Selasa, 01 Maret 2011

Putaran Waktu di Pantai Losari

Banyak orang yang membicarakan dan merencanakan “ mau kemana saat liburan tiba ?” mau kemana ya, bingung .. tempat wisata begitu banyak. Kesini mau didatangi, kesana mau disinggahi. Aduh.. sedangkan keuangan terbatas.. Hehe..! Dalam acara kumpulan itu, semuanya tertawa menertawakan kekonyolan mereka sendiri !
Hmm… salah seorang dari mereka bangkit dari tempat duduknya, mulai mengeluarkan suara bak suara emas dengan ide dan gagasannya.
“ Apa… Pantai?” sebagian dari mereka juga tersentak dan mulai mendekati Ilham si ganteng kalem yang mempunyai ide tersebut. Apa kata mereka, “ i..tu ide yang brilian sob ” semuanya setuju dan memutuskan untuk liburan bersama di Pantai Losari “Makasar”.
Eit…eit inget ya jangan kalian bawa cewek-ceweknya, awas…! Ancam sang ketua yang super polos dan dingin itu.
“ iya pak ketu yang terhormat, kami janji!” dan semuanya bergegas untuk bubar jalan dari acara konverensi BFF.
***
Jauh di sebrang sana, terdapat sepasang sahabat yang juga sama sedang merencanakan buat acara liburannya. Mereka juga sama akan liburan di Pantai Losari, katanya biar jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka, lagi pula mereka cewek jadi tidak baik kalau terlalu jauh.
“ Asalamualaikum, maaf tante … Chana nya ada ?”.
“ Wa’alaikumsalam… eh Tiara, Chana ada ko di kamarnya”
“ Apa boleh rara ke kamarnya Chana?”
“ iya silahkan.”
“ Chana lagi ngapain, sibuk banget?”
“ eh ada rara, sudah lama?”
“ tidak, baru juga datang langsung ke kamar. Lagi ngapain sech cha kayaknya sibuk banget?”
“ oh.. ini, biasa aku lagi ngoleksi cerita-cerita dan tips-tips yang menarik gitu. Lumbayanlah mengisi waktu luang, dari pada tidak ada kerjaan sama sekali”
“ sejak kapan kamu suka baca majalah Play Boy cha.. jangan-jangan kamu tuh trauma ya?”
“ ya sejak aku putus dengan orang itu, tapi ya sudah ah jangan membicarakan itu lagi, mendingan kita bicara buat acara liburan itu kan ra. Kamu kesini juga akan membicarakan hal itu kan?”
“ iya ya.. emang itu tujuannya, jadi gimana? Jadi kan… trus kamu sudah minta izin dulu belum ke mamah?”
“ ya sudahlah, mamah mengizinkan. Jadi besok kita jadi ya berangkat. Kamu jemput kesini ya, tidak sama Fey kan ?”
“ ya nggak lah, ini kan acara kita berdua. Paling ada juga mang udin, supir keluarga yang dititipkan oleh mamah. Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, sampai ketemu besok.”
Tiiit … tiiit … suara klakson mobilnya Tiara membuat Chana bergegas keluar meninggalkan kamar dan rumahnya.
“ Mah… Chana berangkat dulu ya?”
“ iya, hati-hati nak jaga dirimu”
“ makasih mah…!”
“ Ayo Chana masuk, kita berangkat..!”
“ Chana, itu buku apa ? aku baru lihat.!”
“ oh ini adalah kumpulan kreasi aku, kurang lebih seperti itulah, aku ingin menuliskan semua yang aku lihat, aku baca dan aku alami sendiri dalam buku ini.”
“ begitu ya.. boleh aku lihat?”
“ oh boleh.. silahkan”
Rara akhirnya membawa buku bersampul hijau itu dari tangan Chana dan melihat-lihatnya untuk kemudian dibacanya dan salah satu kumpulan tulisannya seperti ini : “ Pantai Losari adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah. Pada sore hari, semua orang bisa menikmati proses atau detik-detik tenggelamnya matahari sunset.”
“ Hei Chana, bukankah sebelumnya kamu belum pernah ke Pantai Losari, tapi kenapa kamu tulis hal seperti itu?”
“ oh itu, gampang ko. Kan kata aku juga, buku itu adalah kumpulan kreasi aku dari hal yang aku lihat, aku baca dan aku alami sendiri. Tentang Pantai Losari, itu aku baca dari berita wisata yang ada di majalah”
“ oh.. seperti itu ya, kamu tu kreatif ya Chana, berbeda dengan aku.. heheh..”
