik saja. Ia akan tersenyum dengan senyuman penuh makna untuk semua orang yang menantikan kepulangannya.
Hari itu cuaca sangat cerah, indah dan hangat. Liburan musim panas telah tiba. Semuanya menikmati musim liburan sekarang ini. Ada yang pergi ke pantai atau piknik bersama keluarga, ada juga yang menghabiskan waktu seharian dengan bermain-main di taman bermain Toygatsu. Menyenangkan bila bisa piknik dengan semua anggota keluarga seperti teman-teman yang lain, namun tidak untuk Tsuchi maupun Sai. Sejak kasus hilangnya pelukis itu, mereka menikmati liburannya tanpa kehadiran seorang ayah. Sebenarnya dari hati kecilnya, mereka sangat sedih dengan hilangnya ayah yang tidak jelas itu. Namun mereka tetap terlihat ceria jika sedang bersama teman-teman yang lain, tidak pernah menunjukan wajah yang sedih. Dan Tsuchi maupun Sai tetap mempunyai banyak teman, apalagi mereka mempunyai bakat menggambar yang membuat teman-temannya semakin tertarik dengan gambar yang selalu di buat mereka.
“ Kakak… Lukisan yang dibuat Chi tidak sebagus dan seindah punya kakak, sedangkan lukisan kakak begitu indah melebihi yang dibuat ayah ”. Begitulah ucapan yang selalu dilontarkan oleh anak yang baru duduk di kelas 2 SD itu, jika dia melihat Sai sedang mencoba menggambar sesuatu yang ingin digambarnya. Terkadang segelincir pertanyaan muncul, masa anak-anak yang rentan terhadap rasa ingin tahu yang besar itu ada pada diri Tsuchi. Dengan penuh kasih sayang, kakak seorang adik itu menjelaskan satu per satu pertanyaan yang diajukan adik tersayangnya. Malam semakin larut, Ibu telah memanggil Tsuchi untuk segera tidur. Dengan ditemani Ibu yang selalu membacakan cerita sebelum tidur, selang beberapa jam akhirnya adik kecil yang lucu itu bisa tertidur pulas.
Paginya di hari minggu pada musim panas , Sai memutuskan untuk mengahabiskan waktu seharian ini di taman bermain Toygatsu. Kali ini dia pergi sendiri tanpa adiknya Tsuchi. Berbekal uang dan peralatan gambar, dia pun pergi menuju ke tempat itu.
“ ternyata benar dugaanku, tempat ini selalu ramai dan penuh suasana hangat. Aku tidak boleh iri ”. Hmmm… gumamnya dalam hati seraya menuju tempat yang teduh dan cocok untuk membuat lukisan. Sejenak dia berdiam diri sambil menatap langit dalam birunya yang cerah. Dia duduk dan membuka makanan yang sempat di beli dekat gerbang depan. Matanya menerawang jauh seolah ada beban besar dalam benaknya, apa itu ada hubungannya dengan ayah yang hilang ? (n’tahlah). Makanannya mulai dimakan dan anehnya tampak lahap saja. Mungkin itulah yang namanya Sai.
Saat Sai mau menggambar dan mulai berkonsentrasi, tiba-tiba bayangan ayahnya muncul dalam kanpas dan terdengar suara anak kecil yang meminta tolong. Sai pun mencari-cari arah suara itu, namun situasinya seperti biasa-biasa saja.
“ toloooong… toloooong….” Suara itu nampak jelas sekali. Sai terlihat panik, dan mencoba menanyakan kepada orang-orang terdekat yang ada di sekitanya. Namun mereka tidak mendengar apa-apa, sedangkan suara itu nampak jelas di telinganya. Ia pun kembali ke tempat semula, kemudian suara itu tampak dekat sekali. Akhirnya Sai menutup mata dan meraba kanpasnya, tiba-tiba tangannya tertarik ke dalam kanpas itu. Sai pun menghilang bersama kanpas dan peralatan lukis lainnya.
Sesaat kemudian keadaan menjadi gelap tak ada siapa-siapa hanya terdengar suara angin yang lewat seakan menyapa, matanya masih tertutup, namun telinga yang mendengar keadaan sekeliling menjadikan Sai ingin sekali membuka matanya dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Akhirnya ia tersadar dan secara perlahan-lahan matanya terbuka.
“ makasih tuan Sai kamu telah sudi menolongku ”, suara yang mengusik kesadaran Sai itu selalu memberikan senyuman yang tulus yang hanya dimengerti oleh orang-orang baik hati dan selalu menjaga perasaan.
“ suara itu, siapa dia ?” ucap Sai sambil tertatih-tatih untuk bangun dari tidurnya.
“ hati-hati tuan, maaf ini aku Ling-ling?”
“ Hah… bukannya kamu bonekanya Tsuchi, kenapa bisa bicara dan ada di tempat seperti ini. Aku juga kenapa ada di tempat aneh seperti ini?”
Ling-ling pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sai telah berada di suatu ruang Dimensi lain, tepatnya sekarang ia berada di dimensi waktu masa lalu, melalui kanpas itu dimensi ini terbuka. Terdapat tiga dimensi dalam kehidupan, yakni dimensi masa lalu, masa kini dan masa yang akan mendatang. Untuk kembali ke masa kini, ia harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu yakni memenuhi ruang yang ia tempati dengan lukisan. Dan objek gambar juga harus dari masa lalu. Melalui layar yang ada di depan, ia akan melihat masa lalu. Mengenai ayahnya, tuan Sasaki juga ada di tempat ini, mungkin dalam ruang yang berbeda. Semuanya ada 100 ruangan yang mempunyai objek dan bentuk berbeda-beda. Misi ini harus selesai selama satu tahun. Dan satu tahun di dimensi ini artinya satu bulan di dimensi masa kini. Tujuan sebenarnya misi ini adalah untuk membuat kehidupan di dimensi masa lalu. Suatu saat setelah 100 ruang itu di penuhi dengan lukisan, maka dengan sendirinya lukisan itu akan menjadi hidup dan mulai melaksanakan kehidupannya di dimensi tersebut.
“ ayah…… aku ingin bertemu dengan dia. Aku harus membawa ayah pulang secepatnya ! baiklah aku tidak mengerti dengan semua ini tapi yang jelas akan aku kerjakan dan bisa bertemu dengan ayah ”.
Suara jarum jam terus berdetik dan memutarkan waktu. 12 jam telah dilalui Sai dengan terus duduk di depan kanpas seraya berkonsentrasi memandangi layar yang menyimpan banyak objek yang akan di gambarnya. Sudah banyak lukisan yang jadi, dia tetap semangat dan berharap cepat selesai. 10 bulan telah berlalu, tugasnya semakin sedikit saja, dan selang beberapa minggu dia sudah menyelesaikan semuanya.
“ Anda telah menyelesaikan semua tugasnya, terima kasih. Masih ada waktu 1 bulan 2 minggu 2 hari untuk ganjil satu tahun dan menuju dimensi masa kini. Anda dapat keluar dari ruang ini dan menikmati sisa waktu dengan berjalan-jalan di dimensi ini.” Ucap seseorang berjubah yang nampak di Layar objek lukisan.
“ Aku…. Aku hanya ingin bertemu dengan ayah dan pulang bersamanya? Dimana Ayahkuuuu.., suara Sai mengusik keheningan ruangan itu.
“ Oh… maksudnya Sasaki ya, tenang saja dia sudah selesai melaksanakan tugasnya. Dia selalu mengulur waktu kembali ke dimensi masa kini hanya karena ingin membantu ruangan lain yang kesulitan melukis masa lalunya. Dia benar-benar pelukis baik hati dan selalu mencoba meluruskan masa lalu setiap ruangan yang mengalami kesulitan”.
Setelah laki-laki berjubah itu selesai berbicara pada Sai, maka layarnya menghilang seketika. Dengan sendirinya Sai sudah ada di luar ruangan itu, namun masih tetap dalam dimensi masa lalu. Dalam pikirannya dia selalu ingat ayahnya dan ingin pulang bersamanya. Dia sendirian dan terus berjalan tanpa arah di tempat yang tidak ia kenal. Di bawah pohon besar yang rindang itu ia duduk dan bersandar. Ia merasa cape dan masih belum bisa mengerti dengan semua yang terjadi, ” kenapa aku ada di tempat semacam ini, kenapa harus aku, ayah juga. Kasihan Ibu dan Tsuchi pasti khawatir di rumah hanya berdua ”. Besok harus sudah pulang tapi kenapa aku belum bertemu dengannya (Kenapaaaaa). Suaranya keras sekali.
“ Maaf membuat kamu menunggu terlalu lama Sai ”, laki-laki itu mendekati Sai yang sedang emosi. Sai menangis dan memeluk ayahnya yang berdiri tegak di depannya. Pertemuan itu akhirnya terwujud juga, keyakinan bahwa ayahnya masih hidup ternyata benar. Hari ini adalah hari terakhir mereka ada di dimensi masa lalu, dengan sedikit waktu menunggu besok, sang ayah menjelaskan semua yang telah terjadi. Akhirnya Sai juga mengerti dan memahaminya. Keesokan harinya, semua orang yang ada di dimensi itu berkumpul dan laki-laki berjubah yang nampak di layar objek lukis akhirnya menampakan wujud sebenarnya. Ia berkata “ terima kasih atas kerja samanya, mohon maaf caranya yang salah. Disini masa lalu kalian semua akan kami jaga sebaik-baiknya. Sekarang kalian pulanglah, gerbangnya akan segera terbuka. Selamat tinggal dan damailah selalu dalam kehidupan yang dijalani”. Setelah itu mereka kembali ke kehidupan normalnya. Sai pun pulang ke rumah di dampingi oleh ayahnya, ketika itu Ibu dan Tsuchi telah menunggu di teras luar. Kini keluarga Sasaki telah lengkap kembali, kehidupan damai dan bahagia bersama keluarga yang seakan terlahir kembali.
***
By Rika itu Ika

Putri Nastasia

Dahulu diceritakan bahwasannya tidak jauh dari pegunungan Twin ada sebuah kerajaan yang bernama Greenwich dengan luas mencapai ratusan hectare dan keadaan alam yang asri. Di tengah kerajaan itu terdapat istana megah milik seorang Raja dermawan yang baik hati, bersama sang Ratu yang senantiasa mendampinginya. Istana itu di jaga ketat oleh pengawal-pengawal yang bertugas. Suatu ketika sang Ratu ingin jalan-jalan, maka Raja pun tidak bisa menolak. Akhirnya dengan didampingi oleh pengawalnya mereka jalan-jalan ke luar istana. Alangkah terkejutnya sang Ratu ketika melihat masih ada rumah penduduk yang tidak layak. Maka setelah itu Ratu membicarakannya kepada Raja. Dengan persetujuan dari Raja maka ide sang Ratu segera dilaksanakan oleh pengawal-pengawalnya. Keesokan harinya Raja dan Ratu bisa tersenyum karena telah mendapati kabar kalau semua rumah penduduk sudah layak ditempati.
Pada suatu hari, Raja dan Ratu mendapati mimpi yang sama yaitu adanya kehadiran bayi imut dan lucu di dalam istana. Suara tangisannya yang sangat jelas itu membangunkan tidur mereka disaat bersamaan. Raja berkata “ apa yang sebenarnya terjadi ?, apakah ini pertanda kalau doa dan usaha kami tidak sia-sia dan akan segera terwujud. Tuhan, berikanlah petunjuk-Mu agar kami mendapatkan keturunan. ” ( Amiin )_!!! Akhirnya mereka kembali untuk meneruskan tidurnya, namun ada suara yang mengusik mereka hingga tidak bisa tidur kembali. Suara tersebut terus menyebut-nyebut nama mereka.
“ Berbahagialah William dan Elizabeth, kalian memimpin kerajaan ini dengan bijaksana. Kalian benar-benar Raja dan Ratu yang pantas.”
Mereka bingung dan bertanya-tanya, “ sebenarnya siapa dia dan arah suara itu tidak jauh dari sini ”. kemudian sesuatu yang bersuara itu menampakan dirinya.
“ maaf membuat kalian bingung, aku hanyalah seorang peri yang bertugas untuk menjaga dan melindungi orang-orang baik hati seperti kalian. Doa kalian sudah terkabul oleh Tuhan dan kalian akan segera mempunyai keturunan. ”
Sebelum sang peri menghilang ia sempat memberikan kalung pelindung agar keturunan Raja dan Ratu mewarisi sifat baik mereka dan tidak terkena hawa-hawa jahat disekitarnya. Sang Peri juga berkata kalau suatu hari nanti akan terjadi kejadian aneh, maka dari itu mereka harus mengetahui tentang hutan hidden yang terletak di balik air terjun Miracle Water. Hutan itu adalah tempat berkumpulnya para pemilik sayap putih, sehingga hanya orang yang berhati bersihlah yang dapat mencapai dan menemukan tempat itu. Dengan kata lain tempat itu hanya dijangkau oleh anak-anak yang mempunyai niat menolong secara ikhlas dengan ketulusan dan hati yang bersih.
Beberapa minggu kemudian, tampak jelas kalau sang Ratu benar-benar hamil, maka mereka senantiasa selalu berdoa untuk keselamatan keduanya dan saat kelahirannya mendapati bayi imut yang sehat. Waktu terus bergulir tanpa henti, semakin hari usia kandungan sang Ratu semakin tua dan pada akhirnya mencapai batasnya juga. Pada usia kandungan yang 9 bulan itu Ratu melahirkan seorang bayi yang sehat, imut dan cantik. Seorang Putri penerus tahkta kerajaan yang bernama Nastasia. Nama yang cantik dan indah seperti rupa dan senyumannya yang menawan. Itulah Putri Nastasia penerus kerajaan Greenwich yang akan menjadi seseorang sangat berarti bagi seisi istana dan segenap rakyat.
Delapan tahun kemudian sang putri tumbuh menjadi putri cantik yang baik hati. Ia berteman dengan siapa saja bahkan dia telah mempunyai sahabat dari golongan biasa, namanya Stevani. Anak Yatim yang hanya tinggal berdua dengan seorang ibu. Ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan ibunya. Kemana-mana mereka selalu berdua dan selalu berbagi satu sama lainnya. Pada suatu hari ketika mereka tengah asyik bermain di taman bunga halaman belakang istana, tiba-tiba saja langit menjadi mendung dan awanan hitam terus datang mengelilingi istana dan sekitarnya. Mereka panic dan ketakutan, angin semakin kencang menjadikan mereka terpisah. Kemudian dihadapan putri Nastasia muncul sesosok nenek-nenek tua rentan yang membawa sapu lidi dan diikuti kucing hitam. Penampilannya menakutkan, oleh karena itu dia disebut-sebut sebagai nenek sihir.
“ Tidaaak… siapa kamu, mau apa ? dimana temanku Stevani, kembalikan dia… !! ” ucap sang Putri sambil menangis dan ketakutan.
“ Hii…hiii…hiii…, kamu akan aku jadikan budakku wahai putri cantik. Disana kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang. ayo ikut aku…!!”