Hahhahaa… mereka tertawa
Tidak terasa dengan perbincangan sepanjang jalan diselingi waktu lelah yang membuat mereka tertidur di dalam mobil, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuannya yakni Pantai losari.
“ ye… indah sekali Ra, waah ramai yach..”
“ ya tentu chana sayang, tapi gak enak langsung main ke pantainya sekarang, masih panas, mending sekarang kita ke hotel dulu nanti kalau sudah tidak panas kita langsung berangkat ke pantai”
“ siap bos.. ucap Chana sambil tertawa senang..”
Pada sore hari, semua orang bisa menikmati proses atau detik-detik tenggelamnya matahari sunset.
Chana mulai ingat dengan tulisan itu dan segera membangunkan rara yang tengah asyik beristirahat
“ Eh Ra, bangun sudah sore nich. Katanya kan kalau sore hari banyak orang yang menikmati proses dan detik-detik tengelamnya matahari sunset. Ayolah Ra bangun.. temenin aku kesana.”
“ ya sudah tunggu sebentar..!”
“ benar Ra, banyak banget orang yang melihatnya.. waah indah sekali ya keagungan Tuhan itu. Aku senang Ra liburan bareng kamu”
“ ah dasar, biasa saja kali Cha.., sekarang mataharinya sudah tenggelam, kita balik ke hotel yu?”
“ga apa-apa kan kalau kamu ke hotelnya sendiri, aku masih ingin disini dan mau lihat-lihat acsersoris, aku hafal ko jalan ke hotel. Jadi kamu tidak usah khawatir ”
“ ya sudah kalau begitu, hati-hati Chana”
“ lautan ini begitu luas, bebas dan indah dengan hamparan samudera dan gemuruh ombak, desiran pasir dan semilir angin. Suasana dunia mimpiku, akhirnya hadir di tempat ini.. hmm that’s like.. he”
“ Pak.. kalau gelang yang itu harganya berapa ya, itu tu yang corak hijau?”
“ suara itu, sepertinya tidak asing di telingaku. Siapa ya..?”
Chana akhirnya memutuskan untuk mendekati dari mana asalnya suara tersebut.
“ ilham…! Chana tersentak kaget dengan kehadirannya dan seketika berpaling dari pandangan cowok tersebut.
“ Chana.. tunggu, aku perlu bicara padamu..
Tapi sia-sia saja, Chana terus berlari dan tak terkejar. Hingga pada akhirnya dia sampai di pantai dan mulai menyendiri, sambil membuat api unggun yang kecil dia termenung diri seraya melihat lautan yang bebas dan merasakan semilir angin yang lewat seolah menyapanya.
“ Ilham Destra Widjaya”
Lamunannya terbang mengawang-awang di kegelapan malam, matanya memancarkan kebencian yang mendalam buat satu nama yang disebutkannya itu, saat dia mengetahui kalau seorang laki-laki yang dia percaya dan sayangi ternyata mencintai orang lain. Saat kenyataan harus menakdirkan dia mengetahui dengan mata kepalanya sendiri laki-laki yang dicintainya berbicara kepada wanita lain yang dicintainya kalau aku hanyalah teman dekat dia, tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas teman. Dan yang terakhir kalinya adalah saat mereka kembali tertawa bersama-sama, seolah wanita itu percaya kalau aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan dia. Kemudian mereka melangkah sedikit demi sedikit sambil berpegangan tangan, dan aku terus mundur dan pergi dari tempat itu.
Satu tahun bukanlah waktu yang singkat, namun kejadian tragis itu belum bisa luntur dalam ingatannya. Masih menyimpankan sakit yang mendalam. Tiba-tiba suara ponselnya berdering dan mengusik lamunan seorang Chana yang sedang berusaha menyendiri.
“ Halo… Chana kamu sedang dimana, dari tadi belum pulang. Aku nunggu dari tadi, aku khawatir tahu..?”
“ iya Ra, aku tidak apa-apa. Sekarang aku ada di pantai. Kalau kamu mau kesini, ya kesini saja. Aku belum mau pulang”
Malam semakin gelap saja, Chana belum juga pulang. Menjadikan seorang sahabat khawatir dan segera menyusulnya ke pantai dengan perasaan was-was, tiara tetap mencarinya dalam kegelapan dan keramaian orang-orang yang masih asyik menikmati indahnya pantai Losari.