Penyihir itu membawa putri Nastasia pergi dan menghilang entah kemana. Disisi lain, seiisi istana resah dengan hilangnya putri Nastasia. Sang Ratu terus menangis tiada henti. Raja pun berusaha segenap tenaga untuk mencarinya. Jauh dari kerajaan Greenwich, Stevani terus berteriak minta tolong. Di tengah hutan belantara itu, Stevani terus berjalan sendirian berharap menemukan jalan untuk bisa keluar dari hutan itu. Namun langkahnya terhenti saat ia dengar gemericik air sungai dan secara perlahan diikuti pula arah suara itu. Akhirnya tanpa disadari air terjun Miracle Water telah nampak di depan mata. Alangkah terkejutnya saat dia hendak menyentuh air terjun tersebut, tiba-tiba air terjunnya terbelah menjadi dua dan seolah-olah ada jalan untuk menuju kesana. Dengan penuh keyakinan dan perasaan tidak ragu-ragu, Stevani berjalan menyusuri jalanan yang baru saja terbuka. “ waw… ini adalah keajaiban ”. ucapnya sambil terus berjalan hingga air terjunnya kembali seperti biasanya.
“ indahnya… tempat apa sebenarnya ini, heu bahkan di mimpi pun aku belum pernah melihat hal seperti ini. Sungguh keagungan Tuhan tiada henti dan tak terduga.”
Triiing… ada sesuatu yang menampakan dirinya. Bahkan semuanya. Iya.. mereka adalah penghuni hutan ini. Semuanya baik dan ramah.
“ selamat datang di hutan hidden yag tak kasat mata ini, hanya orang-orang seperti kamu saja yang mampu melihat semua kehidupan di hutan ini ” ucap Ratu peri yang sangat cantik itu. Kemudian Stevani berkata “ Wahai Ratu peri, aku kehilangan temanku yang baik. Dia dibawa oleh seorang penyihir jahat dan aku tidak bisa mencegahnya. Aku memang bukan teman yang baik buat Putri Nastasia ”. Sesal Stevani kepada Ratu peri.
Ratu peri tidak menyalahkan Stevani, karena justru Stevanilah orang yang akan menyelamatkan dan membawa putri Nastasia pulang ke Istana. Dengan petunjuk dari Ratu Peri dan di damping asistennya Peri, Stevani segera menuju tempat persembunyiaan nenek sihir jahat itu. Sebuah gua tersembunyi yang berada di kaki gunung Twin itulah tempatnya. Sesampainya disana Stevani langsung membinasakan kucing hitam yang berjaga di pintu masuk gua. Melalui tongkat ajaib titipan Ratu peri, kucing itu di sihir menjadi tikus putih tanpa kekuatan. dengan begitu nenek sihir itu tidak mempunyai kekuatan lagi dan putri berhasil diselamatkan. Mereka saling berpelukan dan berterima kasih kepada Ratu peri dan sekawanan peri yang ada.
Keesokan harinya, mereka pamitan kepada makhluk pemilik sayap putih dan meninggalkan hutan hidden. Maka setelah itu air terjunnya kembali terbuka dan tertutup lagi setelah mereka lewat. Tidak lama kemudian mereka sampai di istana. Seisi istana dan segenap rakyat yang ada menyambut kedatangan mereka berdua. Terutama Raja dan Ratu sebagai Ayahanda dan Ibunda Putri Nastasia. Juga Ibunya Stevani yang dengan sabar menanti kepulangan anaknya. Sekarang nenek sihir jahat sudah tidak ada dan mereka bisa kembali bermain dengan tenang.
***
Rika

Keadilan Bumi Pertiwi

Jauh dari kehidupan manusia yang bising dalam keramaian kota, terdapat bukit dengan tanah yang subur. Bukit hijau yang menyimpan banyak kejadian dalam sebuah gua yang tersembunyi. Seseorang yang mengasingkan diri adalah orang yang menempati gua tersebut. Orang itu adalah kakek tua berjubah putih yang senantiasa di temani oleh kera pintar berbulu coklat. Setiap pagi kera itu selalu menemani kakek pergi ke hutan sekedar mencari makanan dan bambu kering untuk dibuat api unggun dalam dinginnya malam. Keadaan sepi yang teramat dalam sudah dilewati kakek tua itu dalam puluhan tahun. Hidup sendiri tak membuatnya putus harapan, dia terus menjalani hari-harinya dengan senyuman, tidak pernah menyesal dan mengharapkan kehidupan seperti dulu dapat terulang kembali. Dia telah mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Mengingat dahulu dia adalah keturunan saudagar kaya raya yang mempunyai kekuasaan. Dia sangat disayang oleh ayahnya karena kedermawanan dan kebaikan hatinya. Namun saudaranya selalu salah mengartikan kasih sayang ayahnya kepada dia. Padahal semuanya sama saja, tidak ada yang dibeda-bedakan.
Suatu hari saat sedang diadakan pesta laut yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat sekitar pantai, dalam kerumunan orang-orang dan terlepas dari pantauan sang ayah, dia dibawa pergi oleh kedua saudaranya, ke suatu tempat yang sangat jauh dari tempat kediamannya. Sebuah hutan belantara tanpa penghuni. Saat tersadar, ia sudah ada sendirian di hutan yang hanya bertemankan hewan-hewan dan keadaan yang selalu sepi. “ Tuhan memang adil ” ucap dia saat ia mendapati ada jalan keluar dari hutan. Saat itu usia dia masih sekitar 25 tahunan. Dia masih kuat berjalan seharian, dengan sedikit waktu beristirahat untuk sekedar minum dan berteduh. Akhirnya sampai juga ia di sebuah bukit hijau yang terdapat gua tertutupi batu. Dengan begitu berakhir sudah perjalanan selama berhari-hari untuk menemukan tempat tinggal, karena di tempat itu ia merasa damai. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat tinggalnya dan berteman dengan hewan-hewan kecil yang beterbangan, dengan pohon maupun tanah disekitar yang senantiasa diolah sehingga dapat ditanam beberapa tumbuhan.
Waktu terus bergulir, kehidupan dia selalu saja seperti itu, kesepiaan namun merasa damai sekali. Hingga pada saat itu ia kedatangan tamu yang tidak diundang. Saat diluar hujan lebat dan cuacanya sangat buruk. Didalam gua itu, ia sendiri ditemani api unggun yang senantiasa menghangatkan tubuhnya. Dengan cahaya api itu, terlihat ada bayangan yang sedang terdiam di pintu gua. Ia kemudian menghampirinya dengan perasaan penuh waspada. Tapi semuanya baik-baik saja karena yang ia temui ialah seekor kera kecil yang kedinginan. Seekor kera yang mempunyai bayangan manusia. Namun keanehan itu tidak menjadikan ia merasa takut untuk menolong kera itu. Dengan perasaan hangat ia membawa kera tersebut ke dalam dan bersama-sama menghangatkan tubuh mereka di depan api unggun. Awalnya kera itu hanya bisa bicara bahasa kera, namun seiring berjalannya waktu kera itu bisa bicara seperti manusia dan hanya akan bicara seperti itu kepada dia. Iya, Dia yang sekarang sudah menjadi kakek-kakek. Dia yang menjadikan kera itu sebagai kera yang pintar, baik dan sopan.
*
Disisi lain, keberadaan bukit itu kini sedang terancam. Dengan keberadaan manusia yang mulai bermunculan. Bukit dengan tanah yang subur itu akhirnya menjadi bahan rebutan antara satu manusia dengan manusia yang lainnya. Kakek tua itu pun kini mulai merasa resah dengan keberadaan manusia yang mulai memperebutkan bukit itu. Kakek tua dan kera itu tetap menyembunyikan diri di gua yang belum diketahui keberadaannya. Didalam gua mereka memperhatikan gerak-gerik semua tingkah laku manusia itu. Sering juga mereka mendengar pertengkaran antara dua pemikiran yang berbeda. Semuanya mau menang sendiri dengan pemikiran sendirinya, egois dan tidak mementingkan keberadaan orang sekelilingnya. Yang satu ingin meratakan bukit itu untuk dijadikan perumahan. Dan yang satu lagi ingin mengolah bukit itu menjadi perkebunan teh.
Tiba-tiba kera itu menarik jubah kakek tua dan berkata “ ternyata manusia itu adalah makhluk yang rakus, dengki, dan melampaui batas. Mereka egois, begitu melihat dan mengetahui tempat ini, hal pertama yang mereka pikirkan adalah keuntungan yang didapat untuk mereka dengan ajang bisnis ala orang kota. Sungguh tidak mempunyai keadilan ”.
“ Kera yang pintar… kamu tidak boleh menilai semua manusia sama seperti mereka. Masih ada di luar sana yang bisa menegakan keadilan. Suatu saat nanti kamu juga akan menjadi bagian dari orang-orang yang menegakan keadilan di muka bumi ini. Saat kamu jadi manusia seutuhnya, carilah dan temukan orang-orang berhati mulia yang mempunyai jiwa keadilan yang besar untuk perdamaian semua manusia. Kakek sudah semakin tua dan hanya hal kecil seperti itu yang selama ini bisa aku berikan kepadamu”, ucap kakek tua dengan suara khas orang yang sedang batuk.
Sang kera menunduk dan meneteskan air matanya.” Aku tidak ingin berpisah denganmu, aku ingin selalu bersama-sama dengan kamu, aku tidak ingin jadi manusia, aku benar-benar takut dengan dunia manusia yang selalu mengabaikan keadilan yang sebenarnya. Aku… benar-benar tidak sanggup”. Kakek tua itu tersenyum dan terbaring lemas. “ kera yang pintar dan cerdik pasti mampu. Berjanjilah kalau kamu akan jadi manusia dengan penuh rasa keadilan. Ber… jan… jilah……”, suara kakek itu telah habis. Sang kera terus membangunkannya, namun tetap tidak bisa karena kakek tua itu sudah pada batasnya. Hal terakhir yang diinginkannya adalah janji kera pintar untuk menjadi manusia dengan rasa keadilan yang sangat besar.
“ selama ini kakek yang telah mengajari semua tentang kehidupan , sampai pada akhirnya aku juga bisa bicara seperti manusia. Dan aku janji aku akan penuhi permintaan terakhir kakek. Oleh karena itu pergilah dengan penuh ketenangan. ”
Selang beberapa menit janjinya telah diucapkan, kakek tua itu akhirnya menghilang dengan cahaya yang menyilaukan mata. Silaunya cahaya itu membuat sang kera harus menutup mata, dan saat matanya terbuka sang kera telah mendapati tubuhnya menjadi sosok manusia pemberani yang tampan dan berwibawa.
Kakek tua itu sudah tidak ada, bukit hijau dengan tanah subur yang dulu menjadi tempat tinggal mereka kini menjadi rebutan bagi orang-orang munafik yang egois. Sang kera yang telah menjelma menjadi manusia, kini kebingungan. Ia terus menyusuri jalanan yang ada. Sampai pada akhirnya ia sampai di kerumunan banyak orang. Ya… ia telah memasuki daerah kota. Ia tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu. Namun demi menegakan keadilan ia harus terbiasa melihat dunia yang sebenarnya.
Di suatu tempat yang tidak jauh dari kota itu, ia mampir di sebuah pondok kecil yang tidak berpenghuni. Saat itu, ia lihat ada dua anak kecil yang sedang bermain-main. Kemudian ada segerombolan anak-anak yang usianya tidak jauh dari mereka yang mengganggunya. Kedua anak kecil itu menangis dan ketakutan, sedangkan segerombolan anak yang mengganggunya malah tertawa senang melihat orang lain menderita. Tiba- tiba dibelakang mereka muncul suara bak pahlawan yang sedang bertugas. Ia menghajar semua anggota gerombolan yang mengganggu anak tidak bersalah itu. Suara itu berasal dari anak yang telah menghajar gerombolan anak nakal, anak yang bekerja di keluarga salah satu gerombolan anak nakal itu. Anak yang terlihat bodoh dengan mengabaikan pekerjaannya hanya untuk menolong kedua anak itu. Sekarang anak itu kehilangan pekerjaannya hanya karena membela kedua anak yang tidak bersalah dengan terpaksa menghajar anak majikannya. Tapi, hal seperti itu tidak membuat dia kecewa dan sedih. Ia masih bisa tersenyum “ masih banyak pekerjaan lain yang bisa dicari”, begitu katanya sambil meninggalkan tempat pekerjaan yang dulu.
**
Dengan berbekal uang seadanya anak itu kini menuju warung terdekat untuk menghilangkan rasa laparnya. Ia membeli satu piring nasi, lauk pauk dan segelas air teh hangat. Kemudian laki-laki jelmaan kera yang pintar dan kini telah menjadi manusia seutuhnya itu menghampirinya.
“ siapa nama mu nak..? ” ucapnya sambil tersenyum manis pada anak yang sedang terlihat lapar.
“ maaf paman, aku sedang makan. Habisnya lapar baget. Nama saya panji paman. Senang bisa berkenalan. Paman sendiri siapa, rasanya baru pertama kali aku melihatnya? ”
“ oh nama mu panji. Anak baik, panggil saja saya paman Inu. Maukah kamu ikut saya untuk memberikan perubahan yang baru bagi kehidupan di bumi ini. Kehidupan yang penuh dengan keadilan dan kedamaian. Mohon bantuannya, kamu pasti bisa. ”
“ baik Paman inu ”, ucapnya semangat dan tersenyum senang.
Ternyata benar yang diucapkan oleh kakek tua itu. Dan orang yang selama ini dicari untuk menemani laki-laki gagah berani itu adalah seorang anak kecil yang bernama panji. Anak yang mempunyai jiwa keadilan sangat besar yang akan mempengaruhi kehidupan baru di masa mendatang untuk bumi pertiwi ini.

Chika

Hari mulai gelap, anak-anak kecil yang bermain di halaman rumahnya mulai dipanggil oleh ibunya untuk segera masuk rumah masing-masing. Suasana ramai di sore hari yang dipenuhi dengan suara anak kecil dengan riang gembira, canda, tawa, teriakan, kadang-kadang terdengar juga tangisan salah satunya dan suara manja seorang anak yang terlontar untuk ibu yang setia menemani dan memperhatikan segala tingkah lakunya, berubah menjadi suasana gelap, hening, hanya terpancar sinar lampu 5 watt, suara kodok yang saling bersahutan antara yang jantan dan betina, juga diselingi suara jangkrik yang terdengar krik…. Krik… krik…., terbata-bata dan tidak jelas.
“ ayo anak-anak, mainnya sudahan dulu. Besok dilanjutkan lagi. Coba lihat langit sudah menampakan layung, itu tandanya kita sudah harus diam di rumah masing-masing. Nanti kalau tetap di luar, ada bulu harimau loreng yang jatuh dari atas dan dapat menimpa kalian lho…!!!, kalau ibu sih takut…J..”
“ baik… besok main lagi ya teman-teman,, dah Chika, dadah semuanya”.
Akhirnya mereka semua meninggalkan tempat bermainnya dan kembali ke rumah masing-masing, berkumpul dengan ayah, ibu dan saudaranya.
“ Ibu, Chika lapar, makan yu…?”
“ ya sudah, Chika duluan saja ya. Biar ibu suapin, ibu makannya nanti saja karna harus nunggu sampai ayah pulang”
“ kalau ayah pulangnya jam berapa bu…?”
“ masih lama Chika, sekitar jam delapan malam. Mending Chika makannya sekarang saja ya?”
“ iya bu….” “ Ammm, nyami ”J
Sesaat setelah itu, Chika bicara ingin menemani ibunya buat nunggu ayah pulang. Tapi, yang namanya anak kecil, baru jam tujuh juga sudah ngantuk dan mau tidur.
“ Assalammualaikum…..”