“ akhirnya aku temukan kamu juga Cha,”
“ ra, Ilham ada disini, tadi aku bertemu dengannya. Tapi aku langsung lari kesini dan tidak terkejar olehnya”
“ oh.. ilham yang buat kamu seperti ini, ya sudahlah kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri, lupakan dia semuanya. Kenangan dulu bersamanya termasuk kebencian kamu kepadanya, sudah terlalu lama kamu seperti ini, kamu harus yakin pasti dapat yang lebih baik”
“ makasih Ra, tapi mengapa kamu sendiri masih mempertahankan hubungan kamu dengan si Fey. Bukannya kamu pernah dengar kalau dia pacarnya banyak, lagi pula bisa saja benar omongan orang itu karena jarak kalian kan lumbayan jauh”
“ aku percaya kepada dia, karena aku yakin aku benar. Aku tidak peduli kalau dia bekas play boy atau apalah, yang terpenting saat dengan aku dia benar-benar serius. Tidak mungkin dia juga berbuat seperti itu kalau cinta yang kita berikan itu begitu tulus. Hanya orang yang tidak punya hati saja yang rela mencampakan orang yang tulus mencintainya, kecuali kalau dia memang tidak mencintai kita. Lagi pula aku belum pernah melihatnya sendiri tentang omongan orang, jadi jalani saja apa adanya. Kalaupun aku melihatnya sendiri aku juga akan sama seperti kamu. Namun setiap orang bisa saja berubah kalau kitanya baik, mempunyai hati yang tulus. Percayalah padaku, karena cinta itu perlu perjuangan
“ tapi apa kamu sudah tahu dia sebenarnya seperti apa, kamu belum pernah dibawa ke rumahnya kan. Trus bagaimana kalau dia dijodohkan pada wanita lain oleh orang tuanya, nanti kamu akan sakit Lho?”
“ ya jelas…, Tiara menundukan wajahnya dan berusaha kuat menghadapi kenyataan. Tapi.. aku percaya dengan Takdir yang kuasa, kalau memang itu yang terjadi, berarti dia bukan yang terbaik buat aku. Kalaupun dia jodoh aku, dia pasti bisa mempertahankan cintanya. Ya sudah kita pulang yu, Lupakanlah kebencian kamu pada Ilham, siapa tahu saja waktu berkata lain dan bagaimana kalau dia adalah jodoh kamu”
Chana berdiam diri sejenak dan meneteskan air matanya, kebencian yang tak bisa dilupakannya itu karena dia teramat mencintainya, dan tak sanggup menerima kenyataan. Dibukanya buku bersampul hijau yang memuat kumpulan-kumpulan cerita maupun puisi-puisi.
“ jika cinta sejati seringkali harus diuji dari sebuah kesendirian
Kumohon kali ini pada Tuhan untuk tidak memberi hambanya ujian
Bukan ku tidak ingin membuktikan
Hanya saja kuingin sungguh… bahagianya kurasakan
Jika cinta sejati kerapkali harus melalui beribu rintangan
Kumohon kali ini pada Tuhan untuk memberiku sedikit kelapangan
Bukan ku tidak mau berjuang dan bertahan
Niat putih juga butuh waktu untuk diwujudkan”
Dibacanya puisi tersebut dalam hati, memberikan pandangan baru dimatanya dan seulas senyum nampak di wajahnya. Putaran waktu di Pantai Losari membuat matanya berbinar, tetesan air mata mulai keluar di sudut matanya , ia menutup buku tersebut. Kali ini bukan air mata kesedihan dan bukan pula sorot mata kebencian, namun semuanya adalah ketegaran menghadapi kenyataan.
“ Tau tidak kenapa kita ada di bumi ini.?” Seorang anak kecil berambut pirang dan bermata coklat itu bertanya kepada teman-teman sebayanya yang tengah asyik berkumpul di taman bermain. Kemudian dia mulai bercerita. Kata ibu, pada awalnya kita semua adalah peri kecil yang bertugas untuk menjaga taman bunga istana langit bersama bunga-bunga, dan juga serangga-serangga sebagai makhluk kecil yang senantiasa patuh dan taat kepada yang menciptanya. Setiap pagi, bunga-bunga tersebut membangunkan sang peri dengan harum baunya yang tertiup angin, dengan sari yang di keluarkannya juga sang bunga merangsang serangga-serangga untuk segera menghampirinya. Bunga tersebut tidak pernah mengeluh walau sarinya selalu dihisap oleh serangga-serangga yang lewat, karena itu sudah kewajibannya. Sang peri tersenyum dan tetap menghibur sang bunga. Kemudian pada suatu hari ada sepasang suami istri yang berdoa agar di karuniai seorang anak yang sholeh, dengan usahanya dan atas doanya yang selalu disampaikan setiap malam dan setiap saat, maka sang kholik sebagai penguasa langit dan bumi memerintahkan peri-peri kecil untuk segera turun ke bumi dan singgah di setiap rumah yang tercium doa-doa tulus yang tetap tercurah kepada sang Kholik. Maka dari itu jadilah kita seorang anak yang hidup di bumi yang mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada Tuhan.