Terdengar suara salam yang diikuti dengan ketukan pintu yang sewajarnya, namun tidak terdengar sama sekali suara motornya. Ternyata benar itu bukan ayah, itu adalah kakeknya Chika dari ayah.
“ wa’alaikum salam…, eh bapa.. ada apa malam-malam ?”
Ibu Ayumi mepersilahkan kakek untuk masuk dan mereka bercakap-cakap sambil nonton Tv.
“ Ayumi, mana Chika..? sudah tidur ya ? Bapak hanya ingin memastikan, kapan si Yuda mulai berangkat ke kalimantannya? Bareng kamu tidak ???”
“iya .. waktu acara kumpulan dan arisan kantor juga, komandannya mas Yuda bilang orang-orang yang namanya dipanggil harap untuk segera melaksanakan pindah tugas sementara. Karena waktunya cukup lama, maka wajib untuk membawa istri. Kira-kira kami pergi minggu depan”
“ Bagaimana dengan Chika…? Apakah dia mau dibawa kesana?”
“ tidak tahu, khawatir dia tidak betah”
“ ya sudah kalau begitu, Chika diam saja sama bapak. Bapak akan rawat dan akan diajari ngaji, lagian sudah saatnya dia belajar soal agama”
“ kalau saya setuju saja asal Chika tidak rudet, dan mau. Kalau mas Yuda pasti setuju-setuju saja, berarti kalau Chika mau nanti minggu depan dia mulai tinggal di rumah bapak ”
“ ya sudah, bapak pulang dulu. Salam saja buat si Yuda. _ assalammualaikum..!!!”
“ wa’alaikum salam wr.wb.”
Tidak lama kemudian ayahnya Chika pulang dan ibu Ayumi juga segera membukakan pintu untuk seorang suami yang sudah ditungu-tunggu dari tadi.
“ tamu siapa mah yang ke rumah, makanan di meja masih banyak ”
“o… tadi bapak yang kesini, menanyakan kapan kita mau berangkat ke Kalimantan, dan menanyakan Chika juga ”
“ trus mamah bilang apa,,,?”
“ mamah bilang saja minggu depan kami harus sudah berangkat. Dan bapak juga mengusulkan agar Chika diam di rumahnya, nanti bapak akan mengajari soal agama. Mas pasti setuju kan, takutnya kalau dibawa Chika tidak betah dan kesannya pasti ingin pulang dan bertemu bapak terus ”
“ iya, mas setuju. Chika juga pasti setuju karena tinggalnya juga bersama bapak bukan dengan yang lain. Chika kan sayang banget sama bapak..”
“ o iya mas, kita makan dulu. Pasti mas belum makan ya, dan pasti perutnya juga sudah lapar dan keroncongan malam…J”
Didapur yang luasnya tidak seberapa, mereka mulai makan. Suami istri yang rukun dan saling terbuka. Sungguh keluarga yang hangat.
Malam semakin larut, gelap dan dingin yang menyapa. Jarum jam menunjukan angka 10, yang biasanya bila jam segitu sudah saatnya orang-orang tidur dan melepaskan kepengapan pekerjaan di siang hari, istirahat menghilangkan kelelahannya setelah seharian bekerja banting tulang untuk mencukupi anak-istri di rumah. Begitu pula dengan ayahnya Chika, dia bekerja sesuai dengan profesinya sebagai POLRI. Yang senantiasa mengikuti apa yang diperintahkan oleh komandannya. Misalnya saja seperti yang telah dibicarakan, bahwa seminggu lagi akan dipindahkan tugas sementara ke pulau Kalimantan bersama teman-temannya yang turut diperintahkan juga.
“ mah, mas tidur duluan ya. Ingat besok bawa Chika ke rumah bapak…”
“ iya mas, tapi mas sudah sholat belum..? kan tadi langsung makan..”
“ kebetulan tadi di kantor mas sholat dulu, jadi datang ke rumah langsung makan, cuci kaki, gosok gigi dan tidur..”
“ ya sudah kalau begitu, saya beresin dulu meja makannya dan beres beres dapur. Nanti saya nyusul..”
Seperti yang kita ketahui, semua orang yang cape, habis kerja dan ngantuk, pasti tidurnya nyenyak dan kelihatan bahwa dia menyandarkan semua kelelahan dalam tidurnya.
Lampu di dalam ruangan, satu per satu padam. Dan itu menunjukan bahwa orang rumah sudah mau tidur dan istirahat…’ Kombangwa….”!
Bumi terus berotasi, ada siang ada malam dan itu terjadi secara terus-menerus. Dari malam kembali ke pagi. Dan dalam pagi itu banyak hal yang dikerjakan oleh orang-orang. Umumnya dimulai dari adzan Shubuh yang berkumandang di setiap penjuru kampong, desa maupun kota, yang senantiasa akan membangunkan orang-orang dari tidur nyenyaknya untuk segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam adalah sholat shubuh, kemudian terdengar juga kokok ayam dalam menyambut datangnya mentari pagi yang senantiasa menghangatkan semua makhluk yang ada di bumi. Semua makhluk yang bernafas, bergerak, butuh makan, dan juga butuh cahaya, itulah keperluan makhuk hidup yang ada di bumi umumnya.
Kembali Ayumi bangun dan membangunkan suaminya untuk segera sholat shubuh dan mereka sholat berjemaah.
“ mah,… jangan lupa nanti Chika bawa ke rumah bapak ya, mas pergi dulu.. Assalammualaikum…”
“ iya mas, hati-hati di jalannya… Waalaikumsalam..”.
Ayumi sebagai seorang istri yang setia dan nurut pada suami adalah ibu rumah tangga yang juga sebagai seorang ibu yang baik dan hangat. Iya mencoba mengurus anaknya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dan juga keluarga yang mendukung, seperti kakeknya Chika.
“ Ayo Chika cepat bangun, sudah siang tuh… ayah juga sudah berangkat kerja lagi. Chika langsung mandi ya, ibu sudah siapkan air hangatnya, nanti setelah sarapan kita langsung ke rumah kakek. Chika sudah lama tidak bertemu dengan kakek kan..? Chika pasti kangen kan..? makanya sekarang bangun dan mandi ya..?
“ iya Bu.. Chika kangen sama kakek, Chika ingin bercerita panjaaaang bareng kakek “.
Seorang ibu memang hebat, ia harus pintar bicara, harus mampu membuat seseoramg tertarik dengan pembicaraannya, terutama untuk buah hatinya agar senantiasa nurut pada omongan orang tuanya, tidak membangkang dan selalu bersikap sopan. Itu dia tugas seorang ibu selain memanaj keuangan keluarga. Selain itu, ibu juga bisa menjadi seorang ayah, menjadi guru, dan bisa juga menjadi seorang teman bagi anaknya.
Ayumi tersenyum sendiri melihat tingkah anaknya, yang mudah banget di rayu.
“anak kecil memang lugu dan polos. Hatinya masih terlalu bersih…J, gumam Ayumi dalam hatinya”
Selesainya Ayumi mengerjakan tanggung jawab tugasnya, termasuk mengurus Chika si Buah hatinya, mereka langsung pergi ke rumah kakeknya Chika. Sesuai dengan amanat ayahnya Chika. Mereka tampak riang gembira, terutama Chika yang sepanjang jalan selalu menyebut-nyebut kakeknya yang selalu di sayangnya dan selalu menyayanginya. Padahal seminggu lagi Chika tidak akan bersama ayah ibunya, apakah Chika dapat betah menjalani hari-harinya hanya dengan seorang kakek yang menyayanginya dan sekaligus kakek yang disayangi oleh Chika, mudah-mudahan saja. Itu harapan semuanya.
“ tuch Chika, lihat rumah kakek sudah kelihatan. Sebentar lagi kita sampai…”
“ mana ibu, gak kelihatan ach… gendong donk ah biar kelihatan..”
“ iya, sini ibu gendong. Sekarang sudah kelihatan kan..?”
“ sudah bu, sebentar lagi sampai. Chika mau turun lagi ach. Chika mau buru-buru. Chika lari ya bu…?”
“ hati-hati… nanti jatuh….”
“ assalammualaikumm… ucap chika sambil mengetuk pintu dan terengah-engah karena kecapean…”
“ Waalaikum salam…. Eh Chika bareng siapa kesininya…”
“ kakek,,, Chika kangen. Tu Chika bareng ibu..”
“ ayo masuk… , kakek mempersilahkan mereka masuk dan menggendong chika ke dalam ”.
Dalam wajah keseriusannya kakek bicara dengan Ayumi dan membiarkan Chika untuk bermain-main di halaman belakang bersama Bibi.
Yumi…. Panggilan akrab Kakek kepada Ayumi, bagaimana apakah Chika sudah tahu…?
“ Belum pa, saya disuruh mas untuk kesini dulu mempertemukan bapak dengan Chika. Terserah Bapak saja mau kapan bicara pada Chika. Mau sekarang juga lebih baik..”
“ ya sudah biar Bapak bicara pada Chika…”
Beberapa jam kemudian, seorang kakek bicara dan berbincang-bincang dengan cucu kesayangan yang lucu dan baru duduk di bangku SD.
“ Chika, sini sayang… kakek mau bicara sebentar…”
“ ada apa sih kakek, Chika lagi asyik main ma Bibi nich…”
“ ya sudah… Chika tidak kangen ya sama kakek, kalau begitu kakek mau keluar saja ya..”
“ Jangan kek, iya Chika mau ko bicara dengan kakek. Chika kan kangen….”
Dengan riangnya Chika menghampiri kakeknya yang lagi duduk santai di ruangan tamu, dengan penuh keakraban dan kehangatan mereka berbincang-bincang penuh canda tawa..
“ kakek… Chika boleh ya nginep disini,, ?”
“ Kenapa Chika bicara gitu, boleh saja. Justru kakek juga ingin ngajak Chika untuk tinggal disini. Bareng Kakek, Nenek dan Bibi…”
“ Asyik… Hore,, Nanti kakek bacakan dongeng sebelum tidur ya…?”
Setelah itu, Chika menghampiri ibunya yang sedang masak di dapur bareng Bibi dan Nenek…
“ Ibu, Chika bakalan nginep disini. Boleh ya… Bahkan kata kakek Chika disuruh tinggal disini. Tidak apa-apa kan bu…?”
“ Tidak apa-apa,,, sebenarnya seminggu lagi Ibu dan ayah sudah harus pergi ke pulau Kalimantan dan Chika harus tinggal disini bareng Kakek. Karena Chika kan harus sekolah, lagian ayah dan Ibu juga hanya sebulan disananya… tidak apa-apa ya Chika tidak bertemu dengan Ayah dan Ibu dalam waktu sebulan, kan sebentar dan masih ada kakek. Nanti kalau Chika kangen, Chika bisa minta kakek untuk bercerita tentang sejarah. Kan Chika senang dengan sejarah dan kakek jagonya kalau bicara tentang sejarah. Atau bisa juga Chika minta bantuan pada kakek untuk ngirim surat pada Ayah dan Ibu, nanti Ibu pasti balas..”
“ sebenarnya Chika sedih, tapi selama ada kakek Chika akan terus tersenyum. Dan Chika juga sudah besar, tidak mau cengeng. Jadi tidak apa-apa jika Ayah dan Ibu mau pergi, tapi Ayah dan Ibu harus janji akan secepatnya pulang...!”
Sebulan telah berlalu, tepatnya tiga minggu sejak kepergian Ayah dan Ibu Chika ke Pulau Kalimantan, dan Chika masih selalu bersama-sama dengan kakeknya. Mulai dari mengantar jemput sekolahnya sampai membacakan dongeng sebelum tidurnya. Seminggu lagi mereka pulang, dan rasa kangen yang ada pada diri Chika mulai terasa.
Sore itu selesai kakek mengajari Chika ngaji, tiba-tiba Chika mengeluh dan bertanya pada kakek.
“ kek, sudah tiga minggu ayah dan ibu pergi. Chika kengen nih, kata ibu kalau Chika kangen, Chika bisa minta kakek bercerita tentang sejarah. Sekarang kakek cerita dong mengapa Kakek bisa nikah pada nenek yang cerewet itu…. HeheJ,”
“ kalau soal itu bukan sejarah namanya. Sambil menunjuk ke arah foto yang dipajang di dinding, kakek mau Tanya… Chika tahu siapa foto yang dipajang di dinding itu..?”
“ Tidak kek, dia siapa… tampan, dan gagah..?”
“ Masa tidak tahu, itu kan kakek sewaktu muda. Mang tampan dan gagah ya..?”
“ oh iya, sekarang kan sudah tua…ehe.. J. Kek, kenapa dulu kakek mau jadi TNI. Padahal tugasnya perang, kakek pasti dulu pernah perang ya… kenapa tidak jadi Presiden saja..?”
“ Chika, dengar baik-baik ya ucapan kakek ini. Sekarang kita bisa menghirup udara bebas dan hidup secara bebas dikarenakan Negara kita sudah merdeka. Dulu Negara kita selalu dijajah oleh bangsa-bangsa lain, perang terjadi dimana-mana. Awalnya bukan hanya tentara saja yang dikerahkan untuk perang, tapi rakyat biasa juga ikut terlibat. Apalagi sebelum ada persediaan senjata yang canggih, kita hanya memakai tombak. Alasan kakek jadi tentara karena ingin mengabdi kepada Negara, tidak takut mati demi mempertahankan keutuhan NKRI. Karena kalau tidak demikian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi untuk kedepannya…”
“ Iya kek, Chika pernah dengar tentang NKRI. Kalau tidak salah itu adalah kepanjangan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu ada di mata pelajaran kewarganegaraan..”
“ Nah… kalau begitu Chika juga sudah menjadi bagian dari orang yang membela Negara,,”
“ mengapa kakek bisa menyimpulakan demikian…?”
“ iya karena Chika senang dengan pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Dan yang kakek tahu, bentuk penyelenggaraan Usaha Pembelaan Negara itu meliputi : Pendidikan kewarganegaraan, pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara suka rela atau secara wajib ( seperti kakek), dan Pengabdian sesuai dengan profesi ( seperti ayah Chika ) ”
“ Mengapa ayah dimasukan ke dalam pengabdian sesuai profesi…?”
“ karena pengabdian sesuai profesi adalah pengabdian warga Negara yang mempunyai profesi tertentu untuk kepentingan pertahanan Negara, terutama yang berkaitan dengan kegiatan menanggulangi dan atau memperkecil akibat perang, dan yang termasuk didalamnya adalah PMI, para medis, tim SAR, POLRI, dan petugas bantuan social. Ayah Chika kan POLRI, jadi termasuk ke dalam pengabdian sesuai dengan profesi.”
“ oh gitu ya kek, kalau bedanya TNI dan POLRI itu apa ya kek..?”
“ kalau TNI berperan sebagai alat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bidang pertahanan Negara, sedangkan POLRI berperan dalam bidang keamanan Negara. Contohnya, tugas TNI adalah perang dalam menghadapi ancaman agresi Belanda, sedangkan tugas POLRI adalah melakukan upaya yang berkaitan dengan ancaman yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat seperti kerusuhan, penyalahgunaan narkotika, dll..”
“ Kek…. Kalau tugas pokok TNI itu apa, khususnya yang dialami kakek. Kalau tidak salah TNI itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu TNI AD, TNI AU, dan TNI AL. kalau kakek termasuk TNI bagian apa…?”