Tidak jauh dari mereka nampak seorang gadis manis berkerudung putih sedang duduk sambil membaca buku yang tebal. Gadis itu memberikan seulas senyum kepada anak kecil tersebut. Mereka pun membalas senyuman yang telah diberikannya. Anak kecil itu bernama Angelita. Hobinya mendengarkan cerita yang dibacakan oleh ibunya menjelang tidur. Dan karena itu pula dia jadi senang berbagi ceritanya kepada teman-temannya. Perlahan gadis berkerudung putih mendekati sekawanan anak kecil yang tengah berkumpul dan bermain-main itu. Lagi-lagi Angelita, ia bertanya kepada gadis tersebut. “ Kakak ini siapa ya, dari tadi merhatikan kami ?”.
“ iya ya… Kakak ini siapa?” Lanjut teman-teman Angelita.
“ perkenalkan, nama kakak adalah Nisa. Tadi siapa yang sudah bercerita, sepertinya seru?”
“ saya.. sambil mengacungkan tangannya, nama saya Angelita, panggil saja Ita.
“ Ita, kamu pintar sekali bercerita. Pasti ibunya yang mengajarkannya. Sekarang ibunya kemana? Kenapa tidak ikut ?”
“ ibu Ita sudah meninggal 1 tahun yang lalu, kami semua tinggal di Panti Asuhan Kasih Bunda, Kakak tahu kan ?”
“ iya Kakak tahu, maafin kakak ya sudah membuat kalian sedih dengan mengingatkan kalian kepada orang yang sudah tidak ada.”
“ tidak apa-apa ko ka, kami sudah terbiasa. Lagian masih ada ibu Yuki yang selalu menyayangi kita semua.”
“ibu Yuki itu pasti yang mempunyai dan mengelola Panti tersebut ya, kalau begitu salam saja kepada ibu Yuki, kapan-kapan kakak main ke sana. Sekarang kalian pulang , sudah sore . Nanti orang-orang Panti khawatir Lho.”
Matahari kini mulai lenyap di ufuk barat sana, senja hari pun akhirnya datang. Keceriaan anak-anak kecil itu mampu membuat tetesan air mata keluar dari mata beningnya Nisa gadis berkerudung putih yang bertemu di taman. Pertemuan mereka mengingatkan pada kejadian 7 tahun yang lalu, saat dia harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya meninggal karena kecelakaan yang mengakibatkan gadis itu menjadi anak yatim piatu, namun dia masih memiliki kakek dan nenek yang senantiasa menyayanginya. Alangkah beruntungnya dibandingkan dengan anak-anak yang ditemuinya tadi sore yang sudah tidak mempunyai keluarga. Walau demikian dia selalu saja merasa kesepian dan tidak ada teman, gadis tersebut tetap iri melihat keceriaan mereka. Mereka sudah tidak mempunyai apa-apa namun tetap tersenyum dengan tulusnya. Mereka sangat tegar menghadapi kehidupan ini. Aku jadi ingin seperti mereka, ucapnya dalam hati.
Angelita, peri kecil yang lucu mengingatkannya pada Nisa yang dulu yang senantiasa meminta bundanya untuk membacakan cerita hingga Nisa benar-benar tertidur. Sudah lama sekali tidak membaca cerita karena takut ingat pada Bunda, ternyata itu salah besar. Tidak seharusnya aku selalu sedih kalau ingat Bunda. Maafkan Nisa Bunda karena aku selalu berusaha melupakan bunda hanya untuk menghindari kesedihan. Sekarang aku sadar, karena bukan aku saja yang mengalami hal menyakitkankan seperti ini, masih banyak orang lain di luaran sana yang lebih menyakitkan namun mereka masih tetap tersenyum dan mengenang hari-harinya bersama ibunya dulu, seperti Angelita dan teman-temannya yang tinggal di Panti Asuhan Kasih Bunda.
==Rika==

Tidak ada komentar:

Posting Komentar