“ pertanyaan yang bagus Chika, kakek termasuk TNI AD dan tugas pokok TNI AD adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Selain itu juga ada peran TNI AD yaitu bagian dari TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan di darat yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik Negara.”
“ begitu ya kek, sekarang Chika mengerti begitu mulianya tugas TNI dalam membela Negara ini. Oh iya kek, apa waktu jadi TNI kakek di sumpah dulu seperti yang dilakukan oleh om Gusti saat disahkan jadi POLRI dalam pendidikan terakhirnya.?”
“ iya Chika, waktu dulu kakek juga disumpah. Malahan sampai sekarang masih ingat. Waktu itu kakek bicara seperti ini, “ Sumpah Prajurit”!!
1. Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
2. Tunduk kepada hukum dan memegang teguh disiplin keprajuritan.
3. Taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan.
4. Menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan Negara Republik Indonesia.
5. Memegang segala rahasia tentara sekeras-kerasnya.
“ nah Chika, apa sampai sekarang Chika sudah paham begitu besarnya tanggung jawab TNI maupun POLRI apalagi kalau jadi PRESIDEN. Apapun profesi kita, pekerjaan kita yang penting adalah kita dapat mempertanggung jawabkan dan harus bisa dipercaya. Kalau boleh tahu cita-cita Chika sudah besar nanti mau jadi apa… ?”
“ iya… sekarang Chika faham. Dan mulai sekarang Chika akan lebih ngertiin tentang ayah, Chika tidak akan marah pada ayah jika ayah pulangnya telat. Chika akan percaya pada ayah..”dan Cita-cita Chika kalau sudah besar adalah ingin seperti ayah. Tapi Chika kan kecil dan pendek, pasti tidak akan keterima”
“ tidak apa-apa chika, jangan putus asa kan masih banyak bentuk penyelenggaraan Pembelaan Negara selain TNI dan POLRI…”
“ oh iya,,, kalau begitu Chika ingin jadi guru saja. Dengan memahami dan memperdalam pengetahuan tentang pendidikan Kewarganegaraan. Itu juga termasuk kan kek..?”
“ Pinter Chika,,, kamu memang cocok untuk jadi guru. Kakek doakan suatu saat nanti Chika dapat sukses dan menemukan seseorang yang menyayangi Chika dengan profesi yang sama-sama dapat membela Negara, serta dapat membahagiakan Chika dunia akhirat…”Amiiin”.!!
Rika_>

Keteguhan Hati Seorang Lintang

Malam silih berganti dengan kegelapan yang memberikan keindahan dan manfaat tersendiri, memberikan ketenangan disela-sela waktu istirahat semua makhluk yang tengah beraktivitas di siang hari. Indahnya malam adalah yang bertabur bintang bersama rembulan yang menampakan diri dibalik ibu awan. Seperti itulah kegelapan malam yang selalu dinanti oleh setiap insan. Bukan kegelapan malam karena kabut hitam dan mendung yang menyelimuti bumi pertiwi .
Lamanya waktu bergulir dan tidak terhitung juga malam yang tengah memberikan kesan tersendiri buat gadis yang senantiasa menanti cinta sejatinya. Bagi dia cinta sejatinya itu ada namun masih tersembunyi di balik ibu awan bersama cahaya bintang yang selalu hadir di setiap malam. Dua tahun lamanya dia menanti dan terus percaya serta menyebut cinta sejati yang tersembunyi itu dengan sebutan ksatria langit. Dia percaya bahwa ksatrianya masih mempunyai misi di langit yang belum terselesaikan, sehingga belum menampakan diri di bumi.
Jendela kamarnya selalu saja terbuka jika melihat suasana malam yang indah yaitu saat langit cerah diikuti taburan bintang dan awanan putih yang menampakan semburat sinar rembulan yang akan datang perlahan.
“ weey…, suara kerasnya zero membangunkan Lintang dari lamunannya. Lintang yang tengah asyik dengan lamunan dan tatapan matanya yang selalu terfokus ke langit merasa kaget dan menjerit.
“ apaan sich kamu ganggu orang saja.. kenapa kamu bisa ada disini, malam-malam lagi. Trus siapa yang mengijinkan kamu masuk..?!”
“ Lintang… lintang kamu tu ya, dari tadi aku ketok-ketok pintu kamar kamu tapi kamu nya gak nyaut, lagian kata tante juga aku suruh masuk saja., eh ternyata benar kamu sibuk dengan dunia sendiri sich…” autis”.. hehe..”
“ iya, aku memang autis. Puas kamu…”
“ bercanda ko, jangan marah ya…”
“ eh iya zero, kita kesana yu..” Lintang menunjukan tempat buat melihat bintang dengan jelas. Yaitu di dekat jendela dan arahnya di luar bukan di dalam.
“ apa.. disana, gak mau ach itu kan tinggi lagian kalau di luar tuh lantai bawah dan jalanan kelihatan, aku takut, nanti jatuh”.
“ aduh… dasar anak mami, ya sudah aku kesana dulu, kamu diam saja disini. Ngobrolnya jarak jauh saja..”
Sambil membawa mp4, Lintang keluar dari kamarnya lewat jendela dan berdiam diri di teras kecil yang katanya sangat jelas jika melihat bintang disana.
“ zero, kamu dengar aku tidak..?”
“ iya aku dengar ko!” zero berteriak seolah-olah takut kalau suaranya tidak terdengar oleh Lintang.
“ Zero, kenapa kamu takut ketinggian ?”
“ Hmmm… itu ya, dulu aku pernah jatuh dari pohon, sampai-sampai aku tidak bisa jalan dalam waktu sebulan. Eh iya Lintang kenapa kamu sendiri suka banget pada yang namanya ketinggian ?”
“ oh jadi itu sebabnya ya. Aku juga mempunyai alasan tersendiri mengapa aku suka banget pada ketinggian. Di tempat yang tinggi aku bisa melihat suasana langit di malam yang indah, terutama jika malam itu membawakan taburan bintang dan rembulan.
“ Sekarang kamu lihat ya disana bintang yang paling bersinar terang”. Lintang menunjukan letak bintang tersebut berusaha menjelaskan kepada zero.
“ iya, disini aku dapat melihatnya. Mangnya apa hubungannya ?”
“ bintang itu adalah petunjuk bahwa cinta sejati itu ada, dan cahaya terang yang terpancar dari bintang tersebut adalah jalan bagiku kalau suatu saat nanti hati aku juga akan sama seperti bintang dan tidak kesepian lagi.”
“ oh… bagus kalau kamu sudah mempercayai adanya cinta sejati, aku kan jadi tidak khawatir lagi. Kenapa kamu tidak mencoba untuk pacaran dan berusaha membuka hati buat orang yang mencintai kamu, ucap zero sambil membuka album SMA dulu.
“ Zero, kamu tuch ngerti tidak sech dengan yang namanya cinta sejati, laganya saja pacaran sudah 2 tahun. Eh mengartikan cinta sejati itu sempit banget. Dengan raut muka yang ketus, Lintang menjelaskan sesuatu kepada Zero.
“ sudah ah jangan marah, maksud aku tidak begitu, aku hanya ingin melihat kamu bahagia. Barangkali jika kamu pacaran dan punya pacar kamu bisa bahagia.”
“ makasih ya Zero, kamu memang sahabat yang terbaik, kamu jangan khawatir aku pasti bahagia. Ucap lintang seraya menatap tajam bintang yang selalu dilihatnya tiap malam.
“ zero, apa aku salah kalau mempercayai bahwa cinta sejati aku itu ada di balik cahaya bintang tersebut? Karena aku merasa damai jika aku melihatnya. Bintang itu berbeda dengan yang lainnya, selalu hadir di setiap malam dan sangat nampak jelas.
“ kamu tidak salah Lintang, yakinilah apa yang kamu percaya dan dapat dijangkau oleh akal sehat. Jadi maksudnya jika kamu mempercayai cinta sejati kamu ada di balik cahaya bintang itu, kamu harus mempunyai alasan dan argument yang kuat untuk membuktikan kebenaran yang kamu yakini itu sehingga terkesan benar.
“ jadi begini Zero, maksud aku adalah perumpamaan.”
“ maksudnya apa aku tidak mengerti..!”
“ suatu saat nanti kamu juga pasti akan mengerti ucapan perumpamaan aku itu, sambil tersenyum dengan menatap bintang, yang kemudian dia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dan menutup jendelanya.
Lampu di kamar Lintang masih menyala dengan terang, Zero juga masih ada di dalamnya. Percakapan mereka akhirnya dilanjutkan kembali.
“ eh Zero, kalau tidak salah besok kamu kan mau tunangan. Kenapa kamu malah main ke rumah aku?”
“ aku sengaja ingin bertemu dan mengetahui kabar kamu, lagian sudah lama tidak ketemu kan. Ya barangkali ini adalah yang terakhir kalinya, he..” btw besok datang ya.,,?
“ siap boz.. besok aku pasti datang, tapi tidak apa-apa ya tidak bawa pasangan. Aku kan belum punya pacar..”
“ iya tidak apa-apa, ucap zero sambil memakai jaketnya kembali dan berusaha meledek Lintang dengan perkataan kalau tidak ada yang mau pada Lintangnya.. Hee.. becanda ko”!
“ baiklah Lintang jangan lupa besok datang dan aku pamit pulang. Bye…”
“ ya sudah sana pulang, hati-hati… jangan lupa pamitan dulu pada ibu ”
“ iya bawel..!”
Seperti itulah percakapan sepasang sahabat di malam hari yang cerah, malam yang mendukung mereka buat saling curhat dengan kemungkinan untuk yang terakhir kalinya. Yang satunya mau tunangan dan yang satunya lagi akan selalu berusaha mencari cinta sejatinya yang mempunyai aura cahaya bintang yang senantiasa dilihat dalam menjelang tidurnya.
Waktu di kamar Lintang menunjukan tepat pukul 10 malam. Setelah keluar dari kamar mandi Lintang langsung tidur di pembaringan seraya melantunkan doa agar Allah selalu melindungi dan menjaga setiap tidurnya.
“ Lintang… Lintang… Lintang, salamun’alaikum.. suaranya terasa menyejukan jiwa, semakin jauh dan hilang tertelan kegelapan.
“ Lintang… tetaplah bersabar dengan keyakinanmu, suatu saat aku akan hadir di kehidupanmu. Bersamamu, selamanya…Dan ingatlah akan takdir Tuhan karena manusia tidak akan pernah bisa untuk merubahnya!” suara itu hadir lagi, tapi siapa disana… sosoknya tidak jelas, mengapa dia tidak menunjukan wajahnya. Dia terus tertunduk dan mulai membelakangiku untuk pergi entah kemana. Semakin jauh dan akhirnya menghilang, namun memberikan sesuatu hal yang dapat membuat aku teguh dengan keyakinan ku selama ini.
Kring… kring… suara alarm membangunkan Lintang dari tidurnya.
“ Astagfirullah’ aladzim…. Ternyata aku bermimpi.., eh tunggu, kenapa mata aku berair. Ah jangan-jangan aku menangis. Ya Allah ada apa ini sebenarnya.
Sesaat memikirkan tentang mimpinya, Lintangpun segera bergegas meninggalkan tempat tidurnya untuk kemudian menuju kamar mandi. Percikan air wudhu kian membasahi seluruh anggota tubuh, membukakan mata merah yang masih terasa mengantuk. Penenang jiwa dan penyejuk hati . Dinginnya menembus pori kulit dan menusuk tulang putih. Sehingga menjadikan Lintang focus akan niat itu. Dengan memakai mukena putih pemberian ibunya dia jalankan niat itu penuh kekhusuan dan suasana sepi, sunyi serta damai yang senantiasa menenangkan hati.
“ Alhamdulillah…. Ya Allah berikanlah selalu petunjuk-Mu dalam setiap keresahan dan kebimbangan hati ini, aku yakin dengan lantunan ayat suci-Mu aku bisa damai, ucap Lintang dalam hati seraya meneteskan air mata.
Tidak lama kemudian adzan shubuh kembali berkumandang membangunkan orang-orang untuk segera menjalankan ibadah kepada yang Kholik. Dengan mukena putih yang masih dipakainya, Lintang pun segera bergegas buat salat subuh.
“Bu… bangun, sudah subuh.. seraya mengetok pintu kamar orang tuanya.
“ iya… sahut ibunya sambil membukakan pintunya.
“ hari ini cuacanya cerah sekali, angin di pagi ini sangat terasa mengecup semua pori di tubuhku, meliuk-liukan rerumputan yang tengah di datangi oleh setetes embun dan semburat sinar nampak di balik ibu awan dengan perlahan akan membentuk cahaya siang yang menggantikan bintang di malam hari. Beruntungnya si zero itu, hari ini dia akan tunangan, aku harus menghadiri acara itu.
“ Baiklah aku harus semangat dan aku harus kuat. Baju apa ya yang cocok untuk pergi ke acara yang begituan, ya sudah aku pilih yang ini saja.” Lintang membawa baju putih bercorak bunga dengan celana jeans warna hitam dan kerudung warna putih.
Sesaat setelah itu akhirnya Lintang pun selesai berbenah diri dan sudah siap untuk pergi ke acara tunangan sahabatnya “Zero”.
“ Bismillahirrohmanirrohim.. ucap Lintang dalam hati sambil menjalankan kendaraan bermotornya”
Sepanjang perjalanan dia selalu Memikirkan mimpi anehnya, tentang bintang dan ksatria langitnya, namun masih tetap focus pada jalan. Sampai pada akhirnya Lintangpun sampai di rumah Dara, tunangannya Zero. Acaranya cukup meriah, banyak tamu yang hadir dan ikut merayakan kebahagiaan mereka dan semuanya berharap awal dari tunangan ini akan berakhir dengan pernikahan yang akan menjadikan keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
“ selamat ya Zero… selamat ya Dara, ucapnya sambil bersalaman. “ aku ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian berdua.”
“ iya terima kasih Lintang, percayalah kamu juga sebentar lagi akan menyusul kita, ucap zero., iya.. itu pasti kan Lintang ucap dara sambil menepuk bahunya.
Ulasan senyum terindah nampak di wajahnya seraya mengaminkan ucapan mereka.
“ ya sudah zero, dara, aku pulang dulu sudah terlalu sore”
Iya hati-hati ucap mereka.
“ ya Allah sekarang aku semakin yakin kalau soal milik, rizki, ajal dan jodoh adalah urusan-Mu. Semua orang telah di atur dengan jodohnya masing-masing. Aku percaya aku juga pasti mendapatkan jodoh tersebut, namun aku tidak tahu dengan pastinya. Apakah dia yang akan turun ke bumi untuk mencariku dan meninggalkan bintang ataukah aku yang akan pergi ke bintang untuk mencarinya. Apakah pertemuan dengan jodohku akan di takdirkan di bumi ataukah di langit sebagai alam yang lain. Itulah rahasia ilahi yang tidak mungkin aku ketahui. Namun selama aku masih ada di bumi, aku akan senantiasa menanti dan mencari cinta sejati untuk yang terakhir kalinya serta untuk selalu bersama-sama selamanya. Karena cinta sejatiku adalah ksatria langit yang teguh akan janji dan selalu meluruskan niat yang baik sedikitpun tidak akan pernah sanggup untuk berpaling. Ucap Lintang dalam hati seraya tersenyum manis meninggalkan acara tersebut.
---+Rika+---